Nashruddin Syarief: Al-Qur’an Berbahasa Arab Bukan Karena Nabi Orang Arab

Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Moh. Natsir telah memasuki pertemuan ke delapan. Pada perkuliahan yang diselenggarakan di Gedung Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Jawa Barat, Kamis (19/02), dibahas konsep “Wahyu dan Kenabian” dengan pemateri Dr. Nashruddin Syarief.

Dr. Nashruddin Syarief memulai perkuliahan dengan menjelaskan makna nabi dan rasul serta perbedaan di antara keduanya. “Nabi diutus untuk menguatkan syariat yang telah ada sebelumnya, sedangkan Rasul membawa syariat baru.” jelas doktor lulusan Universitas Ibn Khadun (UIKA) ini. “Dalam Al-Qur’an bahkan dijelaskan bahwa pada zaman Romawi dan Yunani pun sudah ada Nabi yang diutus oleh Allah. Itulah sebabnya Aristoteles, seorang filsuf Yunani yang terkenal, telah mengenal konsep kenabian, karena memang sudah ada Nabi (apostle) pada zamannya.”

Nashruddin kemudian melanjutkan pembahasan tentang alasannya diturunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab. Ulama Persis yang juga tergabung dalam Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini, mengingatkan rekan-rekan guru agama di jenjang SD, SMP, dan SMA untuk tidak sekalipun menjelaskan kepada muridnya bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab karena Nabi Muhammad SAW berbahasa Arab. “Jika seperti itu, orang lain bisa menganggap bahwa wahyu dari Tuhan yang sampai pada kita lewat Al-Qur’an tidak lagi universal, karena maknanya akan terdegradasi oleh sempitnya suatu bahasa,” tuturnya. “Nabi Muhammad SAW hanya bertugas sebagai pembawa pesan. Layaknya Google Mail sebagai server, surat yang kita kirim tidak boleh diubah isinya sama sekali. Oleh karena itu, Allah pasti menurunkan Al-Qur’an langsung dalam bahasa Arab, bukan dengan suatu bahasa yang hanya dimengerti Nabi, baru kemudian Nabi sampaikan kepada umatnya dalam Bahasa Arab,” tegasnya.

Bahasan ini berhasil menggaet antusiasme peserta. Terbukti dari sesi pertanyaan yang mencapai tiga termin. Mutia Widjaja, salah satu peserta wanita, bercerita tentang pentingnya materi ini, “Konsep wahyu dan kenabian dijelaskan secara terang benderang dalam Islam. Namun, kaum orientalis masih saja melihat peluang untuk menghancurkan agama Islam melalui pintu hermeneutika. Terlebih mengingat fakta banyak orang Muslim tidak memahami bahasa Arab dan urgensi untuk mempelajarinya,” pungkasnya.

 

Harashta T.L.

Facebook Comments