True Story : I’tikaf Merah Jambu

I'tikaf Merah Jambu

Islamedia – Hhh… sebentar lagi bulan yang dinanti-nanti itu akan segera datang. Berarti sudah hampir empat tahun sejak pertama kali kuikrarkan tekad untuk segera mengakhiri kesendirianku.

Ya, Ramadhan empat tahun yang lalu, aku bertekad untuk segera menemukan sang partner hidupku yang akan setia menemani langkah-langkahku menapaki jalan menuju surgaNya.

Kehadiran Ramadhan selalu istimewa buatku, selain karena ikrarku tadi yang kumaklumatkan pada bulan mulia itu, juga karena aku berharap menemukan sang bidadari di bulan suci itu pula.

Namun, sudah tiga kali Ramadhan kulewati, sang bidadari tak jua muncul. Apakah ikhtiarku masih kurang atau doa-doa yang kupanjatkan pada sepuluh malam terakhir Ramadhan belum sungguh-sungguh?

Ya Rabb… aku ingin sekali kepulanganku Syawal tahun ini dengan membawa satu berita gembira. Aku ingin melihat rona bahagia di kedua wajah orang tuaku yang sudah sangat menanti-nanti kehadiran seorang menantu shalihah di rumah mereka. Maklumlah, aku anak laki-laki satu-satunya, anak pertama pula.

Setiap kali keluarga besar kami berkumpul di Hari Raya Idul Fitri, aku – sang bujang lapuk – kata mereka, selalu menjadi bulan-bulanan saudara-saudara sepupuku yang rata-rata sudah berkeluarga. Panas rasanya telingaku mendengar komentar-komentar provokatif mereka.

Pertanyaan “Kapan mau nikah, Ry?”, seperti iklan yang terus diulang-ulang di televisi. Aku hanya bisa menjawab dengan kalimat pamungkas dari Agus Ringgo “May…, May be yes, may be no……”, sambil ngeloyor pergi menjauh dari mereka.

Awal Ramadhan 1429 H     
Ya Allah… semoga Ramadhan ini, sang bidadari muncul, gumamku sambil memasang lembaran target yang kucanangkan Ramadhan tahun ini. ‘Finding The Hidden Angel’ jelas masuk dalam list targetku.

Seorang kawan, Rendi, tertawa meremehkan ketika membaca target tersebut.

“Kayak film animasi Finding Nemo aja kamu, Ry!”

“Kalo ayah si Nemo yang punya gambaran jelas gimana si Nemo aja, susah banget nemuin anaknya, gimana dengan kamu yang masih serba abu-abu tentang sang bidadari bisa menemukannya?” tanya kawanku menyangsikan.

“Abu-abu gimana?” aku bertanya sewot.

“Aku sudah punya gambaran yang jelas kok. Sang bidadari mesti seorang akhwat shalihah, auratnya tertutup rapi di depan non mahram, aktif berdakwah, open minded, aktif mentarbiyah diri, dari keluarga baik-baik. Kalo bisa kaya dan cantik tentu, he..he“ jawabku tak mau kalah.

“Ya… kan masih abu-abu tuh. Akhwat seperti itu banyak. Coba lihat di kampus, bejibun! Gimana coba kamu bisa menemukannya di antara begitu banyak akhwat?”, Rendi terus bertanya menyangsikan kemampuanku.

“Gampang aja… sang akhwat harus membuat hatiku bergetar dan ‘feel something different’ gitu ketika melihatnya” jawabku sambil mempraktekkan orang yang sedang kasmaran.

Tapi Rendi ternyata belum puas.

“Emangnya selama ini belum ada yang membuat hatimu begitu?”

“Nah… itulah masalahnya. Semua akhwat yang kutemui di tempat kerja, forum-forum pengajian, organisasi, belum ada yang begitu. Semua terasa biasa-biasa saja. Padahal mereka sudah masuk kategori yang aku sebutkan, tapi belum ada yang masuk kategori terakhir yang kusebutkan tadi”

“Kamu mempersulit diri, Ry! Wajar kamu gak nikah-nikah juga sampai sekarang. Mungkin jodohmu itu seorang kuntilanak. Karena menurut mitos, setan atau kuntilanak adalah jenis wanita yang mampu membuat hati para pria bergetar ketika melihatnya. Bergetar ketakutan, persisnya! Ha ha ha”, timpal Rendi sambil pergi berlalu meninggalkanku.

