Samahah Islam

Islamedia – TOLERANSI sedang di ujung tanduk. Kaum Muslimin yang mayoritas kembali terdzalimi di wilayah minoritas. Sebagaimana telah diberitakan baru-baru ini, saat sedang melaksanakan Shalat Ied umat Muslim di Tolikara Papua dibubarkan oleh sekelompok massa Kristen dari Gereja Injili Di Indonesia (GIDI). Satu Masjid dan puluhan kios dibakar. Hingga saat ini, warga Muslim Tolikara masih belum merasa nyaman dan aman, trauma dengan aksi radikal sekte GIDI.

‘Riak-riak’ radikalisme kelompok GIDI sebetulnya telah ada sebelumnya. Namun terbiarkan tidak pernah diberitakan secara luas. Jilbab dilarang di Tolikara. Umat Islam sebenarnya masih bersabar. Larangan menggunakan pengeras suara pun ditaati. Namun semua kerelaan warga Muslim ini tidak cukup bagi kaum Kristen radikal.

Lalu ke mana Muslim Tolikara membela? Ketika tekanan demi tekanan dilakukan Kristen radikal itu berlangsung, pemerintah tidak mampu berbuat. Tidak ada perlindungan untuk kebebasan kaum Muslim menjalankan ritual dan ibadah. Jilbab dilarang, padahal di mana-mana biarawati bebas memakai penutup kepalanya. Pengeras suara dilarang, padahal di Jawa bel Gereja bebas dibunyikan di hari Minggu. Apa salahnya Muslim Tolikara?

Jelas saja ini noda besar bagi toleransi beragama di Indonesia. Di Jawa atau daerah lainnya, minoritas Kristen bebas membunyikan bel Gereja, menyanyi dengan alat musik di Gereja, pengobatan massal, bahkan kaum Kristiani banyak melanggar aturan pendirian Gereja. Kristen di sini sebenarnya sangat aman dan nyaman.

Selama ini, dalam kasus-kasus Gereja di Jawa dan Sumatera, terkesan Kristen yang terdholimi. Padahal sebenarnya tidak. Kasusnya adalah Kristen melanggar aturan UU pendirian tempat ibadah. Protes umat Islam pun masih sangat wajar terhadap hal ini. Tidak ada yang dibunuh, dibakar dan diusir. Umat Islam yang hanya protes, tidak membakar, bagi kita sangat bisa dimaklumi.

Karena itu kita harusnya patut bertanya, apakah toleransi itu khusus untuk Muslim, tidak untuk Kristen? Jika ini kenyataannya, inilah ancaman luar biasa terhadap toleransi. Mohon hal ini dihentikan. Sejak awal berdiri negara ini, toleransi itu untuk semua penganut agama. Tidak ada pilih-pilih.

Semula kita berharap cukup besar dengan adanya FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama). Namun kita lihat FKUB lebih banyak aktif di Jawa, Sumatra, Kalimantan atau daerah-daerah mayoritas Muslim. Ironinya, di sebuah daerah di Jawa Tengah FKUB menjadi sarana menjalan misi Kristen. Harusnya FKUB lebih banyak mengadakan kegiatan di daerah rawan kerusuhan agama, seperti Ambon, Papua dan NTT, bukan di daerah Muslim yang sudah aman dan tentram dengan toleransinya.

Barangkali tidak semua sekte Kristen adalah radikal. Tapi dengan kejadian ini, sulit untuk tidak mengatakan ada sayap radikal dalam Kristen.

Kabarnya, bibit radikalisme GIDI ‘diimpor’ oleh pendeta-pendeta luar negeri. Selama ini ada gelombang impor besar-besaran paham radikalisme yang dibawa dari luar. GIDI pertama kali dirintis oleh Hans Veldhuis, Fred Dawson, dan Russel Bond. Ketiganya anggota badan misi Kristenisasi, UFM dan APCM. Ketiganya datang pada tahun 1955. Sejak itu banyak warga yang masuk Kristen aliran GIDI. Dan cenderung radikal.

Rupanya memang dalam kitab Injil belum ada aturan tentang konsep toleransi. Bandingkan dengan Islam, hubungan mayoritas dan minoritas diatur dengan rapi. Ada konsep samahah(yang diterjemahkan toleransi), ada ahlu dzimmah, fikih minoritas dan lain-lain. Kitab injil tidak kenal hal-hal begini.

Dalam kaitannya dengan interaksi antara kaum Muslim dan non-Muslim atau kepercayaan yang berbeda, Islam memiliki dua konsep penting; “toleransi” dan ”dakwah”. Toleransi (samahah/tasamuh) merupakan ciri khas dari ajaran Islam. Di mana saja daerah yang diberlakukan tradisi Islami, di situ ada samahah. Islam mempunyai kaidah dari sebuah ayat Al-Qur’an yaitu laa ikraaha fi al-dien (tidak ada paksakan dalam agama).

Dalam bahasa Arab, kata “tasamuh” adalah derivasi dari “samh” yang berarti memberi kemudahan dan keluasan.

