Menjawab Segera Waswas Setan Saat Berinteraksi Dengan Al Quran

Islamedia – 

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk”.(QS. An-Nahl : 98)

Dari kesimpulan penafsiran Imam Ibnul Qayyim terhadap ayat di atas, dinyatakan bahwa tak ada pekerjaan manusia yang akan mendapat gangguan setan yang lebih besar dan dahsyat daripada kegiatan bersama Al Quran. Godaan itu antara lain:

1. Waswas Setan bagi Para Pengajar Al-Qur`an.

Maksudnya adalah Setan berbisik “berhentilah mengajar Al Qur’an karena kegiatan itu tidak menjanjikan kekayaan, melainkan hidup dalam kemiskinan!”. Seakan-akan bahwa dengan mengajarkan Al Qur’an, maka manusia akan menjadi miskin dan jika meninggalkannya akan menjadi kaya. Bila setiap pengajar tunduk dan terprovokasi oleh bisikan tersebut, akan hancurlah umat ini karena semakin sedikit generasi berikutnya yang mampu membaca Al Qur’an dengan baik dan benar.

Untuk mengatasinya, yakinilah bahwa pemberi rezeki yang sesungguhnya hanya Allah ﷻ, bukan manusia. Kemudian berpikirlah untuk mencari usaha yang halal, tanpa harus meninggalkan tugas mengajarkan Al Qur’an. Perlu dijaga kesinergian antara dua hal tersebut karena sama pentingnya di sisi Allah ﷻ , dan jika dipadukan insya Allah akan memberikan keberkahan.

2. Waswas Setan bagi Para Pembaca Al Qur’an.

Godaannya adalah dengan menunda-nunda bagian juz yang harus dibaca pada sebuah masa tertentu. Walaupun sudah mulai membaca, timbul perasaan sudah terlalu lama bersama Al Qur’an atau tiba-tiba tidak dapat berkonsentrasi, atau harus segera menyelesaikan tugas-tugas yang lain.
Demikian pula waswas seakan-akan tidak ada waktu untuk tilawah Al Qur’an.

Sebagai solusinya, carilah jawaban untuk melawan berbagai bisikan itu dari dalam diri kita sendiri. Contohnya:

a. Kita kecam diri sendiri, dengan mengatakan “mengapa untuk kegiatan yang lain tersedia waktu yang cukup, sedangkan untuk bertilawah Al Qur’an tidak ada waktu?” .

Persoalan sesungguhnya sebenarnya bukanlah ada tidaknya waktu, tetapi adakah kemauan dari dalam diri kita untuk menyempatkannya atau tidak?

b. Bila tak mampu berkonsentrasi, berhentilah sejenak, tanyakan pada diri kita: “Sudah berapa lamakah kita ber-tilawah? Sudahkah kita merasa dinasehati oleh Allah dengan apa yang kita baca?

Jika belum, mulailah dengan konsentrasi baru dan merasakan bahwa ayat-ayat Al Qur’an sebagai pesan langsung dari Allah ﷻ kepada kita yang harus dihayati, dan jika tidak melakukannya maka kita akan rugi besar. Sekian tahun rajin membaca Al-Qur’an tetapi selama itu pula kita belum merasakan ruh dan nikmatnya Al Qur’an.

3. Waswas Setan bagi Penghafal Al Qur’an.

Godaannya adalah Setan membisikkan bahwa aktivitas menghafal Al Qur’an ternyata tidak seindah yang dibayangkan. Timbul rasa pesimis dalam menghafal.

Sebetulnya hanya satu keinginan Setan : “Berhentilah saat ini juga untuk menghafal Al Qur’an!” .

Sebagai solusinya, antara lain adalah :

a. Kita tanyakan pada diri sendiri: “Apa motivasi yang terngiang saat dahulu mulai menghafal?

Beberapa motivasi yang mungkin menjadi jawaban antara lain:

1. Ingin membersihkan kehidupan masa lalu yang kotor dan kelam penuh maksiat, kegiatan menghafal Al Qur’an menjadi bentuk taubatan nasuha kepada Allah ﷻ

2. Ingin mendalami agama Islam lebih jauh,sesuai ungkapan salafush shalih kita : “Tidaklah seseorang itu disebut orang yang berilmu (‘Alim) kecuali jika ia telah hafal Al Qur’an.”

3. Ingin memanfaatkan masa remaja yang produktif dengan kegiatan yang dapat dikenang saat dewasa.

b. Segeralah bergaul dengan orang-orang yang sedang menghafal Al-Qur’an, agar tidak merasa sendiri dalam ber-mujahadah dan bersabar dengan Al Qur’an, juga agar kita mengetahui bahwa begitu banyak orang yang lebih bersemangat dan tahan banting.

4. Waswas Setan bagi orang yang memahami Al Qur’an.

Godaannya adalah berpindah-pindah kegiatan. Saat membaca tafsir malah ingin tilawah dan demikian pula sebaliknya. Lalu menyepelekan kegiatan yang satu karena larut dalam kegiatan yang lain, misal meremehkan orang yang menghafal karena sedang mempelajari sebuah tafsir dan meyakini bahwa hanya dengan mempelajari tafsirlah metode interaksi yang paling baik dengan Al Qur’an.

Beberapa solusinya antara lain :

a. Sadarilah bahwa hakikat interaksi dengan Al Qur’an mencakup membaca, menghafal dan memahami, berniatlah membaca dan menghafal saat memahami Al Qur’an. Jangan remehkan orang yang membaca dan menghafal saat kita memahami Al Qur’an karena setiap kegiatan ada fadhillah atau keutamaannya masing-masing.

b. Sadarilah bahwa hakikat berinteraksi dengan Al Qur’an adalah harus memiliki waktu-waktu yang terbagi secara baku.

Misalnya dalam satu pekan setiap hari tilawah, setiap tiga hari sekali membaca tafsir dan sehari sepekan menghafal. Jika hal ini bisa istiqamah, niscaya akan dirasakan perkembangannya dari segi wawasan, keimanan, pemikiran dan mentalitas. Pasti akan sangat berbeda jika dibandingkan dengan kegiatan berinteraksi dengan Al-Qur’an dalam bentuk membacanya saja.

Sumber : Bagus Ferry Setiawan

Facebook Comments