Muhasabah Ramadhan, Sudah Optimalkah Ibadah Kita?

Islamedia  Hari ini, Selasa (23/6), tepat enam hari kita umat Islam di berbagai pelosok dunia menjalani ibadah puasa. Berarti, hanya tersisa empat hari lagi, putaran pertama (10 hari pertama) Ramadhan akan berakhir. Setelah itu, kita akan memasuki babak kedua, yaitu 10 hari kedua Ramadhan. Dan kemudian masuk kembali ke babak terakhir, 10 hari penutup Ramadhan. Setelah itu, Ramadhan akan meninggalkan kita untuk waktu yang lama.


Di hari ke-6 Ramadhan ini marilah kita melakukan muhasabah (introspeksi diri) apakah kita telah optimal menjalani ibadah, baik ibadah wajib dan sunnah seperti diperintahkan Allah dan Rasul-Nya? Apakah kita sudah maksimal melakukan takaruf kepada-Nya, menengadahkan tangan, mengadukan kefakiran diri, bersujud sungkur memohon ampun atas kelalaian dan dosa yang telah kita perbuat selama ini?


Ada tiga urgensi kenapa di hari ke-6 Ramadhan ini kita meski melakukan introspeksi diri. Pertama, mengejar cita-cita dan keinginan kita di Ramadhan. Selain mendapatkan ridha-Nya, setiap kita tentunya ingin memperoleh kesempurnaan pahala di Ramadhan tahun ini. Allah SWT akan memberikan ridha-Nya bila rangkaian ibadah yang kita jalani di bulan ampunan ini pun sempurna, tidak belang belentong.


Kedua, hari esok bukanlah milik kita. Tidak ada satu pun dari kita yang mampu memastikan apakah kita akan bisa menghirup udara lagi besok hari. Atau apakah ada yang bisa menjamin kita akan dapat bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan?


Boleh jadi besok, pekan depan, bulan depan atau tahun depan, kita sudah tak bisa lagi tertawa, tersenyum dan bernapas. Kita sudah tak bisa lagi bercanda. Mungkin kita sudah terbaring kaku di rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal kita.


Ketiga, banyak yang keliru mensikapi ibadah Ramadhan. Kenyataannya, tidak sedikit dari kita yang menganggap kewajiban Ramadhan kita hanya berpuasa. Sedangkan ibadah lainnya, seperti Tarawih, tilawah Qur’an, Qiyamul lail, Itikaf, berzikir hanyalah sunnah yang tidak ada kaitannya dengan puasa Ramadhan.


Akibat pemahaman yang kurang pas tersebut, banyak dari kita umat Islam menjalani kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan, dan menomorduakan ibadah-ibadah sunnah, seperti Tarawih, Qiyamullail, Tilawah Qur’an, Itikaf, dan ibadah-ibadah sunnah lainnya.


Di mata banyak orang, Ramadhan yang wajib berpuasa saja. Sedangkan ibadah lainnya kalau sempat saja. Kalau sempat dilaksanakan, kalau tidak sempat ditinggalkan. Kenyataanya, lebih banyak tidak sempatnya ketimbang sempatnya. 


Padahal, ibadah shaum Ramadhan adalah satu paket dengan ibadah-ibadah sunnah lainnya, Tarawih, Qiyamullail, Tadarus Qur’an, Itikaf dan lainnya. Puasa Ramadhan adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan ibadah-ibadah sunnah di atas.


Terlebih lagi jika kita bercita-cita ingin mendapatkan ridha Ilahi Rabbi dan kesempurnaan pahala Ramadhan dari Allah SWT. Maka kewajiban ibadah shaum Ramadhan haruslah diiringi dengan menjalani ibadah-ibadah sunnah, seperti Tarawih, Qiyamullail, Tadarus Qur’an, Itikaf dan ibadah lainnya.


Karenanya, jalanilah kewajiban ibadah Ramadhan dan sunnahnya satu paket yang tak terpisah satu dengan lainnya agar kita mendapatkan pahala sempurna dari-Nya. Pertama, jalani rangkaian ibadah Ramadhan kita, puasa kita semata-mata karena mengharap ridha. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala-Nya, maka akan diampunkan dosa-dosanya tahun lalu.


Kedua, jalanilah shalat-shalat sunnah, seperti Tarawih dan Qiyamullail semata-mata karena Allah SWT. Sebuah hadit menyebutkan, “Barang siapa bangun malam kemudian shalat malam karena iman dan mengharap pahala dari-Nya akan dihapuskan dosa-dosanya tahun lalu.


Ketiga, perbanyaklah melakukan tadarus Qur’an, ibadah utama di bulan Ramadhan ini. Siapa yang memperbanyak tadarus Qur’an di bulan penuh maghfirah ini, maka Qur’an akan datang memberi syafaat kepada yang membacanya kelak di akhirat.


Ikutilah para shalafusshaleh dalam mensikapi Qur’an saat Ramadhan. Ketika Ramadhan tiba, mereka meninggalkan majelis-majelis ilmu mereka dan langsung menyibukkan diri dengan al-Qur’an. Mereka berlomba-lomba mengkhatamkan al-Qur’an. Imam Malik misalnya, di luar bulan Ramadhan, ia mengkhatamkan Qur’an setiap 7 hari. Namun di bulan Ramadhan, ia mengkhatamkan al-Qur’an setiap 3 hari sekali. Imam Syafi’I lebih dahsyat lagi, di bulan Ramadhan ia mampu mengkhatamkan Qur’an dua kali dalam sehari. Subhanallah. 


Keempat, jalanilah Itikaf di 10 hari terakhir Ramadhan.Isilah Itikaf kita dengan banyak menjalani shalat wajib dan sunnah, Tarawih, Qiyamullail, takaruf kepada Allah, mentadaburi Qur’an, banyak berzikir dan berdoa, khususnya memohon kepada Allah agar diberikan kesabaran dan ketabahan dalam ketaatan dan kesabaran dan ketabahan dalam menjalani segala cobaan hidup. Dan semoga kita menjadi orang-orang yang termasuk mendapatkan pahala Lailatul Qadar, setara dengan pahala yang lebih baik dari 1000 bulan.


Ya Rabb, kami menengadahkan tangan mengakui kefakiran diri. Kening ini bersungkur sujud kepada-Mu. Kami memohon ampunkan dosa-dosa kami, anak-anak dan istri kami, orangtua kami, saudara kami, sahabat kami. Kuatkan kami dalam memegang kesabaran dan tantangan hidup yang tidak ringan ini. Amin. 


Di pengujung senja, Halimun (23/5)

Rivai Hutapea

Facebook Comments