Ustadz Idris Abdusshomad; Oleh-oleh Ramadhan, Membangun Peradaban (1/3)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:     وَكَذَٲلِكَ جَعَلۡنَـٰكُمۡ أُمَّةً۬ وَسَطً۬ا. البقرة: ١٤٣

“Dan demikian (pula) Kami telah jadikan kamu (ummat Islam) ummat yang adil dan pilihan.” (QS. Al-Baqarah: 143).

Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan dalam ayat tersebut, bahwa umat Islam adalah umat yang beradab dengan karakter wasathan-nya. Dalam kesempatan lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa “kalian ummat tertinggi lantaran kalian beriman kepada Allah.”

Ternyata memang peradaban yang dikehendaki Islam, bukanlah peradaban yang lebih memperhatikan aspek materi, jasmani dan instink manusia. Bukan pula peradaban yang melulu soal kenikmatan dunia yang bersifat fana. Peradaban dalam Islam lebih luhur dari itu, menghubungkan manusia dengan tuhannya, bumi dengan langit.

Dunia dijadikan sarana untuk menuju akhirat; menggabungkan unsur spiritual dengan material, menyeimbangkan antara akal dengan hati, menyatukan ilmu dan iman dan meningkatkan moral seiring dengan peningkatan material (Al-Qaradhawi, Sunnah sebagai sumber IPTEK dan Peradaban, 247, 1998).

Dalam rangka mewujudkan peradaban yang dikehendaki Islam tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan Rahmat-Nya mengutus seorang Rasul. Dialah Rasululullah yang membawa ajaran yang memperhatikan aspek spiritual dan material, idealis dan realis, rabbani dan insani, moralis dan konstruktif. Dialah Rasulullah yang memperhatikan aspek individu dan sosial, agar menjadi peradaban yang seimbang dan moderat, yang menjadi dasar munculnya umatan washatan, yang menuntun umat manusia menuju hidup berkeadilan.

Pedoman peradaban

Karenanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Al-Quran, sebuah pedoman hidup, kitab rujukan bagi peradaban manusia. Dua peristiwa besar tersebut (bi’tsah dan turunnya Al-Quran) justru terjadi di bulan Ramadhan, sebagaimana penjelasan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Quran:

شَہۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدً۬ى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍ۬ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِ‌ۚ. البقرة: ١٨٥

“Bulan Ramadhan, dimana diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk hidup dan penerang bagi petunjuk dan furqan”. (QS. Al-Baqarah: 185).

Untuk mengemban amanat peradaban yang dikehendaki, Islam memerlukan manusia-manusia berdaya dan berkualitas, yaitu insan mukmin seutuhnya. Merekalah yang menjunjung tinggi dan memberikan keharuman semerbak bagi peradaban rabbani tersebut. Mereka itulah yang disebut-sebut dalam Al-Quran orang-orang bertakwa (al-muttaqin) yaitu manusia mukmin multazim (komitmen) terhadap Islam secara utuh: akidah, ibadah dan muamalah.

Orang yang takwa juga berarti mereka yang memiliki kehati-hatian dalam sikap dan berprilaku, sebagaimana definisi dalam fragmen kisah Umar bin Khaththab (takwa ialah seperti berjalan di tengah jalan penuh duri dengan sungguh-sungguh dan hati-hati). Sudah seharusnya sikap takwa tersebut tercermin dalam semua dimensi kehidupan, akidah, ideologi, sosial, politik, ekonomi dan lainnya. Bersambung…

Sumber: Ikadi.or.id (dengan penyesuaian seperlunya)

Facebook Comments