Aceh Utara Menjemput ‘Kemenangan’ bersama Civil Society untuk Peduli Rohingya

Pengungsi Rohingya Menerima Simbolis Kunci Pemukiman di Aceh Utara

Islamedia – Kabupaten Aceh Utara sungguh sedang bungah hari-hari ini. pada Rabu (26/8/2015) lalu, Kabupaten Aceh Utara menorehkan prestasi menjadi Juara Umum MTQ ke-XXXII Tingkat Provinsi Aceh tahun 2015 di Nagan Raya. Mewakili Bupati, Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, Drs. H. Isa Anshari, Msi., menerima penyerahan piala bergilir musabaqah.

Kemenangan itu seperti menjadi pelengkap torehan prestasi yang sudah diukir oleh kabupaten ini sejak tiga bulan lalu. Aceh Utara, sontak menjadi perbincangan nasional bahkan internasional berkat ketulusan hati Aceh Utara menolong seribuan pengungsi etnis Rohingya yang terkatung-katung di perairan Aceh Utara. Tak rehat sampai di situ, bersama dengan segenap elemen masyarakat sipil Indonesia dan global Aceh Utara memuliakan tamu istimewanya itu dengan mendirikan dan mengelola sebuah kompleks hunian sementara. Komplek shelter atau Integrated Community Shelter/ICS yang berdiri di atas lahan pemerintah kabupaten Aceh Utara seluas 5 hektar di Gampong Blang Adoe, Kuta Makmur.

Sejak berpindah 10 Juli silam, 322 pengungsi Rohingya yang sebelumnya ditempatkan di Gedung Balai Latihan Kerja (BLK )Aceh Utara itu merasakan hunian mereka lebih nyaman dan layak dari sebelumnya. Di kompleks hunian yang menyediakan 120 unit shelter ini pengungsi merasa lebih diperhatikan dan diperlakukan lebih manusiawi. Senyuman kini lebih banyak merekah di wajah-wajah para pengungsi.

Dukungan nasional maupun global terus mengalir untuk Aceh Utara, seperti Komite Nasional untuk Solidaritas Rohingya (KNSR) dengan berpuluh organisasi anggotanya, Aksi Cepat Tanggap (ACT) serta sejumlah LSM nasional maupun luar negeri. Keberadaan komplek ICS itu menggaung hingga ke Pakistan, Turki, Malaysia, Singapura, Taiwan, Cina, Belanda, UK, Jerman, Swedia, Maroko bahkan Jepang! Perwakilan civil society dari beberapa negara itu datang langsung menjenguk para pengungsi di ICS Blang Adoe. Selebihnya, partisipasi kemanusiaan itu mereka wujudkan dari jauh.

Kabupaten Aceh Utara baru saja mengguratkan ‘prestasi keagamaan’ dan ‘prestasi sosial’ sekaligus. Kemuliaan Aceh Utara terganjar keberkahan setelah dinobatkan sebagai Juara Umum MTQ XXXII Tingkat Provinsi. Sementara prestasi kemanusiaan teraih berkat kemenangan meraih trust dengan terbangunnya ICS Blang Adoe, berkat kepercayaan LSM nasional serta internasional. Masa depan perubahan di Bumi Serambi Mekkah sedang berjalan lantaran menguatnya kepercayaan global itu. Provinsi Aceh, lewat Aceh Utara, sedang meretas jalan untuk lebih berdaya dan berjaya. Lebih berdaya dan berjaya bukan karena hutang luar negeri, namun dukungan konkret umat global. Konsistensi niat dan sikap Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menjadi kunci kekuatan untuk menguatkan kepercayaan global itu.

Beberapa hari lalu, Bupati Aceh Utara, H. Muhammad Thaib, usai menghadiri rapat koordinasi membahas pengungsi Rohingya dengan Kementerian Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukam) di Jakarta, Senin (26/8), menyatakan Aceh Utara memimpikan sebuah karya monumental, melalui sumberdaya manusianya (SDM) yang semakin unggul. Pembangunan bidang pendidikan dan kesehatan adalah kunci Aceh Utara melahirkan SDM unggul, yang pada akhirnya mampu melahirkan karya monumental tadi.

