Membangun Generasi Pemenang, Mulai dari Worldview-nya

Islamedia – Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta menyelenggarakan kuliah ketiga dengan materi “The Worldview of Islam” untuk peserta Angkatan 2017 pada hari Rabu, (22/03/17), bertempat di Aula INSISTS, Gedung Gema Insani, Kalibata, Jakarta Selatan. Kuliah ketiga ini menghadirkan narasumber Dr. Wido Supraha, Dosen Pascasarjana Univ. Ibn Khaldun Bogor, dan Irfan Dzulhij sebagai moderator.

The Worldview of Islam merupakan landasan sedangkan Ghazwul Fikri, yang merupakan materi kuliah pekan lalu, adalah permasalahan. Worldview adalah pandangan hidup, maka the worldview of Islam adalah pandangan hidup Islam,” ungkap salah satu Peneliti INSISTS ini. “Seorang Muslim harus mampu memfilter atau membedakan mana ilmu dan yang bukan ketika melihat sesuatu”, tambahnya.

Dr. Wido Supraha menjelaskan makna worldview dan juga kritikan terhadap worldview itu sendiri menurut tokoh-tokoh dari berbagai negara. Materi ditutup dengan penjelasan mengenai proses lahirnya worldview Islam dalam tiga periode, yaitu periode Mekkah pertama, periode Mekkah kedua, dan periode Madinah.

Dalam worldview Islam, konsep manusia, konsep ilmu, konsep hidup, konsep dunia, dan konsep nilai semuanya bersumber dari konsep Tuhan. Konsep Tuhan-lah bangunan sentralnya, dan inilah yang menjadi pembeda dari worldview yang lain,” jelas Dr. Wido.

Islamic worldview adalah cara pandang Islam yang unik terhadap segala wujud yang dihadapi manusia dalam kehidupannya”, tambahnya lagi. “Pandangan hidup ini dibangun atas konsep-konsep dasar yang bersumber dari wahyu Allah SWT, yakni Al-Qur’an dan As-sunnah, yang akan lebih diperdalam lagi dalam materi-materi pada pertemuan selanjutnya di SPI,” pria kelahiran Medan, 29 April 1979 ini menambahkan.

Perkuliahan ditutup dengan sesi tanya jawab. Dalam sesi ini, seorang peserta menanyakan tentang apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi tantangan pada Islamic worldview dalam berbagai bentuknya.

Simbol kebangkitan salah satunya adalah pemuda. Dari sepuluh orang sahabat utama yang dijamin masuk surga, lima di antaranya memutuskan memeluk Islam pada usia muda. Ali bin Abi Thalib memeluk Islam pada usia 10 tahun, Sa’ad bin Abi Waqqash memeluk Islam pada usia 8 tahun,” ungkap pemilik website www.supraha.com tersebut. “Bagaimana kondisi kita saat usia tersebut?,” ujarnya beretorika.

Mengapa pemuda?”, tanya Dr. Wido lagi. “Karena para pemuda ini punya infrastruktur berupa tubuh yang kuat, semangat membara, emosi yang stabil, ilmu yang matang, dan akidah yang kuat,” tegasnya.

Apa yang beliau sampaikan membuat saya memikirkan sudah sejauh mana pencapaian saya menjadi pemuda seperti yang beliau jelaskan. Ah, masih sangat jauh dari ‘pemuda’ yang seharusnya. Semoga dengan ikut SPI ini bisa menempa saya menjadi pemuda yang siap menjawab tantangan Islamic worldview saat ini,” jawab salah seorang peserta ketika ditanya mengenai kesan-kesannya terhadap materi kuliah malam itu. [islamedia/aisha/abe]

Facebook Comments