Terungkap, Pelaku Teror Idul Fitri di Tolikara Jalin Kerjasama dengan Israel

Islamedia – Kelompok teror dari massa Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) yang melakukan penyerangan kepada umat Islam saat sedang menunaikan shalat Id dan melakukan pembakaran masjid di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua, Jumat (17/7) kemarin, kini menjadi sorotan.

Seperti dilansir dari laman Pusatgidi.org, Sabtu (18/7) organisasi tersebut terdaftar secara resmi di Kemenag. GIDI memiliki visi ‘Umat GIDI Masuk Sorga (The Community of GIDI Enter Heaven)’. Adapun, misinya ada empat, yaitu Penginjilan, Pemuridan, Pembaptisan, dan Pengutusan.

Dari laman tersebut, terungkap pula pelaku teror yakni GIDI memiliki program kerjasama dengan Israel. Kerjasama dengan Kehilat Ha’Seh Al Har Zion (KHAHZ) tersebut disepakati pada 20 November 2006.

Perlu diketahui, GIDI pertama kali dirintis oleh tiga orang missionaris asing dari Badan Misi UFM dan APCM yaitu Hans Veldhuis, Fred Dawson, Russel Bond. Setelah merintis pos di Senggi termasuk membuka lapangan terbang pertama Senggi (1951-1954), pada tanggal 20 Januari 1955 ketiga misionaris beserta 7 orang pemuda dari Senggi terbang dari Sentani tiba di Lembah Baliem di Hitigima menggunakan pesawat amphibi ‘Sealander’.

Kemudian mereka melanjutkan misi dengan berjalan kaki dari Lembah Baliem ke arah Barat pegunungan Jayawijaya melalui dusun Piramid. Dari Piramid bertolak menyeberangi sungai Baliem dan menyusuri sungai Wodlo dan tiba di Ilugwa. Setelah mereka beristirahat lanjutkan perjalanan ke arah muara sungai Ka’liga (Hablifura) dan akhirnya tiba di danau Archbol pada tanggal 21 Februari 1955.

Di area danau Acrhbold disilah pertama kali mereka mendirikan Camp Injili dan meletakkan dasar teritorial penginjilan dengan dasar visi: ‘menyaksikan Kasih Kristus Kepada segala Suku Nieuw Guinea’. [rol/islamedia/YL]

Related Posts

Facebook Comments