Yahudi Menguat, Syiah Melumat

Islamedia  Ibarat dua sisi mata uang, Yahudi dan Syiah bahu membahu melumat Muslim dengan menguasai dan memecah belah penduduk Muslim di negeri-negeri Sunni. Di Mesir salah satunya. Setelah institusi Al-Azhar, kiblat pemikiran dan studi Islam tertua dunia dikangkangi kudeta yang dibackup Zionis Israel. Kini Syiah mulai menunjukkan power, hadir dengan jubah-jubah hitam dan doktrin-doktrin yang jauh sama sekali dengan Islam.

 

Jika 25 Channel TV Sunni antikudeta ditutup, maka channel TV Syiah mulai tumbuh subur. Hal paling sedih adalah, saat acara Talkshow yang diadakan secara LIVE, banyak pemirsa yang menelpon dan langsung membaca “syahadat ala Syi’ah” cermin mereka mengubah keyakinannya. Setali tiga uang, di provinsi Daqahliyah muncul pengklaim Nabi palsu. Ternyata, para pendukungnya adalah polisi, jaksa, dan aparat militer.

 

Di Indonesia pun sama. Tidaklah Syi’ah berani menanggalkan taqiyyahnya, melainkan mereka telah meyakini jalan terbuka tanpa hambatan seiring kekuasaan yang telah dikangkangi Zionis internasional, melalui agen-agennya yang dibina khusus. Syi’ah siap melumat siapapun yang menghadang, baik dengan al-jubb (penjara, tindakan represif) maupun al-hubb (jebakan cinta, kawin mut’ah). Diyakini tokoh-tokoh publik di negeri ini yang lidahnya mulai “keseleo” tentang Syi’ah, telah terperangkap dalam jebakan al-hubb dan al-jubb.

 

Irak, Bahrain, Libanon, Syiria, Yaman, adalah contoh kecil lumatan Syi’ah. Kini bersama Saudi Arabia, mereka berencana menggiring Raja Salman ke dalam perang terbuka. Raja yang menurut mereka berbeda 180 derajat dari Raja Abdullah. Yahudi dan Syi’ah Persia bertemu dalam satu target: melumat Muslim Sunni dan menghancurkan gerakan Islam yang antipenjajahan, Ikhwanul Muslimin.

 

Namun sayangnya, elemen-elemen “pengklaim” Salafy dan ormas yang seruannya Khilafah, justru tidak membaca arah pemikiran di atas. Syaikh Salafy seperti Syaikh Hazem Ismail ketua Hizb Nur yang dilengserkan dan dikenal teguh berprinsip, membaca fakta di atas sejak Mubarak dilengserkan. Nasibnya ia mendekam di penjara dan baru divonis bebas.

 

Lalu bagaimana nasib Muslim Sunni di tengah menguatnya Zionis dan Syi’ah?

Sekedar mengangkat isyarat atau menyimpan foto Palestina saja, dipenjara 11 tahun.

Jangan harap bisa bebas mengibarkan bendera, lalu teriak thoghuut..thoghuut seperti di zaman Mursi atau zaman demokrasi.

Nandang Burhanudin

Facebook Comments