Operasi Penangkapan Almarhum Siyono Janggal, KontraS: Densus 88 Dana Banyak, Tapi Ngeprint Surat Saja Tidak Bisa

PONTIANAK, 23/9 - TANGKAP TERORIS MELAWI. Sejumlah anggota Densus 88 Antiteror menggiring terduga teroris, Anggri Pamungkas (tengah) turun dari rantis Baracuda, saat tiba di Mapolda Kalbar, Minggu (23/9). Tim Densus 88 Antiteror membekuk seorang terduga teroris bernama Anggri Pamungkas (19) asal Laweyan, Surakarta, di perkebunan kelapa sawit di Desa Bloyang, Kecamatan Belimbing, Kabupaten Melawi, Kalbar pada Sabtu (22/9). Anggri Pamungkas yang diduga terkait dengan jaringan terorisme asal Solo tersebut, masuk ke Kalbar melalui pintu pelabuhan laut. FOTO ANTARA/Jessica Helena Wuysang/Koz/mes/12.

Ditemukan pelanggaran atas operasi yang dilakukan Densus 88 terkait kasus kematian Siyono, diantaranya adalah tidak adanya surat dalam proses penangkapan dan penggeledahan yang membuat upaya paksa itu adalah sah.

Demikian hasil pemantauan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) atas proses penangkapan yang dilakukan Densus 88 terhadap almarhum Siyono, dengan memperhatikan standar aturan di bidang hukum pidana, hukum HAM, dan hukum prosedur khusus penanganan terorisme.

Diungkapkan Staf Divisi Hak Sipil dan Politik KontraS, Satria Wirataru, bahkan verita acara penyitaan tidak ada pada keluarga.

“Bahkan berita acara penyitaan tidak ditemukan kepada keluarga. Jadi tidak ada hal apapun yang bisa dilakukan keluarga untuk meminta pertanggungjawaban,” ujarnya.

“Padahal di dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) hal itu menjadi kewajiban daripada penyidik yang melakukan upaya paksa,” terangnya, dikutip dari Hidayatullah.

Saat keluarga mendapatkan kabar tentang kematian Siyono, dan meminta untuk segera mengambil jenazah korban, ungkap Satria, tidak adanya penjelasan terkait penyebab kematian yang disampaikan kepada keluarga.

Dalam konferensi pers di kantor KontraS, Jl. Kramat II No.7, Jakarta Pusat, Sabtu (26/03/2016), Satria juga menambahkan, istri korban, yang menjemput jenazah korban saat itu hanya diminta menandatangani berita serah terima jenazah.

“Sekali lagi, tidak adanya penjelasan apapun kenapa dan bagaimana korban bisa meninggal. Sama halnya ketika ditangkap, tanpa penjelasan apapun,” katanya.

Selain itu, ada upaya intimidasi juga yang dilakukan pihak Polres Klaten dan kepala Dusun kepada kepada ayah almarhum Siyono.

Satria juga heran Densus tidak bisa memenuhi hal sederhana seperti surat penangkapan, penggeladahan.

“Dengan dana yang begitu banyak, hanya untuk mengprint surat saja tidak bisa. Kami melihat semangat penanggulangan terorisme ini tidak dibarengi dengan akuntabilitas, nah ini sangat berbahaya,” tambahnya. [hidayatullah/islamedia]

Facebook Comments

You may also like

Totalitas Hijrah, Eggy John Hilangkan Tato di Tubuhnya

Islamedia – Keputusan jalan hijrah dan lebih dekat