Tak ada Gebrakan di Dunia Pendidikan, Mahasiswa di Paris Sampaikan Surat Tuntutan ke Jokowi

Perhimpunan Pelajar Indonesia di Paris

Islamedia – Sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi pendidikan di Indonesia saat ini yang dinilai tak ada gebrakan, mahasiswa Indonesia di Paris yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia Paris (PPI Paris) menyerahkan ‘surat tuntutan’ ke Presiden RI Joko Widodo melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, Kamis (5/11/2015) lalu.

Surat tuntutan mahasiswa ditujukan kepada Jokowi, agar Presiden RI itu peduli pada bidang pendidikan.

“Kami lihat setahun ini tidak ada gebrakan yang signifikan pada kebijakan pendidikan,” ujar perwakilan PPI Paris, Muhammad Yusra dalam siaran pers seperti dilansir Republika, Ahad (8/11/2015).

Yusra, yang merupakan mahasiswa doktor ilmu hubungan internasional di Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne tersebut mencontohkan permasalahan pendidikan yang saat ini masih membelit Indonesia, di antaranya kuliah dalam negeri masih yang masih mahal, beasiswa yang didominasi mahasiswa-mahasiswa pulau jawa dan sekitarnya, serta ruang kesempatan kerja yang minim bagi lulusan perguruan tinggi yang S1 dan S2.

Oleh karenanya PPI Paris menuntut Jokowi untuk membuat kebijakan khusus bagi generasi muda untuk bekerja atau diberikan simultan khusus untuk berwirausaha (entrepreneur).

“Harus ada semacam keputusan Presiden yang mendorong hal tersebut. Harus ada ruang khusus bagi generasi muda mengembangkan kapabilitasnya di berbagai bidang,” ujar Yusra.

Sebagaimana diketahui, pada Kamis (5/11/2015) lalu, Mendikbud Anies Baswedan berkesempatan berkunjung ke KBRI Paris. Anies bertemu dengan masyarakat Indonesia, khususnya pelajar yang tergabung PPI Paris.

Kesempatan tersebut dimanfaatkan PPI Paris untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada Mendikbud. Pembahasan yang diangkat pada diskusi meliputi permasalahan kesempatan mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan studi di luar negeri, kualitas dan kesejahteraan guru, akses sumber literatur dan penelitian asing, perlindungan dan pemberdayaan budaya adat, hingga polemik Beasiswa Unggulan Dikti yang menimpa sejumlah mahasiswa Indonesia di Eropa.[islamedia/rol/YL]

Facebook Comments