Nativisasi dan Politik Budaya Kolonial

Islamedia – Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Fatahillah kembali menggelar perkuliahan untuk Angkatan V pada Rabu malam (18/01) di Auditorium Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) di Kalibata Utara, Jakarta dengan mengambil bahasan tentang nativisasi. Beggy Rizkiyansah bertindak sebagai pemateri pada kuliah tersebut. Pegiat sejarah Islam Indonesia ini mengawali uraiannya dengan menjelaskan apa itu nativisasi.

Nativisasi adalah sikap atau paham suatu masyarakat atau negara terhadap budayanya sendiri untuk menangkal pengaruh dan gagasan dari luar,” ungkapnya.

Lebih spesifiknya, Beggy menjelaskan bahwa nativisasi digunakan sebagai politik budaya kolonial untuk membendung pengaruh dan gagasan dari pihak luar terutama Islam. Islam dianggap perlu dibendung karena Islam adalah satu-satunya agama menolak keras untuk berkompromi dengan kolonial.

Menurut redaktur situs jejakislam.net ini, nativisasi dilakukan di berbagai daerah di Indonesia antara lain di tanah Batak, Sunda, Jawa, Minahasa, dan Bali.

Proses nativisasi masing-masing daerah tidaklah sama, tergantung kondisi sosial masyarakatnya,” lanjutnya. Ia mencontohkan, misalnya, di tanah Batak, kaum kolonial bekerja sama dengan misionaris, sedangkan di tanah Sunda mereka tidak melibatkan misionaris karena dikhawatirkan terjadi benturan keras dengan masyarakat yang sudah lama mengenal Islam.

Beggy melanjutkan bahwa di era kekinian nativisasi digunakan individu atau sekelompok orang untuk menghilangkan identitas Islam yang melekat pada bangsa Indonesia.

Di akhir perkuliahan, Beggy menyampaikan bahwa saat ini bukan masanya kita mempertentangkan budaya Islam yang mengakar masyarakat Indonesia dengan ilmu fiqih atau syariat Islam. “Justru dengan seperti ini kita akan menghilangkan identitas masyarakat Islam di Indonesia,” pungkasnya. [dwi/islamedia/abe]

Facebook Comments