“Saya bersyukur, semoga dengan memuliakan tamu Allah dari etnis Rohingya, itu (impian) dapat terwujud. Bersama masyarakat sipil nasional dan global kami akan habis-habisan memuliakan mereka, sebab di balilk itu kebaikan Allah akan tercurah. Saya katakan kepada pemerintah pusat dalam pertemuan itu, ICS tidak dibangun dengan dana IOM, tetapi dengan dana masyarakat Indonesia dan internasional yang diamanatkan melalui LSM, teman-teman di KNSR dan ACT itu,” urai Thaib. Komitmen Pemerintah Kabupaten Aceh Utara memanusiakan para pengungsi di kompleks ICS masih berlanjut. Tak hanya menyediakan hunian yang nyaman, Pemerintah Kabupaten bersama mitra lembaga kemanusiaan nasional dan internasional juga tengah merancang satu konsep pemberdayaan silang antara pengungsi Rohingya dengan warga Gampong Blang Adoe. Akan ada ‘pasar tradisional’ dan satu peternakan untuk menghidupkan interaksi dan aktivitas antara pengungsi dan warga sekitar.

“Penanganan pengungsi selama ini perlakuannya sama seperti tahanan, seperti pola kamp konsentrasi. ICS adalah sebuah konsep yang memanusiakan manusia. Jadi wajar jika mereka pernah dikabarkan marah dan mengamuk di lokasi pengungsian sebelumnya,” ujar Ketua KNSR Provinsi Aceh, Mustafa M.Y. Tiba. Kini, tambah Mustafa, setelah di ICS pun, para pengungsi masih saja dikabarkan menjadi sumber masalah. Pekan lalu, instansi yang mengurus kehadiran manusia ke negara bersama aparat merangsek masuk kompleks ICS hendak menciduk empat pemuda Rohingya yang disebut menjadi agen perdagangan manusia dan perusak kebun warga. Terjadi keributan kecil antara para pengungsi versus aparat yang bermaksud meringkus keempat pemuda itu. Lalu pekan ini, gangguan kecil itu datang lagi. Meminjam mulut oknum pemerintah, pihak yang tak menginginkan ketenangan di kompleks hunian, menganggap pengelola ICS lalai mengurus pengungsi.

“Rohingya yang datang ke Aceh, bahkan ke seluruh dunia karena lari, sudah jelas mereka masyarakat korban. Rata-rata tak berpendidikan, terteror, pikirannya kacau. Keinginannya satu: selamat. Jangan heran, kalau saat dikelola entah di barak atau di shelter, perilakunya kadang susah difahami. Kita wajib menolong, membimbing agar tidak makin kacau. Tanpa pendampingan, kesabaran, perilaku mereka kian liar. Sebelum kembali – jika saatnya tiba dan kondusif, mereka ke Myanmar, di sini mereka sudah memperoleh bekal menghadapi kehidupan sosial dengan lebih siap, sadar hak dan sadar martabat sebagai sesama manusia,” tambah Presiden KNSR, Syuhelmaidi Syukur.

Menanggapi kritik terhadap pengeloan ICS, Syuhelmaidi menegaskan pihaknya membuka diri untuk semua sinergi, tanpa kecuali. “Siapapun berhak mengelola pengungsi Rohingya ini. Kami siap untuk sharing dan melakukan komunikasi efektif dengan berbagai pihak terkait penanganan pengungsi dengan semua stakeholder. Termasuk dengan badan dunia yang mengurus pengungsi dan International Organization for Migration pusat dan Aceh,” tambah Syuhelmaidi sesaat setelah mengikuti Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi I DPR-RI, Senin (24/8) lalu. Ia juga mengungkap rencana kunjungan rombongan Pimpinan DPR-RI mulai Jum’at – Minggu (28 – 30/8) nanti, yang akan melihat model pengelolaan pengungsi dengan konsep ICS.[act/islamedia/YL]

Facebook Comments

You may also like

Sejarah Penderitaan Panjang Muslim Myanmar

Islamedia – Masa Kejayaan Islam di Arakan Myanmar