Ramadhan, Antara Khawatir dan Berharap

Islamedia  Badan Fitriana Hapsari seakan tak bertulang, syok, ketika menerima kabar suami tercinta Kapten Sandy Permana tewas saat pesawat Hercules C-130 dengan nomor terbang A 130 yang dipilotinya, gagal terbang dan jatuh di Jalan Jamin Ginting, Medan. Air mata ibu beranak dua itu seakan kering, tak kuasa menahan pilu dan duka.

Dalam kejadian itu, ratusan orang tewas, termasuk di dalamnya seluruh kru, penumpang dan warga yang tertimpa reruntuhan pesawat nahas itu. Tragedi memilukan tersebut terjadi pada hari Selasa (30/6), bertepatan dengan hari ke-13 Ramadhan. Semoga Ilahi Rabbi membalas segala amal para korban saat masih hidup.

Tragedi ini menjadi bukti nyata untuk yang kesekian kalinya akan kekuasaan Allah SWT. Bahwa umur manusia ada yang punya. Kita bukanlah pemilik umur tersebut. Bila suatu saat pemilik umur memintanya kembali, maka tak ada satu orang pun yang bisa menolaknya. Suka atau tidak suka, cepat atau lambat, umur pasti akan kembali kepada pemiliknya.

Dan kematian inilah yang akan memutus semuanya. Ia memutus antara istri dan suami. Begitu juga sebaliknya, antara suami dan istri. Kematian pula yang memutus seorang ayah dengan anak-anaknya. Ayah dengan menantunya. Paman dengan keponakannya. Karena kematian, anak kehilangan ayahnya. Istri kehilangan suaminya atau sebaliknya suami kehilangan istrinya.

Bila kematian telah tiba, maka berhentilah segalanya. Berhenti segala aktivitas kita. Berhenti catatan amal baik dan buruk kita. Berhenti pula tugas malaikat mencatat segala tindakan kita. Seperti halnya perusahaan, catatan aktivitas kita, tutup buku. Tinggal kita mempertanggungjawabkan segala tindakan saat hidup di hadapan Ilahi Rabbi di hari yang telah ditentukan kelak.

Di hari ke-17, masuk putaran ke-2 sepuluh hari Ramadhan, ada baiknya kita kembali melakukan introspeksi diri terhadap amal yang telah kita jalani selama ini, khususnya di bulan Ramadhan. Dengan dua sikap, yaitu sikap selalu merasa khawatir dan selalu berharap.

Sikap pertama lebih kepada sikap kehati-hatian kita. Bukan sikap ragu, tapi lebih kepada sikap kehati-hatian diri. Jika suatu amal telah dilakukan, janganlah cepat berpuas diri. Justru kudu mawas diri dengan bertanya pada diri sendiri jangan-jangan tindakan kita tadi belum sesuai kehendak-Nya dan ikuti Rasul-Nya. Jangan-jangan amal tadi tidak diterima Allah SWT.

Karena itulah, landasi setiap tindak atau amal kita dengan landasan yang benar, yaitu ikhlas semata-mata mengharap ridha dan pahala dari-Nya. Karena hanya amal yang dilandasi mengharap kepada-Nya yang memiliki peluang besar untuk diterima Allah SWT.

Amatlah rugi bila segala tindakan kita tidak dilandasi iman yang benar dengan mengharap ridha-Nya. Rugilah waktu, tenaga, kerja keras kita bila tindakan tersebut tidak ditujukan kepada Allah. Karena kita tidak bisa meminta waktu untuk balik berputar. Ia akan terus berjalan mengikuti kehendak pencipta-Nya.

Jangan biarkan waktu berjalan, namun sia-sia. Jangan biarkan waktu bergerak, namun tidak memberikan manfaat sedikit pun untuk kita. Jangan biarkan waktu berputar, namun tidak ada satu amal kebaikan pun yang kita dapatkan. Jangan biarkan ia berjalan, tanpa ada pahala yang akan menjadi pemberat amal kita kelak di akhirat. Karena amatlah merugi mereka yang diberi waktu, namun tidak dapat memberikan kebaikan dan pahala bagi diri mereka.

Sikap kedua lebih kepada ketawaduan kita sebagai hamba-Nya. Seperti halnya harapan seorang laki-laki saat melamar seorang perempuan, kita berharap setiap tindakan yang ditujukan kepada-Nya dan mengikuti Rasul-Nya, diterima Allah sebagai amal shaleh. Amal yang akan membahagiakan kita di akhirat kelak. 

Untuk itu, dalam setiap tarikan napas kita, berzikir dan berdoalah. Sering-seringlah hadapkan hati dan muka kita kepada-Nya. Tundukkanlah hati kita di hadapan Ilahi Rabbi, zat pemilik alam semesta beserta isinya. Utarakannya kefakiran diri kita di hadapan-Nya.

Kemudian, bersungkur sujudlah kepada-Nya. Tumpahkan segala rasa, harapan dan keinginan kepada Dia, Allah zat Yang Maha Kaya, Pemurah Yang Maha Mengabulkan doa-doa hamba-Nya yang shaleh. Menyesal dan menangislah di hadapannya atas segala perbuatan dosa yang kita lakukan yang kian hari kian menumpuk.

Dengan ketulusan hati, mohonlah agar Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, menjadikan sekecil apa pun tindakan kita sebagai amal shaleh yang akan memperberat timbangan amal di akhirat kelak. Ya Rabb, air mata ini telah kering, bibir ini telah kelu, tak ada lagi yang hamba-Mu harapkan, kecuali ridha dan rahmat-Mu kepada aku, keluarga, orang tua dan saudara-saudara kami.


Rivai Hutapea

Facebook Comments