Kisah Mantan Wamen Denny Indrayana Bekerja Sebagai Sopir di Australia

Denny Indrayana Bersama Istri Tercinta Ida Rosyidah dan Anaknya : Varras, dan Varis. (Foto: Varras/istimewa)Denny Indrayana Bersama Istri Tercinta Ida Rosyidah dan Anaknya : Varras, dan Varis. (Foto: Varras/istimewa)

Islamedia – Publik Indonesia sempat dikejutkan dengan informasi bahwa salah seorang mantan Wakil Menteri (Wamen) era Pemerintahan Soesilo Bambang Yudhoyono saat ini menjalani profesi sebagai sopir. Wamen tersebut adalah Denny Indrayana.

Berikut ini penjelasan lengkap langsung dari Denny Indrayana yang dipublikasikan melalui situs kumparan.com, senin, 23 Januari 2017.

Mantan Wamen Nyupir, Why Not?

Berita saya menjadi supir di Melbourne rupanya sedikit menjadi viral di media sosial. Semoga bisa menjadi selingan di tengah kesumpekan demo dan intrik politik yang sedang marak, sekaligus menggelisahkan di tanah air.

Setelah tulisan tersebut naik di salah satu media online, banyak sekali pesan singkat masuk ke hape dan akun medsos saya dan istri. Kebanyakan memberikan apresiasi. Beberapa mengkarifikasi. Tidak percaya, “Apa benar nyupir mas? Rasanya nggak percaya”. Beberapa menanggapi miring.
Wajar. Mustahil satu isu ditanggapi seragam. Perbedaan pandangan adalah keniscayaan. Sebagaimana Indonesia yang beragam suku dan agama adalah sunatullah. Profesor Mahfud, mantan Ketua MK, memberi apresiasi di akun cuitannya, “Sahabatku Denny melakukannya dengan tabah & gagah”.

Rekan Lin Che Wei di akun FB-nya menyampaikan respek. Saya memang sempat berencana bekerja bareng dengannya untuk menjadi Staf Khusus membantu Menteri Sofyan Djalil yang kala itu menjabat Kepala Bappenas. Sayangnya, rencana itu tidak sempat berjalan. Saya keburu harus ke Melbourne. Undangan untuk menjadi Visiting Professor di University of Melbourne (Australia) sebenarnya sudah saya terima sejak awal tahun 2015. Tetapi karena perlu konsentrasi dengan kasus inovasi pembayaran paspor secara online (payment gateway), saya menunda keberangkatan itu sampai awal April 2016. Jadi saya tinggal di Melbourne sebenarnya adalah sebagai Profesor Tamu pada Melbourne Law School dan Faculty Arts, dua fakultas di Universitas Melbourne, yang berkenan memberikan posisi terhormat itu, meski mereka paham betul ada masalah hukum yang sedang menjerat saya di Tanah Air.

Saat ini, Universitas Melbourne kembali memperpanjang posisi Visiting Professor itu paling tidak sampai akhir tahun 2017. Bahkan mereka juga menawarkan saya untuk menjadi pengajar tetap minimal dua tahun ke depan, hingga tahun 2019. Saya sedang mempertimbangkan tawaran itu dan memproses izin kerjanya dari tanah air. Nah, soal menjadi sopir sebenarnya kerja selingan sejak akhir tahun lalu. Meski ketika ditanya beberapa rekan, secara guyon saya menjawab, “full time nyupir, part time nDosen”.

Kebetulan rekan Dodi yang punya usaha travel sedang liburan di Tanah Air, jadi dia butuh sopir pengganti. Lalu, seperti biasa bulan Desember dan Januari, kegiatan akademik di kampus Melbourne University sedang libur. Karena tidak terlalu sibuk, why not? Selain menolong usaha kawan, tambahan rezekinya juga lumayan. Cukuplah untuk menambah kepulan asap dapur.

