Ustadz Idris Abdusshomad; Oleh-oleh Ramadhan, Membangun Peradaban (3/3)

Masyarakat berperadaban

Masyarakat berperadaban yakni masyarakat ideal yang dicitakan Islam, yaitu sosok masyarakat yang diwarnai oleh jalinan solidaritas sosial yang tinggi, rasa persaudaraan yang solid antar manusia. Masyarakat tersebut bukan suatu utopia (khayalan belaka), karena masyarakat seperti ini pernah eksis dalam masyarakat madani yang dibina Rasulullah SAW (DR. Daud Rasyid, Islam dalam berbagai dimensinya, 238, th.1998).

Ramadhan merupakan peluang besar untuk melakukan training menjadi manusia yang adil dan beradab, yakni manusia yang memiliki jiwa sosial dan peduli terhadap lingkungan dan masyarakat. Pada saat itu, setiap mukmin dilatih melakukan sedekah, infak atau zakat, sebagai indikasi kepedulian sosialnya. Ia pun dilatih untuk dapat merasakan rasa letih dan lapar, agar ia memiliki rasa belas kasih kepada si miskin papa, tidak bersikap beringas, keras tanpa ada sedikit rasa kemanusiaan.

Sudahkah kriteria manusia muttaqin itu kita raih? Sudahkah sifat dan sikap beradab tersebut kita miliki? Sudahkah nilai-nilai Ramadhan tersebut tercermin pada kehidupan masyarakat dan bangsa kita?

Tentunya masing-masing yakin, bahwa manusia-manusia yang menjiwai Ramadhan dalam diri mereka dan shaum yang dilakukan, telah mampu menjadikan dirinya manusia yang adil dan beradab, niscaya jiwa dan hati mereka akan terpanggil untuk membantu saudara-saudaranya yang tengah mengalami kesulitan dan kesempitan moril dan materil.

Sebagaimana kita yakin, manusia semacam itu tidak akan tega membiarkan umat Islam di Aceh dan Maluku serta di tempat lainnya, dalam kesengsaraan yang tiada henti, mereka tidak akan menginginkan bangsa ini terpecah belah. Sebab ukhuwah (persaudaraan) dan wihdah (persatuan) adalah motto masyarakat berperadaban, menuju bangsa yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Harapan itu dapat kita wujudkan, dengan tekad bulat dan hati nurani yang bersih, untuk membuat “Planning Ramadhan” yang jelas setiap menghadapi Ramadhan, menjadikan bulan shiyam untuk membentuk pribadi-pribadi yang muttaqin, dan menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan perjuangan mempertahankan kesatuan dan persatuan umat, untuk menggapai ridha Ilahi. Lalu mewujudkannya juga selama 11 bulan setelahnya. Allahumma taqabbal.

Sumber: Ikadi.or.id (dengan penyesuaian seperlunya)

Facebook Comments