Pak Anies, Awkarin dan Arabisasi

Pak Anies, Awkarin dan Arabisasi

Islamedia – Judulnya random banget ya. Tapi yakinlah, tulisan saya ini saling berkaitan. Selamat membaca….

Beberapa bulan yang lalu, sewaktu saya mengikuti pertemuan Ketua Yayasan seluruh Indonesia di Hotel Grand Cempaka, Pak Anies Baswedan menyempatkan membuka acara tersebut dan memberikan sambutan yang sungguh kece badai as usual. Salah satu yang paling saya ingat ialah ketika ia bercerita tentang kunjungan beberapa pemuda Indonesia ke Denmark.

Ceritanya, ada 3 pemuda Indonesia yang tiba di Copenhagen Airport langsung bergegas mencari taxi guna menuju hotel tempat menginap. Sewaktu perjalanan yang sudah tengah malam, sang supir Taxi menghentikan kendaraannya di depan traffic light yang menyala, padahal jalanan sudah sangat lengang, hanya satu dua kendaraan yang lewat. Lalu para pemuda Indonesia mengatakan kpd supir taxi tsb “kenapa tidak jalan saja mister, itu lihat jalanan kosong sekali, tak ada polisi juga”. Lalu sang supir menjawab ” Anak muda, memang mudah saja bagi saya utk menerobos traffic light ini, tak ada yang tau juga…tapi, dengan melakukan ini, saya telah merusak karakter bangsa yang telah dibangun puluhan tahun! Saya secara tdk langsung telah berusaha menghancurkan budaya bangsa ini yang telah dibangun cukup lama! Saya akan merasa berdosa dan menyesal seumur hidup saya!

Jlebbb…segitunya, cuma nerobos lampu merah doank?! Mungkin itu yang ada di pikiran anak muda Indonesia.

Kembali ke Pak Anies, beliau juga menceritakan hebatnya karakter orang-orang Jepang terutama dari segi integritas dan kejujuran. Terlalu panjang kalau saya ceritakan ulang. Point utamanya apa?! KARAKTER!! Iyah…pembangunan karakter! Karena itu beliau menyampaikan visi misinya selama menjadi mentri adalah untuk membangun karakter Bangsa, revolusi mental klo kata Pak Jokowi. Standing applaus membahana…inilah menteri pendidikan yang kita cari, yang kita tunggu, lebih dari 14 purnama ???.

Sayang, menteri keren dan kece badai ini harus berhenti atau tepatnya diberhentikan, entah apa alasannya, namun sebagai stakeholder pendidikan, saya cukup menyayangkan keputusan ini. Apa sebabnya ? Kita menuju title yang kedua tentang awkarin, yang lagi heboh, ngehits, rame dibicarakan, sampai saya pun akhirnya coba stalking siapa anak ini, sesuatu yang amat sangat jarang saya lakukan, kepoin akun orang.

Dan….eng ing eng…na’udzubillahi min dzalik, terpampanglah seorang anak muda yang….ah, sudahlah tak perlu saya jelaskan, silahkan kepoin sendiri, atau bahkan sudah banyak yang lebih tau dibanding saya.

Seorang anak lulusan terbaik di provinsinya, peraih nilai Matematika sempurna di UN SMP pd waktu itu, masuk ke Jakarta dan seperti sulap “berubah menjadi seorang gadis trendsetter”, namun sayang trendsetter dalam konotasi yang kurang baik.

AADPI? Ada Apa Dengan Pendidikan Indonesia?! Jawabannya ada di sambutan Pak Anies diatas. Kita sangat lemah dalam membangun karakter bangsa kita terutama generasi mudanya! Kita terus-terusan berorientasi nilai akademis, lalu mengenyampingkan nilai-nilai karakter yang jauh lebih utama dan sangat fundamental!

Sekolah-sekolah kita karena desakan Pasar, berlomba-lomba menjadikan siswa/i unggul dalam bidang akademis, unggul dalam bidang sains, teknologi, nilai UN yang sempurna, tapi lalai dalam membangun karakter. Saya pernah berbincang dgn sahabat yang lama tinggal di luar negri, dia berkata “disini, mengajarkan anak untuk antri pun butuh waktu tiga tahun!” Yah…masalah sepele menurut orang Indonesia, tapi sebenarnya bisa menjadi cerminan perilaku masyarakat suatu negri. Kalau anda berkunjung ke LN orang-orangnya antri dengan rapih, tak berdesakan, tak berdorong-dorongan, mengisi waktu sambil membaca buku dlm antrian, mempersilahkan orang tua atau yang membawa anak utk didahulukan…berarti anda berkunjung ke sebuah negri yang sukses pendidikannya!