Meskipun karena pernah menjadi mantan Wakil Menteri, tamu yang saya supiri menjadi berfikir keras untuk ngasih tips. Ada tamu, yang bilang, “Waduh mau ngasih tips, takut nggak pantes”. Padahal, saya ngarep, he-he…

Yah, risiko mantan wamen jadi sopir, tamunya jadi kagetan. Padahal, sayanya mah santai aja. Enjoy dan happy. Tamu yang saya layani beragam. Ada pejabat pemerintahan, anggota DPR, perwira Polri, turis, dan lain-lain. Bagi saya nyupir sama sekali bukan pekerjaan rendahan. Sejak dulu sekolah doktoral di Melbourne Law School pada 2002—2005, saya sudah terbiasa kerja kasual. Dulu saya dan istri memburuh di Pasar Victoria dan membagikan majalah gratis mingguan City Weekly di perempatan lampu murah pusat kota Melbourne. Kalau sedang membagi majalah gratisan itu, saya berdiri di salah satu sudut lampu merah, membagikan majalah kepada pejalan kaki yang hilir mudik.

Karena agak bosen berdiri lebih kurang dua jam, saya membagikan sambil bersenandung. Bukan sembarang lagu. Supaya tetap ceria, saya sengaja memilih lagu dangdut. Iya, dangdut. Sambil sedikit bergoyang nikmat, saya lantunkan lagu-lagu dangdut yang saya hapal. Mumpung para bule yang lewat tidak tahu lagunya, sehingga tidak bisa protes suara sumbang saya yang nadanya kemana-mana. Para bule yang lewat rata-rata terenyum, entah kenapa.

Untungnya belasan tahun yang lalu itu, saya belum jadi Wamen. Kalau tidak, goyang dangdut dan suara fals-cempreng saya itu bisa jadi video, jadi berita dan mem-viral juga.

Soal sikap luwes dan tidak malu bekerja halal apa saja ini adalah salah satu pelajaran hidup yang ditanamkan ayah saya almarhum Acep Hidayat dan ibunda tercinta Titien Sumarni. Sewaktu saya masih di Sekolah Dasar, kami tinggal di kota kecil Banjarbaru, 36 kilometer dari Banjarmasin, ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan. Saat itu, ayah saya sedang tugas belajar di Universitas Lambung Mangkurat. Untuk menjaga dapur tetap mengepul, ayah tidak jarang ngojek.

Waktu itu tahun 1980-an caranya mudah. Kalau ada orang naik motor pakai topi (belum wajib helm), maka berarti yang bersangkutan adalah tukang ojek. Almarhum ayah juga membeli taksi angkot. Biasanya di waktu senggang, seringkali akhir pekan, saat saya tidak sekolah, ayah saya menyupir angkot dan saya jadi kernetnya. Jadi suara cempreng saya mendangdut di atas, salah satunya hasil latihan teriak tujuan trayek angkot sewaktu saya SD.

Waktu SD juga, saya dilatih orang tua berwirausaha. Pernah saya jualan es mambo. Saya ke sekolah membawa termos pendingin yang sudah diisi es buatan ibu, yang lalu dititipkan di kantin sekolah. Besarnya termos es itu hampir sama dengan tubuh kecil SD saya waktu itu. Bener lho, saya pernah kecil dan kurus, sumpah! Sekarang memang agak berisi dan gemukan.

Almarhum ayah yang meninggal tahun 2013 memang menanamkan sikap legowo dan kuat bertahan hidup, siap dalam kondisi terbatas seperti apapun. Misalnya, suatu ketika beliau berujar, “Lebih baik makan nasi dengan garam ketika bisa makan dengan lauk daging. Karena rasanya akan beda sekali dan jauh lebih nikmat, ketimbang makan nasi dengan garam karena terpaksa, sebab memang tidak ada lauk lain”. Beliau ingin menyiapkan kami anak-anaknya untuk siap bertahan hidup dalam kondisi apapun.

