Masjid Ibrahimi Palestina, Terancam Yahudisasi Israel

Masjid Ibrahimi, Palestina (imemc.org)

Islamedia – Masjid Ibrahimi, situs Islam terpenting kedua di Palestina terletak di jantung kota Hebron. Namun masjid ini kini berada di ujung tanduk karena berada antara godam yahudisasi dan gurita pemukiman israel yang menyebar bagai kanker yang akan mengubah kota Hebron atau Khalil (kota Kekasih Allah) Ibrahim menjadi mimpi buruk yang mengerikan.

Sejak Israel menjajah kota Hebron tahun 1967 hingga sekarang, masjid ini menghadapi agresi sengit, berupa usaha penghapusan peradaban dan perang peninggalan bersejarah dari aggressor penjajah zionis. Tahun 1994, jamaah shalat warga Palestina mengalami pembantaian menakutkan yang menewaskan 40 orang syahid dan puluhan luka.

Meski masjid Ibrahimi memiliki kedudukan agama bersejarah dan juga politis, namun dunia bungkam ketika harus menjadi target serangan yahudisasi setiap hari.

Sepanjang Sejarah

Akar sejarah masjid Ibrahim ditemukan dalam eksiploedia sejarah. Dr. Adnan Abu Nabatah, guru besar Islam dan pakar sejarah Al-Quds dan Hebron menyebutkan kepada Pusat Informasi Palestina bahwa kisah masjid ini dimulai sejak kedatangan Nabi Ibrahim Alaihissalam.

“Dan kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Luth ke tanah yang kami berkahi di dalamnya bagi seluruh alam” (Al-Anbiya’” 71)

Tanah Hebron ini saat itu dihuni oleh bangsa Arab dan Kan’an. Selama bertahun-tahun Ibrahim menjadi tamu di sana. Ada ikatan kuat antara Ibrahim dengan kota yang dinamakan dengan gelar nabi Ibrahim yakni Khalil (kekasih Allah).

“Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih”

Di gua di bawah masjid, Ibrahim membuat kuburan istrinya Sarah 3800 tahun lalu. Di sana juga dikubur Nabi Ibrahim, Nabi Ishak dan istrinya, Nabi Ya’kub dan istrinya seperti data sejarah.

“Kaum muslim ketika menaklukan negeri ini (Palestina) mereka meninggikan pagar kota dan shalat di tempat tersebut dan menjadikannya sebagai masjid. Di masa Bani Umaiyah, kaum muslimin membangun atap untuk masjid ini dan mulai menunaikan shalat Jumat di sana.”

Peneliti sejarah Abu Tabanah mengisyaratkan, banyak studi sejarah menegaskan, gua tersebut terancam longsor oleh berjalannya waktu dan tertumpuk oleh batu, tanah, batang, rumput dan kotoran. Karena itu, Nabi Sulaiman kemudian membangun pagar. Pagar itu dibangun dari batu besar yang bisa dilihat jika berkunjung ke masjid tersebut dimana akan terlihat ada batu sepanjang 10 meter dan lebar lebih dari 2 meter.

Dr. Abu Tabanah melanjutkan, kaum muslim ketika menaklukan negeri ini (Palestina) mereka mereka meninggikan pagar kota dan shalat di tempat tersebut dan menjadikannya sebagai masjid. Di masa Bani Umaiyah, kaum muslimin membangun atap untuk masjid ini dan mulai menunaikan shalat Jumat di sana.

Masjid Nabi Ibrahim Dalam Cengkraman Penjajah Salib

Dr. Abu Tabanah mengisyaratkan, kota Hebron (Khalil) di tahun 492 Hijriah menjadi sasaran bencana perang Salib. Mereka pun menguasainya dan mengubahnya menjadi Patriarkat penting di Palestina. Ia menjadi salah satu tempat penting para rahib dan para Paus sehingga mereka sebut sebagai Santa Abraham. Nama ini mereka gunakan untuk masjid tersebut hingga 90 tahun sampai datang Shalahuddin Al-Ayyubi yang membebaskan Palestina dan kota-kota termasuk Hebron. Benteng kaum Salib yang mereka bangun dirobohkan. Shalahuddin juga membangun sekolah di sebelah barat masjid Nabi Ibrahim dengan sekolah Yusufiah.

Urgensi Agama

Masjid Nabi Ibrahim memiliki kedudukan umat Islam sepanjang jaman. Sebab ia menjadi tempat tinggal sejumlah nabi meski versi sejarah beragam. Mufti wilayah Hebron Syekh Muhammad Mahir Muswadi menegaskan hal tersebut kepada Pusat Informasi Palestina. Penamaan kota ini dengan Khalil (oleh Israel diubah menjadi Hebron) adalah penisbatan karena adanya Nabi Allah Ibrahim di sana. Meski tidak ada bukti pasti adanya makam Nabi Ibrahim di sini, namun dari generasi ke generasi sejarah mencatat kemungkinan besar benar adanya.

Syekh Muswadi, “Urgensi agama tempat ini karena ada kakek para Nabi dan muslim pertama dan kami bangga dengan nama kota yang yang dinisbatkan kepada Nabi Ibrahim”.

Ia menegaskan, shalat di Masjid Nabi Ibrahim pahalanya sama dengan pahalanya di masjid lain. Namun pahalanya pasti bertambah jika berjuang untuk tegar dan menjaganya karena masjid ini terancam dan menjadi sasaran ketamakan Yahudisasi dan penjajah. Maka shalat di sana bagian dari ribath (berjaga).

Allah berfirman,

‘dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.’

Manusia manapun dari penduduk Hebron (Khalil) pergi shalat di sana maka dia menerapkan makna ribath (berjaga) yang hakiki jika dia berniat secara murni.

Masjid atau Al-Haram?

Masjid di Hebron ini disebut dengan nama Al-Haram. Padahal hakikatnya al-Haram hanya ada di Makah yakni Masjidil Haram. Masjid-masjid lain disebut Al-haram sebagai penghargaan dan penghormatan terhadap tempat tersebut.

Mufti Muswadi menambahkan, 700 tahun lalu, pernah berkunjung ke kota Hebron ini Taqiyuddin As-Subki, hakimnya para hakim. Dia datang dari Mesir atas undang Burhanudin Ja’bari, ahli taqwa dan wara’. Saat itu ia shalat di sana menyebutnya Al-haram sebagai penyebutan urf (tradisi) bukan secara syar’i.[Islamedia/infopalestina/YL]

Facebook Comments

You may also like

Pernah Hutang Riba 2,1 Miliyar, Inilah 8 Langkah Cara Melunasinya

Islamedia – Pengusaha sukses asal Yogyakarta bernama Saptuari Sugiharto