‘Kebangkitan Peradaban Islam Diawali Dengan Perubahan Individu’

Islamedia – Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Bandung mengadakan kuliah kedua untuk angkatan ketiganya pada hari Sabtu, 25 Maret 2016. Bertempat di D’Best Hotel, Jalan Tengku Angkasa, Bandung, perkuliahan kedua yang dihadiri oleh 43 peserta ini diisi dengan materi ‘The Worldview of Islam’ atau Pandangan Alam Islam. Penyajian materi ini, menurut Akmal Sjafril selaku Kepala SPI Pusat, sangat penting sebelum masuk ke materi selanjutnya.

Kita akan mempelajari fenomena ghazwul fikri, yaitu perang pemikiran. Nah, untuk memahami mengapa terjadi perang pemikiran itu, kita perlu memahami adanya perbedaan worldview yang sangat jelas antara Islam dengan yang selainnya. Perbedaan-perbedaan yang sangat tajam itulah yang mengakibatkan terjadinya perang pemikiran. Ada juga cendikiawan yang mengatakan bahwa dibalik ‘clash of civilizations’ pasti ada ‘clash of worldviews’,” ujar Akmal.

Pembahasan ‘The Worldview of Islam’ ini disampaikan oleh Dr. Wendi Zarman, alumni ITB yang juga Direktur Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan (PIMPIN) Bandung. Berdasarkan pendapat para ahli, Wendi Zarman menyimpulkan bahwa Pandangan Alam Islam merupakan suatu kepercayaan yang tersusun tentang hakikat diri, realitas serta makna eksistensi yang berperan sebagai motor keberlangusngan perubahan sosial dan moral. Wendi menambahkan, “Dalam tradisi Islam, kepercayaan yang dimaksud adalah ‘aqidah atau keimanan, di mana iman sama dengan ilmu yang akan mengantarkan pada keyakinan.”

Di akhir perkuliahan, Wendi Zarman menekankan bahwa kebangkitan peradaban Islam hanya akan terjadi apabila diawali dengan perubahan individu. Sementara itu, perubahan individu harus diawali dengan perubahan pandangan hidup dari individu tersebut. “Maka dari itu, memahami worldview Islam menjadi sangat penting bagi setiap individu Muslim,” pungkasnya.

Pemaparan materi yang padat dan berlangsung secara intensif selama dua jam meninggalkan kesan yang mendalam bagi peserta. Tia Apriany Tanjung, salah seorang peserta, menyampaikan kesannya. “Materi ini membuat saya kembali sadar akan tujuan hidup sebenarnya. Salah satu poin yang membekas yaitu tentang ma’rifatullah. Ya, jelas perbedaan antara seorang yang ber-Islam dengan yang tidak. Seorang muslim sudah seharusnya menyadari bahwa hidup di dunia ini sudah memiliki tujuannya sendiri, bahkan itu sudah ditentukan sebelum ia lahir ke dunia.” [islamedia/ivanie/abe]

Facebook Comments