Mengisi Waktu Bersama Malaikat Allah

Islamedia – Setelah sekian lama berlibur, akhirnya saya menginjakan kaki di kampus ini dengan memakai pakaian hitam putih. Ya, saya terperangkap dalam kegiatan pengenalan kampus yang disingkat dengan nama peka. Di jamanku cukup menarik jika dibandingkan dengan tahun ini yang sudah tidak menerapkan sistem terdahulu, mungkin akan terasa bosan. Tapi saya termasuk mahasiswa yang mendukung gerakan “Stop Ospek Stop Bullying”. Sayangnya.. bahasan kali ini bukan mengenai ospek, tapi mengenai kegiatan selanjutnya yang belum pernah saya ikuti sebelumnya. Kegiatan ini disebut dengan Mentoring.

Kegiatan ini bisa dibilang “wajib” diikuti oleh mahasiswa baru, karena sedikit mempengaruhi nilai akhir mata kuliah Pendidikan Agama Islam. Mungkin sebagian mahasiswa mengikuti kegiatan mentoring hanya untuk mengejar nilai saja? Haha, Benar! Karena sebagian mahasiswa tersebut termasuk saya didalamnya. Mentoring dilakukan seminggu sekali, tapi tetap saja rasanya seperti mengganggu waktu luang saya, padahal kegiatan ini hanya menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam saja. Namun setelah berjalannya waktu, ternyata mentoring ini mengajak saya untuk semakin dekat dengan islam, apa salahnya? Ini sangat pantas untuk diikuti, walau tetap saja masih ada rasa malas yang terkubur dalam hati. Benalu yang kerap mengganggu ini harus saya hantam ribuan kali, dan tak jarang tamparan hati seseorang membangkitkan semangat saya yang tenggelam.

Mentoring bukan hanya sekedar memenuhi nilai, namun juga mengisi waktu bersama malaikat – malaikat Allah yang senantiasa mendo’akan kita dalam lingkaran ini. Ketika saya disekap oleh rasa kebingungan, ketika iman saya yang belum kokoh sempurna hampir tergoyahkan, ketika gelapnya pikiran buruk sedikit demi sedikit mencengkram titik terang yang tersisa di hati ini, dan ketika tajamnya kenyataan menikam jiwa saya yang seringkali tak bersyukur, dengan mengikuti mentoring saya dapat terbebas dari semua itu. Ya saya akui memang tidak sepenuhnya, setidaknya ada celah pencerahan dan hidayah Allah datang dengan sendirinya. Menurut saya, mengikuti mentoring memang tidak semudah memedipkan mata, seringkali saya harus berkelahi dengan jadwal kuliah saya, tak jarang saya harus mengejar bis agar cepat sampai, bahkan beberapa kali saya harus berdiri di pintu bis karena penuh, tapi disitulah waktu terbaik saya, yang biasanya saya telat tapi Allah seperti memperlambat waktu, MasyaAllah.. semua ada hikmahnya.

Ingat kawan.. mentoring tidak untuk dipilih, karena mentoring bukan pilihan tapi kebutuhan. Saya memang masih sulit memahami makna mentoring sesungguhnya. Tapi dari mentoring saya mendapatkan ilmu yang InsyaAllah bermanfaat, teman luar biasa yang senantiasa selalu mengajak saya untuk beristiqomah, kebersamaan yang tiada akhirnya, berbagi kisah takdir penuh hikmah, juga orang – orang yang menumbuhkan rasa cinta saya terhadap Allah dan terhadap sesama makhluk Allah. walaupun tumbuhnya perlahan, setidaknya mereka sudah memberikan pupuk terbaik dan itu sudah sangat cukup menurut saya. Percayalah.. setiap jejak kaki kita akan bercengkrama dengan Allah, hadiah apa yang patut diberikan kepada orang-orang yang melangkah menuju kebaikan.

Let’s join! Dan jangan lupa mengamalkannya, karena ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan. Salam hangat dua warna dari anak padalarang, Lanavia Febiani Azis.

Lanavia Febiani Azis
Anggota Divisi Media LDK IKMI Politeknik TEDC Bandung

Facebook Comments