Dalam Islam, toleransi berlaku bagi semua orang tidak ada tebang pilih, baik itu sesama umat muslim maupun non-muslim. Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya Ghair al-Muslimin fii al-Mujtama’ Al-Islami menyebutkan ada empat faktor utama yang meyebabkan toleransi yang unik selalu mendominasi perilaku umat Islam terhadap non-muslim, yaitu ; Keyakinan terhadap kemuliaan manusia, apapun agamanya, kebangsaannya dan kerukunannya, Perbedaan bahwa manusia dalam agama dan keyakinan merupakan realitas yang dikehendaki Allah Swt yang telah memberi mereka kebebasan untuk memilih iman dan kufur, Seorang muslim tidak dituntut untuk mengadili kekafiran seseorang atau menghakimi sesatnya orang lain. Allah sajalah yang akan menghakiminya nanti. Keyakinan bahwa Allah Swt memerintahkan untuk berbuat adil dan mengajak kepada budi pekerti mulia meskipun kepada orang musyrik. Allah juga mencela perbuatan dzalim meskipun terhadap kafir (Yusuf al-Qardhawi, Ghair al-Muslimin fii al-Mujtama’ Al-Islami, hal 53-55).

Namun kaidah ini tidak menafikan unsur kewajiban dalam Islam. Dakwah dalam Islam bersifat mengajak, bukan memaksa. Aturan ini pun bagian dari konsep samahah. Dari kaidah inilah maka ketika non-muslim (khususnya kaum dzimmi) berada di tengah-tengah umat Islam atau di negara Islam, maka mereka tidak boleh dipaksa masuk Islam bahkan dijamin keamanannya karena membayarjizyah sebagai jaminannya. Pemaksaan justru dilarang. Bandingkan dengan fatwa Gereja berbunyi:“open the Christ” .

Toleransi antar umat beragama berada dalam wilayah muamalah duniawi, Islam menganjurkan umatnya untuk bersikap toleran, tolong-menolong, hidup yang harmonis, dan dinamis di antara umat manusia tanpa memandang agama, bahasa, dan ras mereka. Dalam hal ini Allah berfirman (yang artinya), Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim (QS. Al-Mumtahanah: 8-9).

Imam al-Syaukani dalam Fath al-Qadir menyatakan bahwa maksud ayat ini adalah Allah tidak melarang berbuat baik kepada kafir dzimmi, yaitu orang kafir yang mengadakan perjanjian dengan umat Islam dalam menghindari peperangan dan tidak membantu orang kafir lainnya dalam memerangi umat Islam. Ayat ini juga menunjukkan bahwa Allah tidak melarang bersikap adil dalam bermuamalah dengan mereka. Kafir dzimmi itu dilindungi karena taat pada kepemimpinan Islam dan tidak menyebarkan kesesatan kepada umat Islam. Bahkan umat Islam dilarang mendzalimi ahl al-dzimmi ini.

Berbuat baik dan bersikap bijak dengan ahl al-dzimmitidak menghalangi Islam untuk berdakwah. Mereka tetap disebut dakwah Islam, tapi bukan bersifat memaksa. Namun tidak ada kompromi terhadap penyimpangan agama, penistaan atau pencampur adukkan agama atas nama toleransi. Jika ada penyimpangan dan penistaan – yang bisa memancing konflik sosial – Islam segera mencegahnya, tidak boleh dibiarkan, seperti yang telah dilakukan oleh Nabi dan Abu Bakar dalam keterangan di atas.

Allah berfirman (yang artinya), Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang batil, dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedangkan kamu mengetahui (Q.S Al-Baqarah: 42). Imam al-Thabari menukil penjelasan Imam Mujahid (murid Ibnu Abbas) mengenai maksud ayat Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang batiladalah mencampuradukkan ajaran Yahudi dan Kristen dengan Islam.

Baik umat Islam atau umat non-muslim, Islam menjamin kebebasan beragama dan mengakui kemajemukan. Tempat ibadah non-muslim dan kepercayaan aliran lain tidak boleh diganggu. Islam juga terbuka membuka dialog-dialog cerdas. Namun, jika ada aktifitas dan gerakan publik menista kesakralan, aparat harus bertindak tegas. Sebab, masing-masing agama memiliki nilai kesakralan yang jika diusik memantik emosi pengikutnya. Segala bentuk penodaan dan pelecehan nilai-nilai sakral mestinya dilarang, apalagi digelar secara publik. Pengikutnya jelas memiliki hak untuk melakukan pembelaan.

Jadi, aturan Islam begitu rapi. Minoritas tahu diri, mayoritas melindungi dan menghargai. Karena sudah ada sekian kali kasus radikal Kristen, kita boleh mengusulkan apa perlu program deradikalisasi untuk sekte-sekte Kristen? Jika perlu, program ini layak belajar pada konsep samahah dalam Islam.

Sumber : Kholili Hasib

Related Posts

Facebook Comments