KH Ahmad Dahlan dan Jejak pengembaraan Intelektual

Islamedia – Pada tanggal 1 Agustus, bertepatan dengan hari lahirnya pendiri Persyarikatan Muhammadiyah. Muhammad darwisy atau yang dikenal dengan KH Ahmad Dahlan lahir dari ulama bernama KH Abu Bakar bin KH. Sulaiman. Ayah KH Ahmad dahlan adalah seorang khatib di Masjid besar kesultanan Yogyakarta. Kabarnya, silsilah keturunan beliau bersambung sampai ke Maulana Malik Ibrahim. Yang seperti ini (baca: nasab) tidak penting di Muhammadiyah. Seseorang itu dihormati karena intelektualitasnya dan sejauh mana kontribusinya dalam dakwah Islamiyyah.uru

Jejak pengembaraan intelektual KH. Ahmad Dahlan bermula tiap petang belajar mengaji dengan tekun saat usia 7 tahun. Ketika itu diajar oleh ayahnya sendiri (Kiai Haji Ahmad Dahlan dan Persyarikatan Muhammadiyah, 1998, hal 43). Ketika beranjak dewasa, belajar ilmu fiqih kepada KH Muhammad shaleh, ilmu nahwu kepada KH Muhsin, ilmu falak kepada KH. Raden dahlan, ilmu pengobatan kepada Syeikh Hasan, ilmu hadis kepada Kiai Mahfud dan Syeikh Khayyat. Kemudian ilmu Quran kepada Syeikh Amin dan Sayyid Bakri (Tajdid Muhammadiyah: Dari Ahmad Dahlan hingga A. Syafi’i Maarif, hal 24). Tercatat pula guru-guru beliau cukup beragam, kyai Sholeh Darat di Semarang (pernah sekamar dengan KH Hasyim Asy’ari), Syeikh Jamil djambek dari Bukittinggi dan Syeikh Ahmad khatib di sekitar masjid Nabawi.

Selain itu, beliau bertemu Sayyid Rasyid Ridha di Mekkah. Pertemuan dengan Rasyid ridha berkat usaha KH Baqir. Menurut analisa Dr Imam ad-Daraqutni, KH Dahlan ke Mekkah itu untuk mencermati mengapa masyarakatnya yang sebelumnya penuh Takhayul, Bid’ah dan Khurafat, jadi berubah drastis. Ternyata pemikiran dan Kitab-kitab kecil karya Syeikh Muhammad Abdul wahab membawa perubahan besar di Tanah Arab. Dari metode dakwah Abdul wahab tadi, KH Dahlan meniru Manhajnya. Sebut saja Manhaj Mekkah:”Tidak perlu Partai, jika Negara bisa diajak bicara dan mengakomodasi misi Dakwah”. (Pengajian umum tgl 6 April 2014, di Aula PDM Muhammadiyah, kota Malang)

KH dahlan juga dipengaruhi pemikiran Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani. Kyai Dahlan mempelajarinya lewat tulisan-tulisan mereka berdua. Selain itu bacaan beliau amat luas yang meliputi majalah al-Urwatul wutsqa, Tafsir juz ‘Amma, Tafsir al-Manar, kitab al-Islam wan Nasharaniyyah karya Muhammad abduh. Dairatul ma’arif karangan Farid wajdi. Kitab at-Tawassul wa wasilah karya Ibnu Taymiyah dan Kitab Idhaarul haq karya Rahmatullah Al Hindi (Ensiklopedi Muhammadiyah, hal 75-76).

Dakwah beliau yang berorientasi purifikasi dan tajdid mendapat tentangan dari warga sekitar khususnya kalangan tradisionalis. Masjid yang didirikan oleh beliau dihancurkan. Parahnya lagi, beliau dicap “kyai Kafir” (film Sang pencerah, 2010). Jangan-jangan beliau adalah ulama pertama di pulau Jawa yang cap kafir.
Di kancah pergerakan Nasional, KH Dahlan pernah bersentuhan dengan Jamiatul khair dan Sarekat islam (SI). Keanggotannya dalam Budi utomo membuktikan beliau bukanlah orang yang menjauhkan diri dari kehidupan politik. Berwirausaha sebagai pedagang batik pun tetap beliau lakukan pasca mendirikan Muhammadiyah (Leksikon islam, jilid 1, hal 112).

Sepanjang hidupnya, KH Dahlan sering mengulang-ulang Surah al-Ma’un dalam pengajian rutinnya tiap shubuh. Tentu saja hal ini membuat salah seorang muridnya, Sudjak protes kepada beliau. KH Dahlan balik bertanya, “apakah ayat tersebut sudah diamalkan?” Para murid kompak menjawab, “sudah diamalkan dengan dibaca tiap kali sholat”. Bukan itu yang dimaksud oleh beliau. Lantas meminta muridnya mempraktekkannya. Mempraktekkan dengan cara mencari orang miskin dan anak yatim, memberi makan-minum dan tempat tidur yang layak bagi mereka. Dalam setiap pengajiannya, beliau menyerukan agar orang yang mampu bersedia memenuhi hak dan berlaku adil kepada orang miskin, anak yatim dan orang-orang terlantar. Dari sinilah lahir gerakan pengelolaan zakat, panti asuhan, rumah orang terlantar dan rumah sakit (Matahari pembaruan: Rekam jejak K.H. Ahmad Dahlan, 2010, hal 67-68).

KH Ahmad Dahlan wafat tanggal 23 Februari 1923 dan dimakamkan di Karangkajen, Yogyakarta. Atas jasa-jasanya dalam mempelopori kebangkitan umat islam, Pada era pemerintahan Bung Karno, beliau dianugerahi gelar Pahlawan nasional yang ditetapkan dalam surat keputusan Presiden No 657 tanggal 27 Desember 1961 bersama dua orang lainnya yaitu Haji Agus salim dan dr Soetomo (Pemikiran dan Perilaku Politik Kiai Haji Ahmad Dahlan, 2012, hal 71)

Melihat rekam jejaknya, KH Ahmad Dahlan menempati tempat istimewa di kalangan Muslim modernis. Hanya saja yang agak disayangkan, beliau tidak atau amat sedikit mewariskan karya tulis untuk kita. Meskipun begitu, kata Prof Ahmad Syafi’i Maarif, hal ini tidak akan mengurangi rasa hormat kita kepada Sang pencerah ini (Muhammadiyah: Sejarah, pemikiran dan Amal usaha, hal 26).

Dari sini dapat diambil kesimpulan, bahwa pemikiran KH Dahlan dipengaruhi Timur Tengah, Jawa, Minangkabau, dan modernitas Barat. Mengambil hal-hal positif untuk berfastabiqul khairat demi terwujudnya masyarakat Islam yang bersih dari Takhayul, Bid’ah dan Khurafat. Satu lagi yang perlu diingat, kompetitornya belum tentu bisa berbuat seperti ini. Kompetitor hanya bisa melabeli gerakan Muhammadiyah dengan sebutan “kamandiyah”, “wahabi” dan label-label lainnya. Wallahu’alam bishowwab

Fadh Ahmad Arifan

Guru di MTs-MA Muhammadiyah 2, kota Malang

Facebook Comments