Krisis Pengungsi Suriah, ACT Kirim Tim Kemanusiaan

Anak-anak pengungsi syria (AP)

Islamedia – Terpanggil penderitaan pengungsi suriah dan gelombang imigran ke beberapa negara Eropa, lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengirimkan tim kemanusiaan ke sejumlah negara di Timur Tengah dan Eropa.

Krisis kemanusiaan Suriah, memaksa ribuan jiwa warga mengungsi dari tanah airnya. Dari data yang dihimpun Tim Global Partnership Network (GPN)-ACT sebanyak 1.938.999 pengungsi Suriah sudah berada di Turki, 249.728 berada di Irak, 629.245 berada di Yordania, 132.375 berada di Mesir dan 1.172.153 berada di Libanon.

Rudi Purnomo, manajer GPN-ACT menjelaskan sampai saat ini korban jiwa yang tewas akibat perang saudara di Suriah sebanyak 250.000 jiwa.

Kekerasan seolah tak terhentikan. Masalah “dalam negeri” tak lagi bisa menjadi dasar menisbikan campur-tangan dunia ketika impak krisis di sebuah negara, membuat negara-negara lain menanggung konsekuensinya. Krisis Suriah telah merenggut rasa nyaman banyak jiwa, memicu gugatan kemanusiaan antarnegara, relasi multilateral terusik. Bagaimana Indonesia bersikap?

“Indonesia, dalam konteks kemanusiaan, terlebih ketika kami – lembaga kemanusiaan yang menyatakannya, tentu bukan dialamatkan kepada pemerintahan Republik Indonesia, melainkan kepada sesama rakyat Indonesia. Kepada masyarakat sipil Indonesia, kami mengimbau, muliakan diri kita, masyarakat kita, bangsa kita dengan peduli dan berbuat sesuatu demi menolong sesama manusia meski mereka bukan bangsa kita,” kata Ahyudin, Presiden ACT.

Menyangkut krisis Suriah yang membangunkan nurani, bahkan negara-negara di Eropa yang mayoritas berbeda keyakinan. “Kemanusiaan membongkar batas negara dan keyakinan. Seketika, bagi yang merasakan dirinya memiliki rasa kemanusiaan, takkan memandang siapa yang perlu ditolong, niscaya ditolongnya. Bahkan sejumlah negara yang kondisi ekonominya tidak sedang bagus pun, membuka diri membantu pengungsi Suriah,” kata Ahyudin.

Menurutnya, di kancah kemanusiaan global inilah momentum membenahi krisis bisa terjadi. Meyakini kemanusiaan solusi krisis, membuka jalan perbaikan dunia. “Kebersamaan masyarakat sipil menanggulangi krisis kemanusiaan, membuktikan bagaimana lembaga-lembaga kemanusiaan yang awalnya hanya bisa membantu satu dua negara, makin lama makin hebat. Lembaga swadaya masyarakat di banyak negara ketika serius menolong bangsa lain, secara bertahap menjadi mampu menolong begitu banyak bangsa. Termasuk lembaga kemanusiaan di Indonesia, saat ini bermunculan dengan kapasitas global meski hidup dari dayadukung antar masyarakat sipil. Bangsa besar, bukanlah dengan kekuatan militer atau ekonomi saja, melainkan karena masyarakat sipilnya juga hebat dalam menolong bangsa-bangsa lain,” ujar Ahyudin.

Melengkapi hal ini, N. Imam Akbari selaku Senior Vice President ACT yang memimpin penanggulangan krisis kemanusiaan global, memaparkan, problem kemanusiaan adalah merupakan problem bersama, bahwa kepedulian kita tidak hanya diperuntukan untuk saudara kita di Indonesia saja namun di dunia. “Kami selama melakukan aksi Kepedulian terhadap saudara sesama manusia di belahan dunia ini, selalu mengibarkan dan menyertakan merah putih di dada kami. Tim Kami merasa sebagai duta bangsa Indonesia, karena kami membawa amanah dari segenap bangsa Indonesia, yang berkonstribusi untuk sama-sama memberikan manfaat bagi saudara sesama manusia di belahan dunia,”jelasnya. Imam menambahkan bahwa tim yang akan dikirim saat ini, merupakan Tim ke-6, terakhir ACT telah mengirimkan Tim pada Januari 2015.

Syuhelmaidi Syukur selaku Senior Vice President-ACT, juga mengatakan tim yang akan di kirim di tiga negara yaitu: Jerman, Turki dan Libanon, juga rencananya akan mengimplementasikan Program Global Qurban (GQ), di momen Idul Adha dan hari tasyrik yang sebentar lagi akan datang.

“Tim kami juga akan melakukan implementasi Program Global Qurban (GQ) di tempat pengungsian Syiria di berbagai negara di Timur Tengah dan Eropa,”terang Syuhel.

ACT mempunyai Program GQ yang akan menyasar 30 provinsi di Indonesia dan di 20 negara di dunia. Salah satu negara yang menjadi prioritas penyebaran daging kurban Program GQ ini adalah daerah konflik seperti konflik Suriah.

Syuhel juga menegaskan, Timnya akan menggalang mitra-mitra ACT, yaitu: NGO-NGO lokal dan luar negeri di di Jerman, atau negara-negara Eropa dan Timur Tengah lainnnya, dan menggerakan relawan-relawan ACT di negara-negara tersebut.[rls/islamedia/YL]

Facebook Comments