Fenomena awkarin alias karin novilda ini sebenarnya bkn barang baru, banyak karin-karin lain bahkan lebih “dahsyat” kelakuannya, namun tdk terekspose. Pintarnya karin ini mampu menjual dirinya, konon penghasilannya bisa 32jt/bulan hasil endorsan dll. Sayangnya, orang yang banyak followernya sprti awkarin jauh sekali dari menyampaikan pesan-pesan kebaikan, dan parahnya…para fansnya yang rata-rata ABG begitu memujanya???. Kalimat-kalimat “gue suka gaya lo”, “karin aku padamu”, “karin, terus kayak gini jangan peduli kata orang”, “I Love U Karin”, “Kak karin please balikan sama Gaga, lo berdua pasangan keren” dst dst bersliweran di akun medsosnya. PRIHATIN!!!

Lalu apa kaitannya dengan Arabisasi. As we knew, banyak sekali orang-orang dari kalangan liberal yang mempersoalkan penggunaan atribut-atribut keislaman seperti hijab syar’i, janggut, gamis dll, mereka bilang ini “ga indonesia banget”, “islam bukan arab!”, “hentikan arabisasi, kembali ke islam nusantara !”. Hhhhhh….ceban deh. Orang mau menjalankan syariat agamanya dibilang mau jadi orang Arab, nah kalau orang-orang yang make baju n asesoris buatan barat itu apa namanya? Bukan westernisasi yah???

“Ayolah anak muda, jangan pakai jeans, jangan pakai boot, jangan pakai sneakers, jangan pakai T-Shirt, jangan pakai tanktop, pakailah kebaya kemana-mana, yang cowok pakai belangkon ya (asal jangan suruh pake koteka aja kemana-mana). Mari kita kembali ke Budaya Nusantara!” Sayangnya, orang2 liberal tidak pernah berkata demikian!”

Jadi pointnya, westernisasi, japanisasi (harajuku style), koreanisasi itu boleh dalam bergaya dan berbusana…tapi Arabisasi tidak boleh karena tidak sesuai dengan budaya Nusantara! ???. Okesiiip…anda jelas kebablasan, anda jelas membenci islam! ‪#‎saynotoJIL‬

Sudah nangkep kan kesimpulan tulisan saja, fenomena awkarin dan pelarangan arabisasi bisa dicegah atau minimal dikurangi jika para pemimpin kita punya visi membangun karakter, kayak Pak Anies gitu. Karakter yang kuat, disiplin yang melekat dan keimanan yang membuncah di dada adalah kombinasi yang tepat untuk membangun bangsa ini.

Selamat jalan Pak Anies, anda tetap idola saya. Tetaplah berkarya dan berkontribusi untuk bangsa dimanapun posisi anda.

Buat adekku (ciee ngaku-nagku) Karin Novilda, semoga Allah segera memberikan hidayah kepadamu, jujur penampilanmu pada saat kelas 9 SMP akan jauh lebih banyak membuat orang suka, ditambah otakmu yang cemerlang, perpaduan sempurna 3B, Beauty Brain & Behavior (kayak mottonya apa gitu ?).

Buat orang-orang yang memasalahkan Arabisasi, stop, anda salah! Kami hanya menjalankan syariat agama kami, jikalau Allah menurunkan islam di bumi Arab, pastilah ada skenario samawi yang sekarang sdh mulai banyak terkuak. Kita di zaman sekarang ini akan menyaksikan betapa rapi rencana besar dan strategi Allah jangka panjang, sehingga pilihan untuk menurunkan risalah terakhir-Nya memang di negeri Arabia. Dan yakinlah, semua pasti ada hikmahnya. Wallahua’lam bisshawab

*please dear jamaah Kajian Hilmiyah, jangan protes kenapa foto aye terpampang mewakili arabisasi, lihat aja janggutnya, jangan lihat wajah orientalnya ?

*Penyebutan nama baju daerah, bukan berarti saya SARA, ini hanya contoh saja. Saya sendiri adalah penggemar dan pengguna baju-baju nusantara. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Salam satu bangsa! Pisss

Ditulis oleh : Hilmi Firdausi

Related Posts

Facebook Comments