Kisah Nyata 20 Dai Berhasil MengIslamkan 3712 Penduduk Wamena Papua

ketua suku papua masuk islam

Islamedia – Kami berfikir untuk membuka lahan dakwah di Wamena, apabila jalan kaki dari Jayapura menuju Wamena memakan waktu 3 bulan. Saat itu kami berjumlah 20 orang memutuskan untuk berjalan kaki, setelah berjalan 1 bulan, energi kami habis, akhirnya kami memutuskan untuk kembali lagi ke Jayapura.

Kami memikirkan strategi baru agar bisa sampai ke Wamena dengan lebih cepat, kami memutuskan untuk menyewa pesawat misionaris untuk menuju Wamena. Namun karena nama kami nama Islam, kamipun merubah satu persatu nama kami menjadi nama kristen. Kami menuju ke kelurahan dengan membawa foto 2×3 cm untuk mengganti nama. Misal : nama Zainudin diganti dengan nama Paulus, Abidin diganti dengan Wilhemus, Fadlan diganti dengan Leo, Ibrahim diganti dengan Abraham.

Dengan cara mengganti nama dengan nama kristen inilah, akhirnya kami membeli tiket pesawat milik misionaris tanpa dicurigai dan Alhamdulillah 20 Orang bisa terbang ke Wamena.

Sebelum berangkat dakwah ke Wamene, modal kami adalah sabun sebanya 7 karton, sampo 7 karton, odol, sikat gigi dan pakaian layak pakai sebanyak 7 karung.

Saat itu kami terbang berangkat ke Wamena pukul 08:00 pagi dan alhamdulillah pesawat yang kami naikin sampai Wamena dengan lancar.

Kami sampai Wamena dan bertemu saudara-saudara kami, warga Papua, namun yang sangat menyedihkan mereka semua dalam keadaan telanjang.

Strategi yang kami lakukan menghadapi kondisi masyarakat Wamena kala itu, kami putuskan selama 1 pekan kita tidak usah berdakwah, kami memilih membangun kedekatan terlebih dahulu dengan warga Wamena, sehingga bisa ada ikatan sosiologis. Membangun interaksi dengan mereka, agar mereka mengenal siapa kami dan kami juga mengenal siapa mereka.

Alhamdulillah, setelah 1 pekan berinteraksi, kami sudah mulai dekat dengan warga Wamena. Saat itu kami menyampaikan sejumlah pertanyaan kepada warga Wamena. Mengapa kalian sampai telanjang seperti ini? Mereka menjawab : kami dilarang oleh gereja dan misionaris tidak boleh pakai baju, kami hanya boleh mengenakan pakaian seperti ini atas nama kebudayaan.

Selain telanjang, bau bada warga Wamena sangat tidak enak, karena mereka dilarang mandi menggunakan air bersih dan hanya diperbolehkan mandi dengan minyak atau lemak babi saja. Daging babinya mereka makan dan minyak babinya digosok ke tubuh, dengan alasan untuk mengusir nyamuk dan agar membuat badan hangat. Padahal hal ini merupakan pembunuhan karakter manusia.

Saat itu kami juga melihat kondisi yang sangat menyedihkan, kami melihat ada seorang Ibu melahirkan anaknya, seperti binatang yang beranak dibawah pohon. Begitu bayinya keluar dari rahimnya, untuk memutuskan ari-ari dengan bayi menggunakan ujung batu yang tajam. Sesudah itu sang Ibu hanya boleh menyusui bayi dengan air susu disebelah kiri, karena air susu disebelah kanan dipersembahkan untuk anak babi.

Para misionaris ingin masyarakat Papua harus tetap tertinggal dan terbelakang, dengan ketertinggalan yang ada, warga Papua ini kemudian diambil fotonya dan mempublikasikan keluar negeri bahwa Pemerintah Indonesia tidak peduli ke warga Papua. Disisi lain para misionaris memprovokasi warga Papua agar membenci Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dengan kondisi masyarakat Wamena yang demikian, maka kami sanga optimis bahwa satu-satu nya jalan untuk merubah masyarakat Wamena saat itu hanya dengan dakwah. Dan tidak ada agama yang sanggup melakukanya kecuali Islam. Islam yang bisa membuat orang berperadaban dan Islam yang membuat orang menjadi beradab.