Aku kesal setengah mati.

Pertengahan Ramadhan 1429 H
Misi Finding Nemo-ku Ramadhan kali ini berubah strategi. Jika sebelumnya aku telah menempuh hampir semua cara yang dilakukan oleh kebanyakan ikhwan, kini aku ingin menempuh cara yang berbeda. Puncak pencarianku akan kulakukan pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Aku yakin, waktu yang kupilih adalah waktu-waktu terbaik, tempatnya juga tempat terbaik, mesjid. Insya Allah, sang bidadari yang akan kutemui juga berkualitas baik, karena dia berada di tempat yang baik pada waktu yang baik.

Aku hanya berharap semoga I’tikaf kali ini tidak ternodai dengan strategi baru ini. Toh, Finding Nemo-ku juga dalam rangka ibadah-kan?, sahut sudut hatiku melakukan pembelaan.

20 Ramadhan 1429 H
Tonight, the mission start… Bismillah.

Aku sudah memutuskan untuk i’tikaf di Mesjid Al-Furqan tahun ini. Alasan utama aku memilih mesjid ini selain karena suasananya sangat kondusif untuk i’tikaf, juga karena akhwat hanya i’tikaf di mesjid ini, hal yang paling mendukung misiku.

Di kota kecil seperti kota kami, i’tikaf memang belum memasyarakat. Apalagi i’tikaf untuk perempuan, masih menjadi tontonan aneh untuk dilakukan.

25 Ramadhan 1429 H
Sudah 5 hari masa i’tikafku berlalu, namun tanda-tanda kehadiran Nemo-ku tak kunjung nampak. Aku berkali-kali mengedarkan pandangan sekilas pada barisan jama’ah perempuan yang hanya beberapa orang, tapi aku hanya menemukan wajah-wajah tua seusia ibuku.

Apa mungkin tidak ada akhwat yang mengikuti program i’tikaf tahun ini? Hatiku terus menduga-duga berbagai kemungkinan.

Peluangku tinggal fifty-fifty. Pasalnya, hampir bisa dipastikan bahwa pada hari-hari terakhir menjelang Idul Fitri, para akhwat sudah pada mudik, karena aktifitas di kampus juga sudah libur. Pupuslah harapanku.

26 Ramadhan 1429 H, saat sahur
Aku masih berharap, meski peluangku semakin kecil. Bukankah ini saat do’a-do’a dikabulkan Allah, jika Ia berkehendak, mudah saja bagiNya menghadirkan Sang Bidadari di depan mataku. Akupun mulai memperbanyak dan menguatkan do’aku. Tiada waktu-waktu utama yang aku lewatkan tanpa melantunkan do’a, “Ya Allah, Pleaseeeeee… datangkanlah bidadari itu untukku”.

Malam 27 Ramadhan 1429 H
“Allahu Akbar…”, aku reflek bertakbir ketika bayangan itu lewat di depanku. Begini cepatkah do’aku dikabulkan Allah?

Baru saja aku merasa menemukan sesuatu yang selama ini aku cari. Ingin segera aku sujud syukur, tetapi urung ketika sadar bahwa aku kini berada ditempat wudhu.

Sejak pertemuan pertama yang sekilas itu, aku pun mulai memperhatikan sang akhwat lebih intens, dari jauh tentunya, dengan tetap menjaga adab-adab pandangan. Dari waktu ke waktu, aku semakin yakin, akhwat itulah yang aku cari.

Dari pengamatan jarak jauh aku menyimpulkan beberapa hal tentang si akhwat; dia masuk kategoriku, Insya Allah, walaupun aku tidak punya info sama sekali tentang nasab, aktifitas serta kualitas sang akhwat. Aku hanya yakin dengan satu hal, aku bertemu dengannya pada waktu dan tempat yang baik, that’s all.

Kuamati juga bahwa sang akhwat selalu ditemani abangnya yang ikut i’tikaf. Aku tak tahu kenapa baru sekarang mereka muncul di mesjid, sebelumnya tidak. Ah, mungkin mereka baru memiliki keluangan waktu di penghujung Ramadhan ini, atau mungkin mereka peserta i’tikaf pindahan dari mesjid lain.

