Suami Istri Perang Besar Karena Hutang

Suami Istri Perang Besar Karena Hutang

Islamedia – Puluhan curhatan itu masuk ke inbox saya di FB Messenger, rumah tangga yang dibangun dengan niat mulia mencari ridho Allah, hancur lebur karena urusan utang dan riba yang bertahun-tahun tidak selesai.

Pihak istri sering yang lemah dan kalah seperti wanita pada umumnya, ngikut suami aja.. Tapi ketika di depan sudah ada jurang kehancuran, apa si istri diam saja? Melihat biduk rumah tangga sudah di mulut jurang menganga..

Kisah satu..
Di Jawa Timur ada yang cerai suami istri karena utang di bank hingga 3,8 Milyar. Suaminya terlalu menggebu-gebu dalam bisnis tanpa hati-hati melihat resiko. Istri protes keras, memaksa suaminya menjual aset-asetnya, suaminya kekeuh ngeyel, justru take over dari satu utang pindah ke utang lain dengan cara top up, naikin plafon dengan menggoreng rekening. Alasan klasik, buat nambah modal…
Hadist Nabi yang ini kena ke mereka: Nabi Muhammad SAW bersabda: “Jauhi tujuh perkara yang membinasakan (membawa pada kehancuran), diantaranya… memakan RIBA” [HR Bukhari 2766 & Muslim 89]

Sang istri akhirnya angkat tangan, memilih cerai, meninggalkan rumah yang seperti neraka itu. Kalimat endingnya bikin saya nyesek terharu.
“Sekarang saya tinggal di sebuah kos sendirian mas, dengan motor seadanya saya memulai lagi dari nol berjualan kue keliling. Setiap saya makan, saya bisa sampai nangis mas, setiap sendok nasi yang masuk ke mulut saya rasanya nikmaaaat sekali.. Hasil jerih payah saya sendiri, bukan dari hasil utang riba. Saya nangis bersyukur pada Allah diselamatkan dari masalah yang menyiksa hidup ini..”

Kisah kedua…
Suami istri sama gilanya.. Hobinya menumpuk harta mainan utang disini dan disana. Semua yang dimiliki dianggap asset, padahal itu adalah hasil utang riba. Punya mobil Alphard pun hanya tampak mewah diluarnya saja.. dalemannya? Aaah ternyata barang utangan juga.. Bukan punya dia! Tapi punya leasing yang dipinjamkan, kalo gak bisa bayar ditagih juga, bahkan bisa dilelang.. Hanya menang make dan gaya, tapi gak memiliki..

Jeweran Allah terjadi ketika bisnis yang mereka kelola mulai turun grafiknya. Masalah klasik datang menerpa. Pembayaran ngadat, rugi produksi, karyawan pada pergi. Pesanan banyak yang terhenti.. Sementara cicilan untuk gaya hidup dan modal tetap berjalan, pihak bank mulai datang ke rumah buat nagih, gak terbayar juga.. yang nagih mulai mulai debt collector yang penampakannya kayak preman.. Gimana mau hidup tenang?

Istrinya yang sadar duluan ketika di sebuah pengajian mendapat materi tentang bahaya riba.. Niat hijrah timbul, dan mulai mengajak diskusi suaminya. Dan biasa, posisi wanita lemah, sarannya gak digubris.. Bulan berlalu bisnis mereka makin merosot, energi habis hanya untuk bayar cicilan, boro-boro mikir pengembangan bisnis, fokusnya adalah gimana caranya cicilan bulan ini terbayar biar preman-preman itu gak datang ke rumah!

Istrinya gak kehabisan akal, di suatu seminar dia berhasil mengajak suaminya datang. Disana bertemu orang-orang yang berjuang membebaskan dirinya dari utang.. Baru deh kena setrum! Suara istrinya gak di dengar, tapi hidayah datang dari orang lain.. Buanyak lagi orangnya, jadi kayak pipi ditampar sandal kanan kiri berulang kali.. Teplok plak!! Teplok plak!! Plak! Plak!! Plak!! …. Biru Erem!

Hehehe… Dalam perjalanan pulang akhirnya hidayah itu datang,
“Mah… Kita hijrah! Saya yang salah.. Mulai besok kita jual aset-aset kita untuk membayar semua utang, kita mulai dari awal lagi, kita berbisnis dengan bersih tanpa utang riba, agar Allah ridho dalam kehidupan keluarga kita…
Happy ending! Tidak sampai cerai.. Rumah tangga terselamatan.. Alhamdulillah!

Kisah ketiga..
Saking gak kuat dengan gaya hidup suaminya, si istri sampai sakit. Ketika ketemu dengan mereka, badannya kurus dengan batuk-batuk kecil yang tampak menyiksa. Gilee utangnya ada belasan titik, bank ini-itu, BPR sampai Kospin diembat.. Gilanya uangnya ada yg buat bisnis bangkrut, ada juga yang buat di investasi abal-abal yang dijanjikan untung puluhan persen perbulan! Ya ludesss lah..

Nabi Muhammad SAW bersabda,
مَا أَحَدٌ أَكْثَرَ مِنَ الرِّبَا إِلاَّ كَانَ عَاقِبَةُ أَمْرِهِ إِلَى قِلَّةٍ “Siapapun yang memperbanyak hartanya dari RIBA maka ujung akhir urusannya adalah kemiskinan.” [HR. Ibnu Majah 2365]

Kena deh di hadist itu, Suaminya saya ajak ngomong banyak bengongnya.. Ini yang kadang bikin males dan mulesss kalo dicurhati soal riba hehe, walaupun endingnya si suami setuju menjual mobil dan aset utangan yang dimiliki.. Yang saya kaget, beberapa mobil yang dimiliki adalah mobil bodong tanpa BPKB, tapi bisa jadi agunan utang di bank-bank kampung abal-abal. Sampai ada yang bilang itu rentenir berbadan hukum.. Ck ck ck!

Kuncinya ketika mau hijrah adalah: SUAMI ISTRI HARUS SATU VISI!
Satu tujuan..
Satu pandangan..
Satu cita-cita untuk bebas utang!

Kalo gak sevisi bakalan susah berjalan, si suami masih ngeyelan, istrinya pasrah hidup dalam tekanan. Atau sebaliknya, suaminya sudah niat berhijrah tapi si istri gaya hidupnya bikin puyeeeng kepala..

Di Seminar Pengusaha Tanpa Riba yang pernah saya lihat dan ikuti, ada satu sesi ketika suami istri dipertemukan dalam penyatuan visi. Ketika pemahaman bahaya riba nancep di hati, nangis-nangis menyesal..

“Carilah pasangan anda sekarang! Istri dan suami anda! Teman berjuang menghadapi semua ini..”

Karena tempat duduk dipisah antara pria dan wanita, mereka yang datang berpasangan langsung lari berhamburan! Ketika bertemu suami atau istrinya langsung berpelukan erat sambil nangis bareng… Mewek-mewek on lokesien! Masya Allah! Hebatnya sebuah hidayah dari Allah..

Biasanya testimoni di akhir acara, suami istri jadi meledak-ledak di panggung ingin lepas dari semua utang dan riba.. Wuuuiih! Bikin yang melihat bergemuruh di dada!

Bola ditangan kita.. Apakah mau membiarkan keluarga kita makin jauh jatuh ke jurang? Atau bergandengan erat dengan pasangan menjauh dari kehancuran..

Salam,

Saptuari Sugiharto

@Saptuari

Facebook Comments