Pakar Ekonomi: Ekonomi Maroko Tumbuh Meski Dikepung Gejolak Kawasan

Abdelilah Benkirane, Perdana Menteri Maroko.

Maroko telah berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi dan keuangan kendati berada di tengah gejolak kawasan Timur Tengah dan terpaan krisis yang memukul Uni Eropa sebagai tetangganya yang selama ini menjadi mitra ekonomi terbesar negeri monarki konstitusi tersebut, demikian dikemukakan seorang pakar seperti dikabarkan Middle East Monitor pada Rabu (26/8/2015) mengutip Anadolu Agency.

Menurut pakar ekonomi tersebut, pemerintahan Perdan Menteri Abdellah Benkirane telah mampu menjaga stabilitas di negeri yang terletak di Afrika Utara itu, hingga mencapai perbaikan ekonomi di tengah kendala baik dari internal maupun eksternal.

Menurut para pengamat, di antara hambatan eksternal itu termasuk ketergantungan ekonomi Maroko kepada Uni Eropa, di mana jumlahnya mencapai 60 persen dari total perdagangan luar negerinya.

Berbicara kepada kantor berita Turki Anadolu Agency, ekonom Maroko Mehdi Lahlou juga memperingatkan, bahwa Rabat bakal menghadapi sejumlah resiko, menyusul turunnya pemasukan dari sektor pariwisata dan barang ekspor, seperti tekstil dan pakaian, serta turunnya sektor konstruksi yang memiliki dampak signifikan bagi perekonomian Maroko.

“Masih berlanjutnya krisi eurozone, kendati ada beberapa perbaikan, akan berakibat bagi perekonomian Maroko, khususnya karena ekspor Maroko sebagian besarnya ke Perancis dan Spanyol,” ujar Lahlou, seraya menggarisbawahi bahwa tahun 2015 ini masih akan positif karena perkembangan signifikan di sektor pertanian Maroko.

Ia menjelaskan bahwa ekonomi Maroko sangat bergantung kepada sektor pertanian, yang juga bergantung kepada fluktuasi musim. Ia memperingatkan, pertumbuhan sektor manufaktur tidak akan melebihi tiga persen.

Lahlou menganjurkan kepada pemerintah Maroko untuk mengadopsi visi ekonomi baru, dalam rangka mengatasi berbagai kesulitan internal dan eksternal.

Sementara itu, Menteri Komunikasi Maroko dan jurubicara kabinet Mustapha Al-Khalfi mengatakan bahwa pemerintah telah berhasil mengurangi defisit fiskal selama dua tahun belakangan ini, setelah sebelumnya tercatat meningkat antara tahun 2011 dan 2012 dari 6,3 persen GDP ke 7,3 persen GDP. (memo/ismed)

Facebook Comments