Kami memulai dakwah dengan menggunakan sabun mandi, minggu kedua hari pertama, kami mulai membawa kepala sukunya ke sungai. Kami berjumlah 20 orang bersama kepala suku menceburkan diri ke sungai. Selesai mencebur kedalam sungai, saya meminta kepala suku berdiri dibelakang saya beserta 19 dai lainya. Saya ambil sabun dan saya bilang kepada kepala suku : “Bapak Ikut gerakan kami“.

Begitu kami gosokan sabun ketubuh, kepala suku mengikuti menggosok sabun hingga badan penuh dengan busa. Selanjutnya kami menggunakan sampo, kami bantu kepala suku mengganti sabun yang ada ditanganya dengan sampo. Kepala suku mengukuti gerakan kami untuk mengguyur dengan sampo. Saat itu kepala suku menolak membilas dengan air ketika mencium aroma wangi dari sabun dan sampo. Kepala suku pergi meninggalkan kami dan pergi ke ladang.

Saat itu para Da’i meminta kepala suku untuk membilas dengan air, kepala suku menjawab “tidak anak, ini wangi”.

Setelah kami selidiki, rumanya selama hidupnya kepala suku ini belum pernah mencium bau harum. Sejak saat itu selama 6 hari berturut-turut kepala suku ini mandi tanpa membilas dengan air. Pada hari ke 6, setelah pulang dari ladang, Allah turunkan hujan sehingga tubuh kepala suku terkena air hujan, tubuhnya kembali penuh dengan busa, kemudian kepala suku menggosok-gosok tubuhnya sehingga tubuhnya bersih dari busa. Sampai dirumah, kepala suku tertidur dari jam 3 sore hingga jam 9 kesokan harinya.

Pagi-pagi kami datang kerumahnya, kepala suku langsung angkat bicara. “anak, mandi yang benar itu yang anak ajarkan. bapak kemarin dimandikan oleh Tuhan sang pencipta sehingga bapak tidur menjadi enak, selama ini bapak belum pernah tidur seperti ini”. Sejak saat itu kepala suku mandi dengan berbilas.

Keesokan harinya, kepala suku menginstruksikan kepada seluruh warga yang berjumlah 3712 orang untuk bersama-sama belajar mandi menggunakan sabun mandi.

Karena kami hanya membawa sabun sebanyak 7 karton, akhirnya kami membelah sabun menjadi 4 bagian dan kami memulai pelajan mandi. Dari jam 8 pagi hingga jam 12 siang, pelajaran mandi belum tuntas. Kami skorsing untuk menunaikan sholat Dhuhur. saya bilang kepada kepala suku, kami mau Sholat, yang mandi jangan pulang, yang belum mandi juga jangan pulang. Saat itu kami menunaikan sholat diatas panggung, karena kalau sholat dibawah penuh dengan babi.

Salah seorang Da’i mengucapkan iqomah, kemudian saya memimpin sholat dan mengucapkan Takbir dengan suara keras. “Allahu Akbar’. Melihat kami sholat, secara serempak sebanyak 3712 mengelilingi kami, seperti towaf mengelilingi panggung. Mereka keliling untuk memperhatikan gerakan sholat yang kami lakukan.

Begitu kami selesai sholat, kepala suku besar langsung loncat dan naik keatas panggung dan mengajukan beberapa pertanyaan.

Kepala Suku : ” anak, kenapa ana angkat tangan dan kepala berbicara komat kamit, itu maksudnya apa?
Ustadz Fadlan : ” Bapak kepala suku, agama kami Islam, dalam agama kami, kami diperintahkan oleh Tuhan Allah sang pencipta dalam setiap hari untuk menghadap selama 5 kali dalam waktu yang sudah ditentukan. Tadi kami angkat tangan artinya menyerahkan sepenuhnya, kehidupan jiwa dan raga kami kepada Tuhan Allah. Yang kami bicara-bicara itu maksudnya Allah Maha Besar, kehidupan dan diri kami kecil. Sehingga tangan kiri kami malu menutup dada kami, tangan kanan pun malu kemudian menutup tangan kiri, terserah Allah mau menghukum kami terserah, mau memberi kami hadiah terserah, karena kami sudah meyerahkan segenap jiwa dan raga kami kepada Tuhan Allah sang pencipta.

