Agar Ramadhan tak Sekadar Cerita

Islamedia  Hari ini adalah hari ke-14 Ramadhan. Kita telah memasuki babak pertengahan, putaran kedua 10 hari Ramadhan. Karena Ramadhan hanya 29 atau 30 hari, maka masih tersisa 15 atau 16 hari lagi Ramadhan. Selepas itu, Ramadhan dengan segala limpahan pahala dan rahmat, ampunan dan keberkahan yang ada di dalamnya akan pergi meninggalkan kita.

Saudaraku, di separuh waktu Ramadhan ini, bertekadlah sekuat-kuatnya untuk memaksimalkan ibadah mengejar pahala berlipat-lipat di bulan ini. Berazamlah dengan niat ikhlas dan tulus menjalani seluruh rangkaian ibadah Ramadhan agar terhapus dosa-dosa kita yang menumpuk selama ini.

Ingatlah saudaraku, cepat atau lambat Ramadhan akan meninggalkan kita. Dan jangan sampai saat Ia pergi, tidak meninggalkan kebaikan apa pun pada diri, keluarga, teman dan sekitar kita. Saat Ramadhan pergi, tidak ada satu kebaikan pun yang kita dapatkan. Jangan sampai Ramadhan hanya sekadar cerita tanpa arti.

Jangan sampai, saat Ramadhan pergi segalanya kembali ke awal. Tidak ada lagi cerita tentang obral pahala. Tidak ada lagi cerita amalan wajib yang dilipatgandakan berpuluh-puluh kali lipat. Tidak pula ada amalan sunnah yang diberi ganjaran seperti ganjaran melaksanakan ibadah wajib.

Jangan sampai, semuanya kembali ke awal. Tidak ada lagi cerita tentang malam yang lebih baik dari seribu bulan. Tidak ada lagi shalat Tarawih yang dihadiri ratusan orang di masjid atau mushalla sekitar rumah kita. Pasca Ramadhan, masjid dan mushalla kembali sepi. Selepas Ramadhan, kuliah tujuh menit (kultum) di masjid dan mushalla, lenyap tanpa bekas.

Jangan sampai, segalanya kembali ke semula. Tak ada lagi cerita tilawah dan tadarus al-Qur’an sepanjang waktu, setiap shalat wajib atau ketika ada waktu kosong. Tidak ada lagi cerita tentang target khatam Qur’an 2,3 atau 4 kali selama sebulan.

Bahkan, jangan sampai, tidak ada lagi cerita tentang ibadah keshalehan sosial. Tidak ada lagi cerita tentang infaq, shadaqah, zakat yang rutin, setiap waktu dan tak tertakar yang kita keluarkan untuk saudara kita. Kini, amalan sosial itu kembali terukur dan tertakar.

Seperti itulah kebanyakan kita saat ini, pasca Ramadhan. Semuanya kembali ke awal. Semuanya kembali ke semula. Semuanya kembali terukur dan tertakar. Amal infiradi (amal pribadi) dan amal jama’i (amal sosial) kita kembali ke semula, ke sebelum Ramadhan tiba. Minim amal shaleh. Jariah yang terukur dan tertakar.

Pasca Ramadhan, sangat sedikit dari kita yang mampu bertahan dan istiqamah menjaga kualitas dan kuantitas amal ibadah. Sebaliknya, banyak dari kita yang justru kembali ke awal, tidak mengalami perubahan. Bahkan, tidak jarang pula yang malah terjun bebas pasca Ramadhan. Secara kuantitas dan kualitas, amal ibadah mereka lebih buruk dari sebelum datangya bulan Ramadhan. Semoga kita terhindar dari yang terakhir ini, aamiin.

Adakah yang salah pada Ramadhan? Jawabannya, tentu saja tidak ada yang salah dengan Ramadhan. Ia, Ramadhan adalah bulan mulia. Bulan yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan penuh maghfirah (ampunan), rahmat dan pembebas dari api neraka. Di bulan ini, Ilahi Rabbi melipatgandakan semua amalan, baik yang wajib maupun yang sunnah.

Kalaulah ada yang patut disalahkan, itu adalah diri kita sendiri. Kita lalai, lupa dan abai kepada Ramadhan. Kita tak menjadikan Ramadhan sesuatu yang istimewa untuk kita, keluarga, teman, kolega dan sekitar kita. Kita pun lalai menjadikan Ramadhan sebagai bulan untuk memperbaiki, mengasah dan meningkatkan amal ibadah kita kepada-Nya.

Kita luput menjadikan Ramadhan sebagai bulan untuk menghapus dosa-dosa kita yang menumpuk selama ini. Dan kita juga lewat menjadikan kehadiran bulan mulia itu sebagai tempat menempa iman dan keyakinan kita kepada-Nya. Karena itu, sumpah serapah dan tudingan miring di atas pantaslah jika kita peroleh karena melalaikan kesempatan baik untuk memperbaiki iman, amal dan menghapus segala dosa di bulan penuh ampunan dan berkah, Ramadhan.

Bulan Ramadhan ibarat terminal pom bensin bagi kita. Mereka yang singgah dan kemudian mengisi bahan bakar yang cukup dan memadai di pom bensin Ramadhan ini, insya Allah selamat dalam perjalanan. Selama sebelas bulan, mereka akan terbimbing kepada keshalehan dan insya Allah akan sampai ke terminal pom bensin Ramadhan satu tahun akan datang.

Sedangkan mereka yang menjumpai pom bensin Ramadhan, namun tidak full mengisi diri dengan bahan bakar Ramadhan. Bahkan, tidak mengisi sama sekali bahan bakar karena acuh tak acuh dengan terminal pom bensin Ramadhan, mereka bakalan akan terhenti dan tersendat-sendat di tengah jalan. Karena kehabisan bahan bakar, mereka akan kepayahan dan nyaris tidak bisa sampai tujuan, Ramadhan satu tahun akan datang.

Usia bukanlah milik kita. Jika seluruh manusia yang berada di kolong dunia ini dikumpulkan. Kemudian ditanya siapa di antara mereka yang bisa memastikan bakal bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan, pastilah tidak akan ada dari mereka yang akan mengacungkan tangan. Sebab, hanya Dia, Ilahi Rabbi, penguasa jagad alam semesta beserta isinyalah pemilik setiap umur manusia.

Karena itu, saudaraku, jangan tunggu lagi hari esok. Detik ini juga mintalah ampunan atas segala dosa yang telah kita perbuat selama ini kepada-Nya. Mulai hari ini, basuhlah muka kita dengan air wudlu, kemudian bersujud pasrahlah kepada-Nya, Rabbi pemilik nyawa setiap manusia.

Hari ini, dengan ikhlas karena Allah, menangislah di hadapan-Nya. Basahi pipi kita dengan air mata pertobatan kepada-Nya. Mulai saat ini, pupuk dan peliharalah iman yang ada dalam diri kita dengan amal kebajikan sehingga ia tumbuh dan berkembang dengan baik dalam diri kita.

Saat ini, tumbuhkan tekad yang kuat dalam diri kita untuk tidak lagi kembali menjalani perbuatan keji yang justru akan menambah berat dosa dan catatan amal buruk kita kelak di akhirat. Ya Rabbi, mudahkan dan bimbinglah kami agar selalu berada di jalan-Mu yang lurus hingga malaikat maut menjemput.

Rivai Hutapea

Facebook Comments

You may also like

Mengapa Gagal Target Tilawah Al-Qur’an Ramadhan?

Islamedia – Ramadhan sudah lebih dari 10 hari