Zionis Israel Melarang Masuk Delegasi Parlemen Eropa

Islamedia – Delegasi Parlemen Eropa, termasuk di dalamnya duta besar dari Uni Eropa, tidak diperbolehkan memasuki gedung parlemen Israel Knesset untuk bertemu dengan aleg Knesset dari fraksi Joint Arab List. Hal itu terjadi dalam kunjungan Parlemen Eropa ke Israel, seperti dilaporkan Arab48 dan dikutip Middle East Monitor Rabu (22/7/2015) lalu.

Juru bicara Knesset Yuli-Yoel Edelstein mempersyaratkan, bahwa pertemuan itu harus diawasi oleh seorang penasihat politik Knesset. Syarat ini ditolak oleh pihak Joint Arab List (JAL). Fraksi JAL adalah gabungan partai Hadash (kiri), Balad (nasionalis Arab), Ta’al (anti-zionisme), dan Islamic Movement. JAL berhasil menjadi kekuatan nomor tiga terbesar di Knesset, dengan 13 orang aleg, setelah pada Pemilu 2015 lalu, meloloskan diri dari jebakan treshold yang dipasang Netanyahu sebesar 3.5%.

“Aleg Knesset Yousef Jabareen dan Aida Touma-Suleiman terpaksa mengadakan pertemuan dengan para anggota Subkomite HAM Parlemen Eropa di luar gedung Knesset, setelah Jurubicara Knesset menuntut kehadiran penasihat politik Knesset,” tulis pihak JAL dalam pernyataannya.

Aleg Jabareen mengecam persyaratan tersebut sebagai “tidak dapat diterima dan sebuah pelanggaran atas kebebasan kerja-kerja parlementer.”

“Tidak dapat diterima jika mencegah aleg Knesset dari mengadakan pertemuan di ruangan fraksi mereka sendiri tanpa diawasi perwakilan Knesset. Kami memperbincangkan diskusi-diskusi politik yang sensitif, dan sudah dapat dimaklumi, diksusi-diskusi seperti ini harusnya tidak perlu dihadiri pihak-pihak perwakilan yang tidak diinginkan,” ujarnya.

Jurubicara Knesset tetap mengklaim bahwa pertemuan JAL – Parlemen Eropa tersebut melanggar protokol, sehingga para delegasi tidak diizinkan masuk gedung Knesset.

Penolakan parlemen Knesset atas Parlemen Eropa, mengingatkan kembali kejadian Februari tahun 2014 lalu. Seperti dilansir Hidayatullah, Presiden Parlemen Eropa, Martin Schulz, menggemparkan sidang Knesset saat itu. Ia menyampaikan tanpa tedeng aling-aling, bahwa warga Palestina ingin hidup “dalam perdamaian dan ingin bisa bebas bepergian,” tapi Israel mencegah hal itu. Ia juga mengeritik blokade Israel di Jalur Gaza dan mengatakan, blokade itu membuat warga Palestina frustasi. Hal ini tidak membuat Israel jadi lebih aman, malah mungkin makin tidak aman. (memo/wikipedia/hidayatullah/ismed)

Facebook Comments