Pertamina Respon Cepat Jika Harga Minyak Dunia Naik, Tapi Respon Lambat Jika Harganya Turun

PT Pertamina (Persero) dituding tidak terbuka soal harga dan meraup keuntungan sangat besar dari penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi baik jenis premium maupun solar.

“Masalah utama penjualan BBM oleh Pertamina yang lebih mahal ini karena mereka tidak pernah terbuka. Berapa cost-nya dan berapa untungnya. Jadi ini keterlaluan, Pertamina jual BBM di SPBU malah mahal, sementara yang dijual di perusahaan harga BBM-nya ada potensi untuk dijual lebih murah,” ungkap Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, Kamis (21/1/2016).

Selain itu, ia juga menjelaskan, harga murah yang diterima oleh perusahaan, selain harga minyak dunia yang sedang anjlok juga disebabkan tidak adanya bea masuk membeli dari negara tetangga. Ini dikarenakan berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), semua produk dari negara ASEAN lain termasuk minyak tidak lagi dikenai bea masuk.

“Sekarang ketika harga minyak dunia anjlok, potensi kebocoran minyak di tengah jalan untuk dikirim ke luar juga kecil karena memang harganya sedang turun,” ujarnya.

Dilansir Sindo, Pemerintah dan Pertamina dikritik karena resepon yang lambat saat harga minyak dunia merosot, dan juga tidak tegas dalam mengatur penurunan harga.

“Pemerintah dan Pertamina tidak tegas mengatur penurunan harga. Padahal kita sudah tidak lagi disubsidi. Apalagi minyak terus melorot di bawah USD40 per barel. Angka itu jadi patokan asumsi pemerintah, jika di atas USD40 baru disubsidi,” tandasnya. [sindo/islamedia]

Facebook Comments