Sultan Murad dan Perang Maritza

Ilustrasi Sultan Murad, Sumber : wikipedia.org

Islamedia – Paus V mengumandangkan seruan perang melawan Muslimin Turki Utsmaniyah, yang dijawab oleh raja-raja dari Balkan, Bulgaria, Serbia, Hungaria dan Walachia. Murad yang saat itu sedang berkonstrasi menstabilkan daerah Asia Kecil melawan Karaman di Anatolia, mengutus Lala Syahin Pasya (gubernur partama Rumeli) sebagai Panglima untuk menghadang Pasukan Salib. Mereka bertemu di Tasyirmen, dekat Sungai Maritza. Jumlah masing-masing pasukan relatif sebanding, 60.000 vs 60.000 jiwa.

Pertempuran menggelegar dengan kekalahan telak di pihak Eropa pada 26 September 1371 M. Dua komandan Serbia melarikan diri, dan tewas tenggelam di Sungai Maritza. Sementara Raja Hungaria selamat bersama sisa-sisa pasukannya. Dengan kekalahan ini, wilayah Bizantium semakin menyusut, daerah Turaqiya dan Macedonia, tempat tumbuh besarnya Alexander the Great, masuk ke wilayah Utsmani.

Rongrongan pasukan gabungan Balkan dan Bulgaria terus menggoyang Muslimin. Akhirnya pertempuran Qawsharah (Pantellaria) pecah yang dimenangkan umat Islam. Menjelang pertempuran itu, seorang menteri Sultan Murad datang dengan membawa mushaf alQur’an, ketika ia membukanya, tanpa sengaja pandangannya langsung mengarah pada sebuah ayat :

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.” (QS. 8 : 65).

Bersemangatlah pasukan Muslimin, ditambah dengan doa panjang sang
sultan menjelang pertempuran di jalan Allah ini,:

“Ya Allah Yang Maha Pengasih. Tuhan langit, wahai Tuhan yang menerima doa, janganlah Engkau jadikan aku orang yang merana, wahai Yang Maha Pengasih. Ya Allah kabulkanlah doa hamba-Mu yang fakir ini. Turunkanlah pada kami hujan yang lebat, sirnakanlah mendung kegelapan sehingga kami bisa melihat musuh kami.

Kami tak lain hanya hamba-Mu yang banyak melakukan dosa…saya tak lebih dari seorang hamba-Mu yang demikian rindu karunia-Mu…Sesungguhnya tak ada tujuan dalam diriku satu kepentingan dan maslahat, tidak pula ambisiku untuk mendapatkan harta rampasan perang…kecuali rasa rinduku pada ridla-Mu ya Allah yang Maha Tahu. Ya Rabb, untuk kali ini perkenankanlah hamba syahid di jalan-Mu dan demi mencapai ridla-Mu…”

Kemenangan ini menjadi kabar gembira bagi kaum Muslimin, tapi suka cita itu beberapa tahun kemudian dirundung mendung ketika sang sultan wafat terkena tikaman musuh ketika memeriksa kondisi pasukan paska Perang Kosovo tahun 1389 M melawan Serbia pimpinan Lazar.

Sultan mendatangi dan menyemangati pasukannya di antara tubuh-tubuh yang tergolek luka, lemah, dan yang tak bernyawa, termasuk mayat-mayat musuh. Tiba-tiba muncul seorang sabilis bernama Milos Obilic, mendekati sultan. Pasukan pengawal mencegah mendekatnya orang asing yang berniat membunuh sultan. Namun ia berkilah dan meyakinkan keinginannya untuk menjadi muslim di hadapan sultan. Mendengar demikian, sultan mempersilahkannya, ia pun datang mencium tangan sultan, dan secepat kilat ia mengeluarkan pisau beracun yang ditusukkannya ke tubuh sultan. Tidak lama, sultan pun syahid pada 15 Sya’ban 791 H. Kemurahan hati sang sultan telah menutupi kewaspadaan yang seharusnya ia jaga setiap saat.

Sejarawan Inggris, Halaco Nadeles mengomentari tentang sultan yang memimpin selama 30 tahun ini, “Murad telah melakukan hal yang penting dan besar. Ia terjun dalam 37 peperangan, baik di Anatolia ataupun di Balkan. Dan ia keluar sebagai pemenang. Ia memperlakukan rakyatnya dengan penuh kasih sayang tanpa melihat perbedaan etnis dan agama.

Keynard, sejarawan Perancis pun mengungkapkan, “Murad adalah seorang penguasa imperium Utsmani terbesar. Jika kita telah lakukan klasifikasi, maka akan kita dapatkan dia jauh berada di atas pemimpin-pemimpin Eropa di masanya.”

Oleh : Abu Fatah Grania, penulis Panglima Surga
@nugrazee

Facebook Comments