Nativisasi, Cara Lama De-Islamisasi Sejarah Indonesia

Sekolah Pemikiran Islam (SPI) kembali menggelar kuliahnya pada hari Kamis, 26 Februari 2016, di Ruang Seminar Gedung Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Jawa Barat. Pada perkuliahan yang telah memasuki minggu kesembilan ini, topik yang diangkat adalah “Nativisasi” dengan menghadirkan Dr. Tiar Anwar Bachtiar sebagai narasumber.

Pria yang telah berhasil menyelesaikan program doktoral di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini menjelaskan bahwa nativisasi adalah gerakan untuk mengembalikan masyarakat kepada budaya atau ajaran yang dianut sebelum datangnya Islam. Beliau juga menerangkan bahwa hal ini dilakukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dalam membuat umat Muslim jauh dari agamanya, di antaranya para misionaris Kristen dan kaum sekularis. “Gerakan ini adalah upaya untuk melakukan de-Islamisasi sejarah Indonesia dengan memarjinalkan peran umat Islam dalam sejarah Indonesia,” ujarnya.

Lebih lanjut, beliau memaparkan bahwa cara ini sudah diterapkan dari jaman kolonial Belanda dan masih berlangsung hingga saat ini. Ketua Umum PP Pemuda Persatuan Islam (Persis) ini memberikan contoh-contoh nativisasi, salah satunya pada buku-buku teks sejarah untuk siswa sekolah. Menurutnya, penulisan buku tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga seolah-olah kebudayaan Hindu adalah kebudayaan asli Nusantara. Islam, sebagai agama yang datang belakangan, diposisikan sebagai agama yang menghapus kebudayaan lokal. “Padahal, kebudayaan Hindu juga merupakan pengaruh dari daerah lain,” tukasnya.

Materi ini dianggap luar biasa penting oleh salah satu peserta, Ibu Mutia Widjaja. “Kuliah kali ini membongkar kejahatan dan kelicikan kaum sekuler untuk menutupi fakta sejarah bahwa sesungguhnya umat Muslim-lah yang pasang badan di garda depan untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Tidak heran, Belanda tidak pernah berhasil menaklukkan Indonesia karena mereka mendapat perlawanan yang alot dan sengit dari umat Muslim,” pungkasnya.

Harashta T.L.

Facebook Comments