Ketika KMGP Kembali; Belasan Tahun Dinanti, Filmnya Tayang Hari Ini

Hamas Syahid pemeran Mas Gagah, bersama ibundanya.

Islamedia – Bermula dari cerita yang ditulis mahasiswi Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) untuk tugas kuliahnya, 24 tahun silam, Ketika Mas Gagah Pergi mengalami perjalanan panjang.

Cerita pendek itu pertama kali terbit di majalah, lalu diterbitkan ulang sebagai kumpulan cerpen hingga lebih dari 27 kali, berganti-ganti oleh berbagai penerbit. Kehadirannya pun dipandang menandai lahirnya dan menginspirasi bentuk penulisan sastra islam populer, bertransformasi menjadi novelet, dan akhirnya kini tayang sebagai film layar lebar.

“Ceritanya dibuat tahun 92, konsentrasi filmnya sudah 12 tahun sejak 2003,” kata Helvy Tiana Rosa, sang mahasiswi FSUI tersebut.

“Kenapa lama, karena saya ingin menjaga beberapa idealisme saya di film ini. Saya ingin benar-benar bisa membangun karakter anak muda Indonesia. Saya ingin bikin film yang pemerannya bisa menjadi teladan,” lanjut Helvy yang kini berperan menjadi produser film KMGP.

Kehendak mempertahankan idealisme itu membawa Helvy bergerilya keliling nusantara. Selama 9 bulan, tak kurang dari 120 kota ia sambangi. Berbagai komunitas pun mencurahkan dukungannya, di an

Helvy Tiana Rosa beserta aktor aktris KMGP
Helvy Tiana Rosa beserta aktor aktris KMGP

taranya komunitas kepenulisan Forum Lingkaran Pena (FLP), Halal Network HPAI, Smart Club Surabaya, Masyarakat Relawan Indonesia (MRI), Hijabers Mom Community, dan Komunitas Tangan Di Atas (TDA).

“Jadi di sana itu kita cuma cerita, kemudian temen-temen tergerak. Kita dapet sekitar Rp 300 juta ada yang menyumbang bentuknya macem-macem, enggak selalu uang. Ada nyumbang musik, yang nilainya jauh lebih banyak dari itu, dan kemudian kita dapat rekan,” jelas Helvy.

Kata “KMGP” sendiri seperti menjadi kosakata baru, yang melekat di lubuk kenangan para pembacanya, lintas generasi. “Banyak yang mengaku hidupnya terinspirasi untuk berubah lebih baik setelah membaca KMGP,” ujar Helvy.

Dalam sinopsis yang dilansir 21Cineplex, film KMGP bercerita tentang Gagah yang berubah menjadi sangat bersemangat menjalankan ajaran Islam sepulangnya dari Ternate. Gagah kerap menasihati Gita untuk menjalankan perintah-perintah agama. Gita, adiknya itu, merasa sebal dibuatnya.

Menurut Gita, kakaknya itu berubah jadi fanatik dan norak. Ia pun mulai “memusuhi” Gagah, juga Kyai Ghufron, yang menurut Gagah telah memberi inspirasi saat di Ternate.

Meski dimusuhi Gita, Gagah pantang menyerah. Ia terus berusaha mendekati Gita dan Mama, mengajak dua orang yang ia cintai itu untuk lebih mengenal Islam. “Islam itu indah. Islam itu cinta,” adalah hal yang selalu disampaikan Gagah pada Gita.

Sementara itu, Gita beberapa kali bertemu sosok misterius di jalan, tepatnya di bus, kereta api dan tempat-tempat lainnya.poster-film-ketika-mas-gagah-pergi

Film keluarga
Film KMGP dibintangi oleh empat bintang baru yang dipilih dari proses audisi. Mas Gagah diperankan oleh Hamas Syahid Izzudin yang belum lama muncul dalam film Tausiyah Cinta. Tiga pemeran lainnya ialah Masaji sebagai Yudi, Aquino Umar sebagai Gita Ayu Pratiwi, dan Izzah Ajrina sebagai Nadia.

Namun di luar itu, ‘KMGP’ juga melibatkan banyak artis terkenal. Helvy mengungkapkan ada 30 artis kenamaan yang mengiringi tokoh utama dalam cerita film yang menggambarkan kisah tentang hijrah, keluarga, dan Islam ini. “Ada nama-nama Mathias Muchus, Wulan Guritno, Irfan Hakim, dan beberapa nama lain yang terlibat,” kata Helvy.

Selain itu, biduanita Indah Nevertari yang mencuat namanya lewat ajang pencarian bakat, turut hadir sebagai penyanyi original motion picture soundtrack (OMPS) dengan lagu berjudul “Rabbana”.

Seusai gala premiere pekan lalu, komentar positif berdatangan dari bermacam kalangan.

