Mahasiswa UMS Temukan Metode Belajar al-Quran Bagi Tunanetra

Islamedia – Mahasiswa Program Pascasarjana Magister Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta, Fajar Andriyanto, menemukan model pembelajaran direct instruction dalam pembelajaran membaca Alquran dengan alat bantu media tangan bagi penyandang tunanetra. Publikasi metode itu dilakukan dalam acara seminar publikasi penelitian di ruang seminar Pascasarjana UMS, Kamis (19/11/2015).

Fajar mengungkapkan selama ini penyandang tunanetra cukup kesulitan ketika belajar membaca Alquran. Hal ini karena penyandang tunanetra cukup kesulitan menerima pesan visual. Terutama terkait makhraj huruf hijaiah. Padahal seorang muslim dituntut untuk membaca Alquran dengan benar.

Hal itu menjadi latar belakang penelitian tesis Fajar yang dilakukan pada September-Oktober 2015. Penelitian dilakukan terhadap 14 siswa SMA penyandang tunanetra dari lima sekolah inklusi di Soloraya. “Mereka saya kelompok-kelompokan sesuai kebutuhan penelitian,” ungkapnya saat ditemui Solopos.com seusai seminar publikasi.

Fajar yang juga penyandang tunanetra itu menerangkan model pembelajaran Alquran yang ia teliti, menggunakan alat bantu media tangan. Bagian dalam telapak tangan diibaratkan sebagai mulut seseorang sehingga ada bagian yang diibaratkan sebagai letak gigi geragam, gigi seri, posisi lidah dan lainnya.

Dengan meraba bentuk tangan, Fajar menerangkan bagaimana cara membaca huruf hijaiah yang benar. “Dengan cara ini, anak-anak lebih mudah memahami konsep huruf hijaiah yang benar. Penyandang tunanetra bisa memiliki gambaran posisi lidah yang tepat sehingga mampu membaca Alquran dengan benar sesuai kaidah tajwid,” jelasnya.

Setelah ujian tesis nanti, Fajar berencana membuat modul pembelajaran Alquran dengan alat bantu media tangan. Ia juga ingin membukukan hasil penelitiannya agar bisa dimanfaatkan banyak orang.

Pembimbing tesis Fajar, Dr. Hasal El Qudsy, mengungkapkan hasil penelitian Fajar merupakan sebuah inovasi yang luar biasa. Hasil penelitian itu sangat bermanfaat bagi para penyandang tunanetra yang ingin belajar membaca Alquran dengan baik dan benar. Menurutnya, hasil penelitian Fajar merupakan yang pertama di Indonesia, bahkan mungkin di dunia.

Oleh karena itu ia berharap pihak-pihak terkait mau membantu Fajar untuk mempublikasikan karyanya secara luas. Pasalnya hasil penelitian Fajar juga perlu disampaikan dalam bentuk pelatihan-pelatihan kepada penyandang tunanetra ataupun pengajar penyandang tunanetra.

Hal itu tentu membutuhkan dana cukup besar. “Ini karya yang patut diapresiasi. Saya sangat gembira dengan hasil penelitian ini karena akan membantu para penyandang tunanetra.” seperti dilansir oleh solopos. (islamedia/js)

Facebook Comments