Surat Terbuka Pengguna ECCT untuk Menteri Kesehatan

Surat Terbuka Pengguna ECCT untuk Menteri Kesehatan

Islamedia – Sinta Rini yang merupakan salah seorang pengguna alat terapi kanker Doktor Warsito Purwo Taruno berupa Electro Capacitive Cancer Treatment (ECCT) mengungkapkan kekecewaanya terhadap keputusan Kementerian Kesehatan.

Melalui akun Facebook pribadinya, Rini menuliskan Surat Terbuka yang ditujukan kepada Menteri Kesehatan Prof. Dr. dr. Nila F Moeloek, SpM(K).

Yth. Ibu Menteri Kesehatan,

Membaca hasil review ECCT yang diumumkan di konferensi pers kemarin, rasanya ingin sekali saya tidak percaya. Rasanya ingin sekali saya salah lihat.

Di poin no 5, jelas bahwa ternyata Ibu memilih untuk memaksa kami semua, atas nama uji klinis yang luar biasa diagung-agungkan dan tidak bisa diganggu gugat itu, untuk menyembuhkan kanker kami dengan cara yang Ibu pilihkan. Bukan dengan cara yang kami yakini, dan atas pertimbangan kami masing-masing. Bu, tidak semua orang mau operasi dan/atau kemo dan/atau radiasi. Tidak semua orang mampu lahir dan batinnya. Tidak semua orang yakin. Tidak semua orang kondisinya memungkinkan. Dan yang pasti Ibu juga tahu, tidak semua orang tubuhnya merespon dengan baik pada terapi konvensional. Kami selama ini memilih terapi -baik medis maupun non medis- yang kami yakini baik untuk tubuh kami, dengan berbagai pemikiran, pertimbangan pribadi dan risiko yang tentu saja kami tanggung sendiri.

Kami bukan orang bodoh, Bu. Sekarang Ibu memaksa memilihkan terapi untuk kami semua, ribuan pengguna ECCT, risikonya siapa yang menanggung Bu?

Silakan lakukan penelitian sesuai prosedur, karena kami juga yakin usai uji klinis nanti insyaAllah ECCT akan menjadi solusi besar di masa yang akan datang. Hanya saja, kenapa kami, (yang memiliki sel kanker saat ini dan bukan nanti setelah uji klinis selesai bertahun-tahun kemudian) disuruh menunggu sampai prosedur penelitian selesai dan tidak boleh mengakses ECCT saat ini? Kenapa sih ECCT begitu ‘mengusik’ sementara pengobatan alternatif lainnya tidak? Begitu sulitnya kah pemerintah memperlakukan ECCT seperti hal nya terapi non medis lainnya yang bebas diakses di luar sana? Samakan saja dengan perlakuan pada terapi herbal, terapi tradisional, terapi energi, terapi apapun namanya yang menyatakan bisa membantu menyembuhkan kanker dan bisa tetap leluasa melayani penyandang kanker. Kami sangat yakin Pak Warsito tidak keberatan.

Tahukah Ibu, berapa banyak pengguna ECCT yang saat ini stres berat dan harus terapi psikis karena apa yang selama ini mereka ikhtiarkan tiba-tiba terancam diputus begitu saja? Tahukah Ibu ada ratusan orang yang merasa putus harapan saat ini karena tidak bisa menggunakan ECCT? Tahukah Ibu betapa bingungnya kami saat ini bagaimana cara memberitahukan pada teman-teman lainnya bahwa keputusan akhir pemerintah adalah kalaupun pakai ECCT mereka tetap harus melakukan terapi standar di rumah sakit? Lalu kami harus bilang apa pula pada mereka yang dinyatakan oleh dokter tidak bisa menjalani terapi medis karena posisi tumor/kanker atau kondisi fisik terlalu lemah atau sudah tidak ada harapan hidup?

Kalau dikatakan bahwa keputusan Ibu adalah untuk melindungi pasien…Bu, kami ini juga pasien. Tapi kenapa keputusan pemerintah ini membuat kami tidak merasa dilindungi dan justru kami merasa terintimidasi?

Bu, silakan coba tanyakan pada masyarakat, kenapa kanker adalah penyakit yg sangat ditakuti. Inti dari semua jawabannya adalah karena belum ada pengobatan yang keberhasilannya begitu baik sehingga mampu membuat penyakit ini tidak lagi terlihat menakutkan. Termasuk pengobatan medis yang sekarang Ibu paksa untuk kami jalani. Mohon dapat diterima dulu fakta ini, Bu. Karena kami sudah menerimanya sejak pertama terdiagnosa dulu. Dan karena itulah apapun ikhtiar yang kami yakini, baik yang akhirnya memilih medis atau non medis, kami lakukan karena ingin sembuh.

Ada yg bertanya, mengobati kanker kok ‘coba-coba’ (pake ECCT) sih? Ijinkan saya balik bertanya, ketika terapi medis hasilnya masih jauh dari melegakan, bukankah bagi kami itu juga ‘coba-coba’? Bagi kami risikonya sama saja. Kami tahu betul bahwa terapi apapun yang kami ambil, toh hasilnya tetap kami yang tanggung jawab.

Saya sebenarnya berharap ada sedikit saja empati. Saya masih berharap naluri dan rasa kemanusiaan bisa mengalahkan…ah, entah apa ini namanya. Tapi ternyata sulit ya, Bu?

Hari ini, 4 Februari, adalah Hari Kanker Sedunia, Bu. Bisakah Ibu bantu kami untuk menyampaikan sendiri hari ini, keputusan hasil review Kemenkes soal ECCT itu kepada ribuan pengguna serta mereka yang ingin menggunakan ECCT yang dilarang berikhtiar sesuai pilihan mereka?

Karena kami tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya tanpa membuat mereka merasa bingung dan kecewa.

Hormat saya,

Rini, pengguna ECCT

[islamedia/mh]

Facebook Comments

You may also like

Habibie Minta Presiden PKS Selamatkan Inovasi Alat Pembasmi Kanker Temuan Warsito

Islamedia – Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf Habibie