Nasihat itu cukup terpatri dalam di hati saya. Alhamdulillah, Allah mengkaruniakan saya dan keluarga dengan rezeki yang tidak berlimpah, namun juga tidak kekurangan. Kami cukup. Namun kami juga tidak kagetan, nggak gengsian, kalau harus melakukan kerja-kerja sampingan jadi buruh pasar ataupun sopir travel. Apalagi, meskipun berbeda lingkup kerjanya, jadi Wamenkumham dan sopir tetap mempunyai tanggung jawab besar. Menjadi wamen, banyak persoalan Hukum dan HAM yang menantang untuk diselesaikan. Menjadi sopir, nasib dan nyawa penumpang berada di bawah .

Keduanya punya andil tidak kecil, dalam dimensinya masing-masing. Bekerja apapun yang penting kita nikmati sepenuh hati, kerjakan dengan prosesional, penuh tanggung jawab, dan jangan lupa: terus jaga integritas. Yang penting bukan korupsi! Jadi kenapa harus malu? Lalu, kalau saya menulis soal antikorupsi, biasanya ada satu-dua komen, “Ambilin cermin besar aja”. Wajar, karena yang komentar lalu ingat kasus inovasi pembayaran paspor secara online (payment gateway) yang masih saya hadapi.

Pada tulisan kali ini, saya tidak akan menjelaskan soal kasus tersebut. Mungkin lain kali. Tetapi mohon perkenan sidang pembaca untuk mengklik tautan ini. Untuk sedikit lebih memahami detail kasus tersebut. Saya bersyukur beberapa tokoh antikorupsi tetap memberikan dukungan tanpa henti. Selain Profesor Mahfud yang terus menguatkan, dan sempat pula mengunjungi kontrakan saya di Melbourne. Ketua KPK Agus Rahardjo, mantan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto, Profesor Saldi Isra, Zainal Arifin Moctar (Ketua Pukat Antikorupsi UGM), Adnan Topan Husono (Koordinator ICW) dan rekan Bivitri Susanti (Pengajar Jentera Law School) adalah di antara sedikit tokoh antikorupsi yang berkenan hadir dan menjadi pembahas dalam peluncuran buku saya, “Jangan Bunuh KPK” pada akhir tahun lalu.

Kehadiran tokoh antikorupsi sekaliber mereka, di tengah kasus korupsi yang saya hadapi, tentu adalah merupakan kehormatan dan dukungan yang sangat berarti. Jadi, mantan Wamen nyambi nyupir, why not?

Saya setuju dengan salah satu komentar di FB. Katanya, “saya lebih respek berita mantan Wamen jadi sopir ini, ketimbang beritanya ada mantan pejabat yang ongkang-ongkang tinggal di luar negeri, karena rezekinya yang didapat entah darimana tidak habis-habis tujuh turunan”. Saya bersyukur, rezeki kami cukup, halal, dan bersih dari korupsi. Yang lebih penting lagi, saya bersukur punya keluarga yang juga santai dan enjoy. Kedua anak saya Varis dan Varras tersenyum saja membaca banyak komentar bingung karena mantan wamen nyambi nyupir. Kalau bahasa ABG sekarang, so what gitu lho…

Bagaimana dengan istri saya Ida Rosyidah. Malukah dia? Lain kali bapak-ibu ke Melbourne silakan kontak saya, nanti saya sopiri, dan pertanyaan itu silakan ditanyakan langsung ke sang mantan pacar. Karena Bunda Os biasanya duduk manis di kursi samping supir, menjadi kernet saya. Jadi, mantan wamen nyambi nyupir, why not? Apalagi bisa sambil pacaran dengan kernetnya yang imut dan manis. Keep on fighting for the better Indonesia. (*)

Denny Indrayana

Full-Time Nyupir Part-Time nDosen Guru Besar UGM (Yogyakarta) dan Universitas Melbourne (Australia)
Dipublikasikan pertama di kumparan.com

[islamedia]

Facebook Comments

You may also like