Kepala suku berteriak : “Wooooo, ini agama yang benar“.

Kepala suku :”apa artinya bongkok badan?
Ustadz Fadlan : “maksudnya ruku, kami bongkok badan supaya kami melihat dibumi ada air, ada batu, ada tanah, ada hewan, ada tumbuhan. Semua itu fasilitas dari Tuhan Allah untuk manusia untuk dinikmati dan dilindungi karena masih ada manusia berikutnya“.

Kepala suku : “terus mengapa anak kemudian tunduk mencium papan?
Ustadz Fadlan : ” Kami tunduk mencium papan itu pertanda kami menangis atas kejahatan, dosa, maksiyat yang kami lakukan, sehingga kami merendahkan kepala kami. Kenapa kami lakukan itu, karena suatu saat kami mati nanti tubuh kami akan dilebur menjadi tanah. Sebelum dilebur menjadi tanah, kami menyatukan kepala, tangan, lutut dan kaki untuk menangis minta ampun kepada Dia Allah yang Maha Tinggi.”

Kepala suku : ” mengapa sesudah itu anak nengok kesebelah kanan mulutnya bicara-bicara dan nengok kesebelah kiri mulutnya bicara-bicara“.
Ustadz Fadlan : “Kami jawab, tengok kanan untuk melihat kalau ada orang yang belum tau cara mandi kami akan ajarkan mandi, ada yang belum tau pakai pakaian tugas kami mengajarkan berpakaian, ada yang sakit tugas kami mencari obat, ada yang lapar tugas kami mencari makan. Kemudian menengok kesebal kiri, kami ditempat ini belum ada yang mengenal Allah dan rosulnya, kami bertugas memperkenalkan Allah dan Rosulnya“.

Begitu menjelaskan penjelasan kami, kepala suku meminta kami ber 20 turun dari panggung dan kepala suku dipanggung sendirian. Mereka menggelar rapat adat.

1,5 Jam setelah rapat adat, kepala suku menyampaikan kepada kami : ” Hari ini kami bahagia, kami gembira, karena anak-anak ini datang mengajarkan agama yang benar. Dalam rapat adat kami menyatakan, kita semua yang berkumpul dilapangan ini mengikuti ajaran agama yang diajarkan anak-anak ini“.

Kami ber 20 setelah mendengar kata-kata kepala suku ini langsung sujud syukur dan menangis kepada Allah. “Terima kasih ya Allah , kami belum menyebut namamu kedalam dada mereka, kami belum menyebut Rosulullah kedalam hari mereka, kami hanya membawa rizqimu berupa sabun, sampo, odol, sikat gigi”.

Kemudian kami membimbing 3712 masyarakat adat yang hadir untuk mengucapkan 2 kalimat Syahadat: “Asyhadu Allaa Ilaaha Illallah, wa asyhadu anna muhammadarosulullah“.

Sebanyak 3712 masyarakat adat Wamena mengucapkan 2 kalimat syahadat tanpa beban sedikitpun, oleh karena hadirnya hidayah dan petunjuk Allah kepada mereka.

ustadz fadlan 4 3 foto 2 foto1

Dikutip dari ceramah Ustadz Fadlan Garamathan

Ustadz Fadlan Garamathan memiliki nama lengkap Muhammad Zaaf Fadlan Rabbani Al-Garamatanasli merupakan warga asli Papua, berkulit gelap, berjenggot kemana-mana memilih membalut tubuhnya dengan jubah.

Lahir dari keluarga Muslim, 17 Mei 1969 di Patipi, Fak-fak, sejak kecil dia sudah belajar Islam. Ayahnya adalah guru SD, juga guru mengaji di kampungnya.

Pengetahuan ilmu agamanya kian dalam ketika kuliah dan aktif di berbagai organisasi keagamaan di Makassar dan Jawa. Anak ketiga dari tujuh bersaudara ini akhirnya memilih jalan dakwah. Dia mendirikan Yayasan Al Fatih Kaaffah Nusantara. Melalui lembaga sosial dan pembinaan sumber daya manusia ini, Ustadz Fadlan begitu ia kerap disapa mengenalkan Islam kepada masyarakat Irian sampai ke pelosok. Dia pun mengembangkan potensi dan sumber daya yang ada, mencarikan kesempatan anak-anak setempat mengenyam pendidikan di luar