28 Ramadhan 1429 H
Waktuku hanya 3 hari lagi, take it atau aku akan kehilangan jejak sang Bidadari untuk selamanya. Hari ini, aku memberanikan diri untuk membicarakan masalah ini dengan guru ngajiku, Ustadz Syukri, yang juga i’tikaf di mesjid ini.

Setelah berbasa-basi sedikit, aku pun to the point.

“Begini ustadz, ana kan pernah cerita bahwa ana punya target menikah tahun ini” ujarku sedikit sungkan.

“Ya, ana ingat. Afwan akhi, ana terlalu sibuk, jadi proses antum macet deh gara-gara ana. Antum juga sih, banyak banget kriterianya, istri ana sampe bingung mencari akhwat seperti yang antum inginkan” Ustadz Syukri menjawab sambil tersenyum.

“Gak apa-apa tadz, ana ngerti kok. Alhamdulillah, akhwat yang ana maksud sudah ketemu”

“Oya? Alhamdulillah, jadi sudah sampe mana nih prosesnya?”

“Itulah masalahnya tadz. Prosesnya belum dimulai. Ana justru ingin minta bantuan Ustadz untuk memproses”.

Akupun kemudian menceritakan dengan detil apa yang sudah kuketahui terkait sang akhwat dan detil rencanaku ke depan, agar Ustadz bersedia menghubungi abang sang Bidadari. Jika sang akhwat sudah ok, tinggal proses ke masing-masing keluarga yang bisa dilakukan setelah Ramadhan. Aku sudah membayangkan wajah kedua orang tuaku yang pasti sangat bahagia mendengar berita ini.

“O… jadi begitu ceritanya. Ok, Insya Allah ana akan segera menghubungi Ikhwan itu” Ustadz Syukri pun meminta aku untuk menunjukkan ikhwan yang kumaksud. Setelah sang target dikenali, ternyata Ustadz Syukri langsung menjalankan misi tersebut. Subhanallah, Ustadz Syukri itu memang tipe tembak langsung, gak pake delay!

Aku hanya sesekali mencuri pandang ke arah mereka yang kulihat terlibat percakapan serius. Sambil terus berdoa moga misiku berhasil. “Istajib du’ai ya Rabb… , Amin”.

Waktu seperti berhenti bergerak, ketika setelah sekian menit menunggu, akhirnya kulihat Ustadz Syukri mengakhiri percakapan dengan sang Ikhwan sambil menjabat tangan dan saling tersenyum renyah. Mudah-mudahan ini pertanda baik, batinku.

Aku pun segera menyongsong Ustadz Syukri yang bergerak menghampiriku sambil tersenyum.

“Bagaimana tadz?“ tanyaku penasaran.

“Sabar akhi, antum sepertinya penasaran sekali. Ayo duduk dulu, biar lebih nyaman kita ngobrol”.

“Begini, ana sudah sampaikan maksud antum ke ikhwan tersebut. Dan sebelum dia menjawab, ikhwan tersebut, yang bernama Razaq, berkali-kali memastikan bahwa apakah benar akhwat yang antum maksud itu adalah akhwat yang sering terlihat berbicara dekat dengannya”.

“Benar Ustadz, akhwat itu yang ana maksud. Karena selama i’tikaf dimesjid ini, tidak ada akhwat lain selain dia. Jama’ah perempuan semuanya berisi ibu-ibu separuh baya. Jadi ana tidak mungkin salah” sahutku segera.

“Memangnya kenapa tadz? Apa akhwat itu bukan adek Akh Razaq? Tapi mereka terlihat begitu akrab, tidak mungkin meraka bukan mahram kalau melihat kedekatan mereka. Apalagi, wajah mereka begitu mirip satu sama lain”

“Ya, benar. Hubungan mereka memang sangat dekat. Tapi bukan hubungan antara abang dan adik seperti yang antum bilang”

“Jadi apa tadz?” sampai di sini aku mendadak pusing dan pandanganku mulai kabur. Tiba-tiba terlintas sebuah dugaan lain tentang hubungan mereka yang kemudian disanggah dengan kuat oleh sebagian sisi hatiku.

“Mereka adalah sepasang suami istri” jawab Ustadz sambil menutup wajahnya yang aku tak tahu menggambarkan apa. Antara geli dan sedih mungkin.

Sedangkan aku? Aku tak tahu masih menginjak lantai mesjid atau tidak…

(Based on true story)

Penulis : Ummu Sabiq
Dipublikasikan pertama kali oleh bersamaislam.com

Facebook Comments