Lakukan Pertemuan dengan TNI dan Polri, FUI Aceh Singkil Minta Umat Kristen Taat Aturan

Panglima Kodam Iskandar Muda Mayjen TNI Agus Kriswanto bersama Warga Aceh Singkil

Islamedia – Insiden terbakarnya undung-undung yang dijadikan tempat ibadah umat Nasrani di Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil diharapkan berakhir dengan pemulihan perdamaian.

Pada Sabtu, (17/10/2015), diadakan pertemuan tertutup antara Forum Umat Islam Aceh Singkil dan Kapolda Nangroe Aceh Darussalam (NAD) Irjen (Pol) Husein Hamidi serta Pangdam Iskandar Muda Mayjen Agus Kriswanto.

Sebagaimana dilansir Republika, pertemuan yang bertempat di Kantor Kecamatan Gunung Meriah tersebut berlangsung cukup alot. Hal itu tampak dari dua kali jeda yang membuat TNI/Polda NAD melobi tokoh-tokoh Muslim anggota Forum secara personal dan tertutup pula dari media.

Sejumlah aparat Brimob dan kepolisian Aceh Singkil pun tampak berjaga-jaga mengamankan lokasi pertemuan. Mereka bersenjata api laras panjang atau pendek.

Pada pukul 16.30 WIB, pertemuan usai. Juru bicara Forum Umat Islam Aceh Singkil Ustadz Hambalisyah Sinaga menyampaikan kepada awak media, pertemuan itu belum menghasilkan kesepakatan karena masih banyak hal yang perlu dirundingkan dengan pihak Nasrani.

Menurut Ustadz Hambalisyah, nanti akan diadakan lagi musyawarah yang mengundang pihak Nasrani. Sehingga, dua umat beragama dapat duduk bersama dalam waktu dekat, dengan difasilitasi Polda NAD.

Hambalisyah menuturkan, sebelum adanya pertemuan hari ini, pihak Pangdam dan Kapolda Aceh Singkil sudah menjalin dialog dengan pihak kaum Nasrani Aceh Singkil.

Pertemuan kali ini merupakan kesempatan bagi kaum Muslimin untuk menyatakan aspirasi terkait insiden terbakarnya undung-undung yang dijadikan gereja.

Lebih lanjut ia menyatakan, pokok tuntutan umat Islam Aceh Singkil hanyalah aturan yang dilanggar soal rumah ibadah ilegal. Tidak ada upaya intimidasi di Kabupaten Aceh Singkil dalam bentuk apa pun dari umat Islam.

Pihaknya kemudian ingin pemerintah Kabupaten Aceh Singkil melaksanakan hasil kesepakatan dari pertemuan tanggal 12 Oktober lalu, yang intinya agar melakukan pembongkaran terhadap 10 gereja dan undung-undung ilegal pada 19 Oktober nanti.

“Pokoknya kita buktikan ke dunia internasional bahwa Islam itu rahmatan lil ‘alamin. Jangan dikira Islam nanti teroris, intoleransi. Itu jelas kita tolak,” ucap Hambalisyah Siregar saat ditemui di kantor Kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil, Sabtu (17/10).

Dia menjelaskan, persoalan pembangunan rumah-rumah ibadah liar di kabupaten tersebut sudah mengemuka sejak tahun 1979. Selama puluhan tahun pula, umat Islam Aceh Singkil terganggu, namun tetap mengutamakan pendekatan hukum.

“Muslim di Singkil ini selama ini sudah 36 tahun menjaga kedamaian itu. Saya sampaikan pada hari ini, Aceh Singkil Muslim setoleransi di dunia. Alasannya, kita (sudah) buktikan, 36 tahun (sejak) tahun 1979 sampai 2015. Toleransi itu sudah luar biasa,” tutur dia.

Lantaran itu, dia menekankan, kehidupan sosial antara umat Islam dan Nasrani sejatinya berjalan biasa. Pembakaran rumah ibadah tersebut hanyalah bentuk frustrasi umat Islam atas lambannya kinerja pemerintah daerah dalam menindak tegas pendirian rumah ibadah liar.

“Persoalan umat Muslim dan Kristen itu tidak ada masalah. Artinya, pendirian bangunan ilegal itu saja yang dipersoalkan,” papar dia.

Dia lantas heran, mengapa ada arus ribuan pengungsi asal Aceh Singkil yang bertolak ke wilayah Sumatera Utara. Padahal, yang menjadi sasaran kemarahan sekelompok Muslimin Aceh Singkil hanyalah bangunan gereja ilegal.[islamedia/Rol/YL]

Facebook Comments

You may also like

Anies Terima Kunjungan Pengurus PWNU di Kediamannya

Islamedia РSetelah salat subuh, Calon Gubernur DKI Jakarta