Mengkritik Kekejaman PKI, Budayawan Muslim Taufiq Ismail Diusir dalam Forum ‘Membedah Tragedi 1965’

Mengkritik Kekejaman PKI, Budayawan Muslim Taufiq Ismail Diusir dalam Forum 'Membedah Tragedi 1965'

Islamedia – Budayawan Muslim Taufiq Ismail diprotes dan diusir oleh peserta Simposium nasional “Membedah Tragedi 1965” ketika membacakan puisi yang dinilai bermuatan kritik terhadap kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI), di Hotel Aryaduta, Jakarta, Senin (18/4/2016).

Taufiq Ismail dianggap memprovokasi peserta simposium dengan bait puisi mengenai rezim komunis yang kejam, begitu juga dengan PKI. Para peserta yang terindikasikan loyalis PKI melontarkan suara “Huuuu, Weeeee, Provokator! Itu bukan baca puisi!” kepada Taufiq.

Sejak era sebelum G30S PKI 1965, Taufiq Ismail memang dikenal sebagai budayawan yang anti PKI. Taufiq bahkan sempat menggagas Manifes Kebudayaan untuk menandingi seniman/sastrawan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Lekra merupakan organisasi kebudayaan sayap kiri di Indonesia. Lekra didirikan atas inisiatif D.N. Aidit, Nyoto, M.S. Ashar, dan A.S. Dharta pada tanggal 17 Agustus 1950.

Simposium nasional bertajuk ‘Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan’ diadakan oleh Pemerintah Jokowi melalui Dewan Pertimbangan Presiden dan Kantor Koordinator Politik Hukum dan Keamanan.

Berikut petikan puisi Taufiq Ismail yang membuat panas kuping pendukung PKI:

Dua orang cucuku, bertanya tentang angka-angka
Datuk-datuk, aku mau bertanya tentang angka-angka
Kata Aidan, cucuku laki-laki
Aku juga, aku juga, kata Rania cucuku yang perempuan
Aku juga mau bertanya tentang angka-angka

Rupanya mereka pernah membaca bukuku tentang angka-angka dan ini agak mengherankan
Karena mestinya mereka bertanya tentang puisi
Tetapi baiklah,
Rupanya mereka di sekolahnya di SMA ada tugas menulis makalah
Mengenai puisi, dia sudah banyak bertanya ini itu, sering berdiskusi
Sekarang Aidan dan Rania datang dengan ide mereka menulis makalah tentang angka-angka

Begini datuk,
Katanya ada partai di dunia itu membantai 120 juta orang, selama 74 tahun di 75 negara
Kemudian kata Aida dan Rania, ya..ya..120 juta orang yang dibantai
Setiap hari mereka membantai 4500 orang selama 74 tahun di 75 negara

Kemudian cucuku bertanya
Datuk-datuk, kok ada orang begitu ganas..?

Kemudian dia bertanya lagi,

kenapa itu datuk? Mengapa begitu banyak?

Mereka melakukan kerja paksa, merebut kekuasaan di suatu negara
Kerja paksa
Kemudian orang-orang di bangsanya sendiri berjatuhan mati
Kerja paksa

Kemudian yang ke dua

Sesudah kerja paksa,
Program ekonomi diseluruh negara komunis tidak ada satupun yang berhasil
Mati kelaparan, bergelimpangan di jalan-jalan

Kemudian yang ketiga,
Sebab jatuhnya Puisi ini

Sebabnya adalah mereka membantai bangsanya sendiri,
Mereka membantai bangsanya sendiri
Di Indonesia
Pertamakali di bawa oleh Musso, di bawa Musso.
Di Madiun mereka mendengarkan pembantaian

Berikut rekaman audio Taufiq Ismail saat membacakan puisi dikutip dari portalkbr

[islamedia/mh]

Facebook Comments