Memilih Jalan Shaleh

Ilustrasi (plus.google.com)

Islamedia – Menelusuri hidup Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, salah satu imam mahzab, tak akan pernah berhenti, kecuali pada kebaikan dan amal shalehnya. Sejak kecil, remaja, dewasa hingga masa tua hidup mereka bertaburan dengan kebajikan. Selalu memberi manfaat besar bagi banyak orang, baik saat mereka masih hidup, maupun hingga jasad mereka telah menyatu dengan tanah ratusan tahun silam.

Soal ibadah dan keshalehan pribadi, Imam Ahmad rahimahullah tak kalah dengan Sang Guru Imam Syafi’i rahimahullah. Keshalehan, kecerdasan, kedermawan, kedalaman ilmu syariat dan agama Imam Ahmad seakan mewarisi kecerdasan dan keluasan ilmu Sang Guru Imam Syafi’i.

Di antara imam mahzab, Imam Ahmad dikenal imam yang kuat memegang teguh prinsip dan keyakinan Islam. Bak baja yang kokoh, keteguhannya memegang keyakinan dan prinsip Islam tidak mudah dibengkokkan dengan tawaran kesenangan dunia, kedudukan terhormat, bahkan dengan ketenaran dunia.

Tawaran hadiah melimpah dari penguasa tak henti-hentinya datang ke beliau untuk meluluhkan sikap dan ketegasan beliau. Namun, ulama yang dikenal zuhud ini lebih memilih hidup sederhana daripada harus berkompromi dengan ketidakbenaran dan ketidakadilan.

Ancaman penguasa zalim, tidak pernah sedikit pun membuat dirinya merasa gentar, apalagi mundur dalam menegakkan kebenaran Islam. Sebagai ulama shaleh yang taat, rasa takutnya diletakkan pada posisi yang benar. Dirinya hanya takut pada kepada Allah, Tuhannya dan hanya takut bila dirinya melanggar aturan Allah dan Rasul-Nya.

Sikap tegas Imam Ahmad ia tunjukkan ketika menolak keras berkompromi dengan Khalifah al-Makmun yang berusaha memaksakan pemikiran Mu’tazilah masuk ke dalam negara dan masyarakat. Saat banyak ulama berpura-pura menerima tawaran khalifah, Imam Ahmad malah berkebalikan, menentang keras keinginan khalifah karena menganggap ajaran Mu’tazilah menyimpang dari Islam.

Karena menolak berkompromi, Imam Ahmad pun disiksa dan dipenjarakan. Penyiksaan yang dilakukan pihak pemerintah kepada Imam Ahmad saat itu, amatlah keji. Saking kerasnya siksaan tersebut, beberapa kali ia pingsan. Orang-orang yang menyaksikan kekejian itu pun berkomentar, gajah pun tidak akan bisa bertahan jika menerima siksaan seperti Imam Ahmad saat itu.

Imam Ahmad benar-benar sosok yang menginspirasi umat, saat itu, hari ini, bahkan hingga masa depan. Berkaca pada Imam Ahmad, terlalu murah bila kita mengorbankan akidah demi mengikuti keinginan penguasa. Terlebih lagi bila keinginan penguasa yang dipaksakan tersebut, bertolak belakang dengan prinsip dan ajaran Islam yang lurus.

Seperti halnya Imam Ahmad, seyogianya, sebagai umat Islam, kita teguh memegang prinsip dan ajaran Islam, tanpa terkecuali. Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw sepatutnya didahulukan ketimbang ketentuan dan aturan lain. Tak berhenti sampai di situ, Qur’an dan Sunnah kudu menjadi landasan berpikir, berpijak dan bertindak dalam setiap aktivitas kehidupan kita.

Sudah menjadi sunatullah, memilih jalan shaleh tidaklah mulus seperti halnya tol Jagorawi. Sebaliknya, ia seperti menaiki sebuah gunung yang kadang naik, kadang pula turun. Berlika-liku, mengular dan di samping kiri kanan ditemani jurang yang terjal. Namun, dari jalan yang mengular dan terjal inilah, orang-orang shaleh mengenyam manisnya iman.

Bila demi memegang teguh Islam Imam Ahmad rela disiksa dan dipenjara. Lantas, bagaimana dengan kita? Siapkah kita memilih jalan shaleh seperti Imam Ahmad?

Ahmad Rivai Hutapea

Facebook Comments

You may also like

Totalitas Hijrah, Eggy John Hilangkan Tato di Tubuhnya

Islamedia – Keputusan jalan hijrah dan lebih dekat