Antara Tahlilan dan Yasinan untuk Jenazah, Bolehkah?

Islamedia – Masyarakat Indonesia sudah sangat familiar dengan Tahlilan dan Yasinan, lantas bagaimana sebenarnya hukum Tahlilan dalam Islam?
Berikut ulasan Ustadz Bakhtiar M. Rum, Lc., MA terkait hal tersebut.

Hukum tahlilan selama tujuh hari dan empat puluh hari adalah boleh menurut para ulama Ahlus Sunnah dan ada dasarnya. Bukan perkara bid’ah atau dilarang.

Imam Sayuti menyebutkan :
روى أحمد بن حنبل في الزهد وأبو نعيم في الحلية عن طاوس أن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام إسناده صحيح وله حكم الرفع وذكر بن جريج في مصنفه عن عبيد بن عمير أن المؤمن يفتن سبعا والمنافق أربعين صباحا وسنده صحيح أيض
ا
Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab Az Zuhd, Abu An Nu’aim dalam Al Hilyah, dari Thawus bahwasanya mayit akan mendapatkan ujian dikuburnya selama tujuh hari, maka para sahabat nabi menyukai untuk memberikan makan selama tujuh itu. Isandnya shahih dan hukumnya sebagai hadits marfu’. Ibnu Juraij dalam Mushannafnya menyebutkan dari ‘Ubaid bin ‘Amir bahwa seorang mu’min diuji selama tujuh hari sedangkan orang munafik diuji selama empat puluh hari. (Imam As Suyuthi, Ad Dibaj ‘Alash Shahih Muslim, Juz. 2, Hlm.490. Atsar-atsar ini juga terdapat dalam kitabnya Imam Ibnul Jauzi, Shifatush Shafwah, Juz. 1, Hlm. 454)

Selanjutnya terkait pembacaan surat Yasin, bagaimana hukumnya?
Hukum membaca surat yasin bagi jenazah / mayyit yang sudah meninggal menurut sebagian Imam ahlussunah : boleh tidak di larang.

Dasarnya :
وقال أحمد ويقرءون عند الميت إذا حضر ليخفف عنه بالقرآن يقرأ (يس) وأمر بقراءة فاتحة الكتاب.
Berkata Imam Ahmad: bahwa mereka membacakan Al Quran (surat Yasin) pada sisi mayit untuk meringankannya, dan juga diperintahkan membaca surat Al Fatihah. (Imam Ibnu Qudamah, Syarh Al Kabir, 2/305 , darul kitab al a’ rabi)

Bahkan , ada riwayat dari Muhammad bin Al Jauhari, dia berkata, telah mengabarkan kepadaku Mubasysyir, dari ayahnya, bahwa dia berwasiat jika dikuburkan maka hendaknya dibacakan surat Al Fatihah, Al Baqarah, dan sampai selesai membacanya. Aku mendengar bahwa sahabat nabi Abdullah Ibnu Amru bin Al Ash Radhiallahu Anhuma juga mewasiatkan demikian. (Imam Ibnu Qudamah, Al Mughni, 5/78) Mubaysyir ini dinilai tsiqah (bisa dipercaya) oleh Imam Ahmad.

Semoga bermanfaat dan menjadi tambahan referensi ilmu bagi kita semua. (islamedia/js)

Facebook Comments

You may also like

Ahmad Heryawan Bacakan Puisi Kemanusiaan untuk Aleppo di Pusat Perfilman Usmar Ismail

Islamedia – Ketua Majelis Syuro Persatuan Umat Islam (PUI)