Resensi Buku : PKS Mengubah Pusaran Menjadi Arus Balik

Islamedia – Desas-desus seputar Islam dan Kebangsaan terus bergulir sejak zaman menjelang kemerdekaan hingga zaman yang sarat dengan pencitraan seperti saat ini. Di lihat dari ideologi, Islam kerap kali dianggap tidak matching dengan nafas nasionalisme. Dianggap saling berseberangan, tak kompatibel bagi sebagian kalangan, bahkan tak ubahnya air dan minyak yang tak pernah terintegrasi. Stigma semacam ini terus digelindingkan agar muncul sikap apatis publik terhadap partai Islam yang “ah sama saja dengan partai lain” sehingga ada semacam ajakan di alam bawah sadar untuk tak memilihnya dalam pemilu. Islam seakan momok yang “haram” dan patut dikaram.

Tentu hal tersebut membawa kegundahan bagi jiwa yang sehat. Kegundahan itu pulalah yang dirasakan Erwyn Kurniawan hingga menelurkan buah pikirnya dalam “PKS: Mengubah Pusaran Menjadi Arus Balik”.

Sepanjang era Kemerdakaan hingga Orde Baru, hubungan Islam dan Negara lebih banyak diwarnai ketegangan hingga berdarah-darah. Sebut saja peristiwa DI/TII pada 1953 ketika Demokrasi Parlementer diterapkan atau peristiwa Tanjung Priok pada 1984. Di masa-masa inilah pusaran isu Islam dan Kebangsaan terasa menguat dan membesar. Pertanyaan soal Islam yang anasionalis, anti Pancasila dan hendak mendirikan Negara Islam muncul kecurigaan Negara terhadap umat. Islam mencapai puncaknya yang ditandai dengan tindakan represif. (Hal. 18)

Daftar kekalahan partai-partai Islam semakin panjang jika melihat pemilu selama Orde Baru. Pada pemilu tahun 1971, yaitu pemilu pertama di bawah system politik Orde Baru sarat dengan intimidasi dan kecurangan, Nahdlatul Ulama (NU), Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti)—yang kesemuanya mewakili aspirasi umat Islam—mengalami kekalahan. Secara total, semua partai Islam tersebut hanya mampu meraih sekitar 27,1 persen suara. (Hal. 19)

Apakah ada yang tidak baik dengan (orang atau partai) Islam sehingga menjadi ancaman dan memprihatinkan?

Risma dan Kang Emil adalah orang baik. Tapi dua orang baik ini terlihat tak berdaya ketika dihadapkan dengan partai-partai tak baik yang bersepakat menolak kebaikan. Orang-orang seperti mereka sangat membutuhkan dukungan dari partai baik di panggung demokrasi yang kita anut saat ini. (Hal. 51)

Kehadiran Partai Keadilan Sejahtera (PKS) cukup membawa angin segar bagi umat Islam di kancah perpolitikan Indonesia. Sempat mengalami lonjakan meski tidak lolos parliamentary threshold dalam pemilu 1999 sehingga harus berganti nama dari Partai Keadilan (PK) menjadi PKS. Publik pun makin menaruh harapan pada partai dakwah ini. Namun, karang pun menghadang.

Badai dahsyat menyisakan perih di tubuh PKS. Kurang lebih satu tahun jelang pemilu, Presiden PKS dikriminalisasi dengan tuduhan suap. Citra PKS merosot drastis. Tapi kapal yang diharapkan karam oleh musuh-musuhnya itu justru bertahan dan terus berlayar. Dan angka 8 juta kembali didapat. (Hal.35)

Seberapa hebat daya lenting PKS pascapuruk? Bagaimana PKS mengubah pusaran dan kemudian menjadi arus balik?

Buku yang terdiri dari 23 bagian ini membawa pembaca memasuki mesin waktu. Diajak berpiknik tentang Islam dan politik dari zaman kemerdekaan hingga kekinian. Pembaca, sengaja atau tidak, digiring untuk tegar menghadapi para pencaci.

Sebenci apapun Anda pada PKS, sepertinya  Anda harus jujur bahwa masa depan demokrasi di Indonesia itu ada di tangan PKS. (Hal.58)

Namun tetap saja tak ada gading yang tak retak. Demikian pula dengan buku ini. Pembaca akan menemui kata “kemarin” dalam beberapa bab sementara peristiwanya sudah berlalu lama. Tapi kekurangan itu tetap tak bisa menutupi fakta bahwa buku ini layak menjadi salah satu referensi tentang PKS, seperti yang dikatakan Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman.

Buku ini patut dibaca oleh kader, simpatisan dan masyarakat karena dapat menjadi salah satu referensi mengenal jatidiri PKS,” tulisnya di akhir kata pengantar.

Sebagai penulis, Erwyn dalam memotret PKS sangat proporsional. Ia meramu dengan apik kalimatnya dari bab ke bab layaknya menikmati kebab. Juga tidak terjebak pada penyajian yang menjemukan untuk pasar buku political oriented, sehingga buku ini tak banyak membuat kerut kening pembaca. Persis seperti Anda balik dari piknik. Dalam buku ini penulis seolah ingin koarkan pula; Anda masih rajin membully partai Islam, “mungkin Anda kurang piknik (politik)!”.

Peresensi: M. Sholich Mubarok

PKS Mengubah Pusaran Menjadi Arus Balik

Judul  : PKS Mengubah Pusaran menjadi Arus Balik

Tebal  : 120 halaman
Penerbit : Pustaka Fauzan
Harga  : Rp 35.000

Bagi yang ingin memiliki buku ini

Ketik : PESAN-BUKUPKS-NAMA-ALAMAT

Kirim Whatsapp atau SMS  ke 0821 229 227 44

Facebook Comments

You may also like

DPRD DKI Himbau Pemprov Patuhi Pengadilan Terkait Penggusuran Bukit Duri

Islamedia – Dikabulkannya gugatan warga terkait penggusuran di Bukit Duri,