Klarifikasi Ustadz Shamsi Ali: Perihal Ahok di Jakarta

Beberapa hari lalu saya mengirimkan pesan singkat ke sebuah whussap group yang intinya menceritakan pengalaman saya hadir dalam sebuah acara yang digelar oleh New York Council of Churches (Dewan Gereja New York). Kebetulan salah seorang penerima penghargaan malam itu adalah seorang pendeta warga Indonesia di New York yang kebetulan seorang teman.

Pada saat memberikan sambutan pembukaan, Ketua Dewan Gereja New York, Rev. Dr. Bernard, menyampaikan kata-kata berikut: “Puji syukur kepada Tuhan kita sampaikan malam ini. Bahwa untuk pertama kali dalam sejarah gereja, sebuah negara Muslim besar, Indonesia, dipimpin oleh hamba Tuhan”.

Lalu beliau menceritakan bagaikan seorang Kristen di Indonesia telah berhasil mengambl alih kepemimpinan negera Muslim terbesar itu. Rupanya sebagian hadirin ada yang tahu jika hamba Tuhan yang dimaksud itu bukan terpilih jadi presiden tapi telah diangkat jadi gibernur ibukota negara Muslim terbesar itu, Jakarta.

Mendengar itu, Dr Bernard kemudian menyambung: “So we must work harder”.

Rupanya pesan singkat saya itu menjadi salah satu pesan dengan penyebaran terluas dan tercepat. Sehingga banyak di antara teman-teman yang ingin mengklarifikasi apakah pesan itu memang datangnya dari saya.

Bukan kebijakan Dewan Gereja

Apa yang disampaikan oleh Kepala Dewan Gereja New York itu merupakan ekspresi pribadi atau tepatnya impian pribadi sebagai seorang Kristen dan pemimpin untuk melihat umat Kristian berhasil. Salah satunya adalah harapan beliau agar umat Kristiani di Indonesia bisa berhasil, kuat, termauk menjadi pemimpin bangsa dan negara Muslim terbesar di dunia itu.

Oleh karena ini adalah ucapan seorang pemimpin geraja secara pribadi maka saya harus menggaris bawahi jika pernyataan itu bukanlah kebijakan Dewan Geraja Dunia. Sekali lagi itu hanya harapan atau impian seorang Kristen dan pemimpin Kristen untuk melihat saudara-saudara seimannya untuk berhasil dan kuat, walau dalam sebuah negara mayoritas Muslim.

Motivasi untuk berkompetisi

Saya menilai apa yang disampaikan oleh Kepala Dewan Gereja New York (New York Council of Churches) itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan, apalagi diresahkan dan ditakuti. Dalam kehidupan sosial semua orang punya harapan untuk memenangkan kelompoknya. Dan itu normal bahkan alami.

Saya menyampaikan “pernyataan” kepala Dewan Gereja New York sebenarnya lebih kepada memberikan motivasi kepada saudara-saudara seiman saya untuk bekerja lebih maksimal. Saya sangat yakin bahwa dalam dunia global kita saat ini tidak ada yang bisa dilakukan kecuali bersiap untuk menjadi bagian dari “pelaku” kompetisi yang semakin ketat.

Sebagai seorang Muslim, sebagaimana kepala Dewan Gereja New York itu, saya punya harapan dan impian jika Jakarta dan Indonesia tetap dipimpin oleh seorang Musllim. Dan bukan sekedar seorang Muslim tapi Muslim yang punya komitmen kepada agama san negaranya.

Mengenai pernyataan Dr. Bernard itu, sekali lagi, sangat wajar. Persis betapa bangganya seorang Muslim di Indonesia mendengar jika ada seorang Muslim Amerika telah berhasil menjadi walikota atau pejabat penting di negara yang mayoritas non Muslim ini (AS). Harapan dan impian itu sangat wajar bahkan alami.

Kesimpulannya, berita itu benar. Tapi penekanannya ada pada kita. Kita tidak perlu khawatir apalagi marah. Justeru adanya hal seperti ini memacu kita untuk berbuat yang lebih baik dan profesional sehingga kita akan lebih siap memasuki arena kompetisi ke depan.

Jika umat hanya mengedepankan pikiran negatif dan amarah, maka tidak akan bisa melakukan langkah-langkah kongkrit dan positif. Sebab yang terjadi hanya berusaha mencari kesalahan dan melemparkan tuduhan yang tidak perlu. Selain itu, sekali lagi, dunia kita saat ini ditandai oleh kompetisi ketat. Dan pilihan kita hanya satu: bersiap mengambil bagian dalam kompetisi itu dan menang.

Tapi mustahil umat ini akan menang jika dalam prosesnya yang ada adalah emosi (lacking rationality), semrawut (tidak punya visi yang jelas dab tidak profesional), dan yang terpenting egoistik (yang ditandai dengan mementingkan golongan dan kolompok sendiri-sendiri).

Semoga pesan saya itu jelas dan tidak perlu dijdikan isu kontroversial. Wassalam!

Sumber: Akun Path Imam Shamsi Ali

Facebook Comments