“Sudah lama saya merindukan hadirnya film alternatif yang menghibur, namun sarat edukasi dan ramah keluarga,” kata Wirianingsih, seorang ibu dari 10 anak penghafal Qur’an, mantan anggota DPR-RI.

Ketua Aliansi Selamatkan Anak Indonesia (ASA) itu juga berpendapat, bahwa film turut memberikan kontribusi terhadap cara pandang dan perilaku seseorang.

“Bahkan film itu sendiri merupakan refleksi dari sikap dan gagasan yang dihadirkan kepada masyarakat,” lanjut Wirianingsih.

Senada dengan itu, menurut Yeni Mulati yang juga Sekjen FLP, sebagai film ramah keluarga, anak-anak pun aman menonton film KMGP. “Bayangkan ada anak muda yang bisa berubah menjadi lebih baik, berkarya, namun tetap menjaga agamanya,” ujar novelis muslim tersebut mengulas kandungan film.

Sementara itu, Mantan Menteri Negara BUMN Sugiharto, menyampaikan penilaiannya bahwa penayangan KMGP di awal 2016 ini tepat waktu, mengingat anomali pemberitaan tentang Islam yang menyesatkan publik di tanah air maupun luar negeri.

“Film ini memberi testimoni bahwa Islam itu cinta damai, Islam itu sejuk dan Islam itu membawa rahmat bagi sekalian alam.”

Setting Jakarta dan Indonesia Timur

Berbeda dengan cerita aslinya yang berlatar kepergian Mas Gagah ke Madura, dalam filmnya, kawasan Indonesia Timur hadir mewarnai KMGP.

Scene favorit ketika Mas Gagah berada di Ternate. Birunya laut dan langitnya yang bersih, benar-benar memanjakan mata,” kata Wiwiek, salah seorang penonton, di akun Twitternya.

Tanggapan serupa diutarakan Sinta Yudisia yang menilai settingnya digarap baik. “Dan alurnya tak terduga!” kata Ketua Umum FLP itu.

Firmansyah, selaku sutradara film KMGP sendiri ketika diwawancara media, menyampaikan bahwa di tengah maraknya film Indonesia yang mengambil latar luar negeri, film KMGP berusaha mengangkat pesona tanah air di Indonesia Timur yang juga menarik untuk dieksplorasi.

Penonton film KMGP
Penonton film KMGP

Sambutan antusias
Di hari penayangan perdananya, seperti dilansir laman ACT, dari pemesanan tiket yang masuk, masyarakat antusias untuk menonton film bergenre religi tersebut.

“Pantauan di lapangan, Studi D XXI Pondok Indah, untuk tayang pukul 19.00 Wib kursi full booked, sementara XXI Blok M, tayang pukul 19.15 Wib, terjual 122 tiket. Bioskop International Palembang, Sumatera Selatan juga full-booked,” kata pernyataan pihak ACT melalui laman kmgp.club, Kamis (21/01/2016).

Seorang netizen di Sumatera Selatan mengungkapkan, bahwa dirinya tidak mendapat tiket. “Ketika Mas Gagah Pergi tidak untuk hari ini. Full di Palembang! Gak kebagian tiket,” kata @FitriApriani28.

Menurut laman 21Cineplex.com, KMGP tayang hari ini serentak di 27 kota, di antaranya Ambon, Balikpapan, Bandung, Banjarmasin, Batam, Bengkulu, Gorontalo, Manado, Samarinda, Yogyakarta, Makasar, dan Jakarta.

Sementara itu, dalam keterangan di akun Twitternya, Helvy menyampaikan, di sejumlah kota sebetulnya KMGP belum masuk jadwal tayang. “(Tetapi) atas permintaan masyarakat, akhirnya tayang hari ini!”

Apakah kemudian film yang dinanti belasan tahun ini, akan bertahan lama di layar lebar. Tidak ada yang dapat benar-benar memperkirakannya. Tetapi jika ada yang bertanya, apakah film KMGP ini hanya sekadar film? Selain dari komitmen untuk menyumbangkan 50% keuntungan bagi pengembangan Indonesia Timur & Palestina, Helvy Tiana Rosa tampaknya punya jawabannya.

“Saya tidak mau cuma bikin film. Nomor satu adalah idealisme, saya ingin semua berkah. Saya ingin bikin monumen di hati anak-anak muda,” ujar penulis yang membidani lahirnya komunitas FLP pada 22 Februari 1997 tersebut. (ismed/tribun/kapanlagi/bintang/afifahafra/kmgpclub)

Trailer Film KMGP

OMPS Film KMGP

Related Posts

Facebook Comments

You may also like

Mengecup Anya, Memeluk Awkarin

Islamedia – Kau gusar melihat mereka? Sungguh aku tidak Takkan