Teuku Wisnu dan Kearifan Menyikapi Perbedaan Fiqih

Islamedia – Saya sangat mengapresiasi sosok Teuku Wisnu. Berhijrah dari gempita selebrita, menjadi sosok santun dekat dengan takwa. Meninggalkan pundi-pundi rupiah, merajut asa meraup berkah. Mengubah pergaulan dengan bintang-bintang Indowood dengan bergabung bersama jamaah Indogood.

Saya sendiri belum tentu mampu melakukan totalitas hijrah. Konon dibayar 20 juta sekali shooting sinetron yang stripping, tak kenal henti setiap hari sepanjang minggu dan bulannya. Jika hitungan 20 hari kerja perbulan, Teuku Wisnu meraup 400 juta perbulannya dipotong pajak. Belum penghasilan dari iklan dan lain sebagainya. Apakah penghasilan yang sama dapat diraih secepat jualan herbal?

Di tengah pencarian soal jati diri keIslaman yang syamil mutakamil, Teuku Wisnu sudah memulainya dengan langkah yang baik. Belajar dari manhaj Salafy, yang fokus pemurnian akidah dan pembersihan dalam ibadah dan muamalah sesuai Sunnah. Namun sejatinya, ada baiknya Teuku Wisnu melakukan rihlah ilmiyah (wisata ilmu) dan rihlah ruhiyah (wisata ruhani) dengan berguru kepada alim ulama lainnya dan membaca buku selain dari buku-buku manhaj Salafy.

Di antara sisi minus kalangan Salafy saat ini adalah, terlalu menjadikan kehidupan Saudi Arabia sebagai standar. Dimana memahami Sunnah Rasul itu adalah dijelmakan dari fatwa-fatwa beberapa ulama Saudi Arabia saat ini. Fatwa-fatwa yang mungkin sangat pas jika berlaku di kehidupan Saudi yang tentu berbeda jauh dengan Indonesia, bahkan berbeda dengan negara-negara Arab tetangga Saudi.

Di tengah prahara dan derita umat Islam di seluruh dunia. Mulai dari Palestina, Syiria, Irak, Mesir, Myanmar, Tajikistan, China, India, dan Indonesia. Juga kekuatan Syiah yang demikian merajalela. Ada baiknya pemahaman terhadap “hal baru” yang masih dalam koridor ikhtilaf menjadi pengetahuan pribadi dahulu, sebelum kemudian melakukan rihlah ilmiyah dan ruhiyah. Andaipun ilmunya semakin mendalam, maka kearifan yang akan dihasilkan.

يقول الشيخ محمد بن صالح العثيمين – رحمه الله – :
” الواجب على مَن علِم بالدليل أن يتبع الدليل ، ولو خالف مَن خالف من الأئمة ، إذا لم يخالف إجماع الأمة .
ومَن ليس عنده علم : فهذا يجب عليه أن يسأل أهل العلم لقوله تعالى : ( فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنْتُم لاَ تَعْلَمُونَ ) يسأل مَن يراه أفضل في دينه وعلمه ، لا على سبيل الوجوب ؛ لأن من هو أفضل قد يخطئ في هذه المسألة المعينة ، ومن هو مفضول قد يصيب فيها الصواب ، فهو على سبيل الأولوية ، والأرجح : أن يسأل من هو أقرب إلى الصواب لعلمه وورعه ودينه ” .
انتهى باختصار من كتابه ” الخلاف بين العلماء ” ( ص 15 – 17 ) .

Syaikh Muhammad bin Shalin Al-Ustsaimin berpesan, “Bagi yang mengetahui dalil maka wajib baginya mengikuti dalil walaupun berbeda pandangan dengan pandangan para imam, selama tidak bertentangan dengan ijmak di kalangan umat. Barangsiapa yang tidak memiliki pengetahuan dalil, maka wajib baginya bertanya kepada Ahlul Ilmi sesuai firman Allah; ‘Bertanyalah kepada ahli dzikir (ulama) jika kalian tidak mengetahui. Bertanya kepada orang yang menurutnya memiliki keutamaan dalam masalah agama dan ilmu, tidak dalam posisi wajib diikuti. Sebab orang yang memiliki keutamaan bisa salah dalam masalah tertentu. Ada juga ulama yang kapasitas di bawah namun bisa jadi benar. Perintah di atas adalah bagian dari jalan skala prioritas. Hanya saja yang rajih adalah, ia harus bertanya kepada orang yang lebih dekapt kepada kebenaran karena faktor ilmu, wara’, dan komitmen beragamanya.” (Al-Khilaf Bainal Ulama, hlm. 17-17)

Saya yakin, posisi Teuku Wisnu belum pada posisi Ahludz Dzikri dan mungkin baru tahu sedikit dalil. Melengkapinya dengan kearifan bagian dari Sunnah Rasul. Jangan sampai karena saking semangatnya menjalankan Sunnah, kita melanggar Sunnah. Namun sekali lagi, salut kepada Teuku Wisnu yang berani berhijrah. Di saat para ulama yang dalilnya segudang, masih susah sekedar meninggalkan rokok. [Nandang Burhanudin]

Related Posts

Facebook Comments