Dark Ages dan Trauma Berat Pada Agama

Islamedia – Bisa dibayangkan, bagaimana sikap Barat terhadap agama setelah melihat apa yang terjadi pada masa-masa yang mereka sebut sebagai Dark Ages pada abad 5-15 Masehi.” Pernyataan tersebut dilontarkan oleh Akmal Sjafril pada perkuliahan awal di semester kedua Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Fatahillah, Jakarta. Materi kuliah “Sekularisme” disampaikannya di Gedung INSISTS, Jl. Kalibata Utara II No. 84, Jakarta, pada Rabu (11/01).

Menurut penulis buku Islam Liberal 101 ini, pada era tersebut telah terjadi kemunduran kualitas hidup dan nilai moral yang luar biasa di wilayah bekas Romawi Barat, yaitu Eropa. Pada saat itu justru Gereja sedang menghegemoni, yang artinya Gereja memiliki andil besar dalam kemunduran.

Penyiksaan oleh Inkuisisi banyak terjadi pada jaman ini kepada siapa saja yang tidak sepaham dan patuh kepada Gereja. Salah satu alasannya adalah karena Gereja sering tidak sejalan, tidak mampu menjelaskan atau bahkan bertentangan dengan sains. Karena itu, contohnya, siapa saja yang mengatakan bahwa Bumi mengelilingi matahari maka ia akan di siksa,” terang Akmal.

Ketidakadilan juga terlihat dari banyaknya korban perempuan, karena perempuan dapat dengan mudah menerima tuduhan sebagai penyihir. Jika sudah dituduh demikian, maka ia akan menjalani serangkaian penyiksaan yang sangat berat.

Kerusakan moral serta tidak mampunya Gereja untuk berdampingan dengan sains menjadi beberapa hal yang menyebabkan Barat ‘trauma’ dengan agamanya sendiri sehingga lahirlah sekularisme. [alfan/islamedia/abe]

Facebook Comments