Kesetaraan Gender: Memperebutkan Nilai Normal dalam Sosial Masyarakat

Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Moh. Natsir, Bandung, mengadakan kembali kuliah pekanan pada Kamis malam (10/03/16). Bertempat di Ruang Seminar Besar Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Jawa Barat, Akmal, M.Pd.I. tampil memberikan ceramah dengan mengusung tema “Kesetaraan Gender”.

Mengawali kuliahnya, Akmal menguraikan benang kusut soal definisi gender yang diciptakan oleh para pengusung paham Kesetaraan Gender, yang ternyata tidak sama dengan jenis kelamin. Seks adalah istilah yang merujuk pada karakteristik biologis pembeda antara laki-laki dan perempuan, sedangkan istilah gender merujuk pada perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang diciptakan oleh konstruksi lingkungan atau sosial yang ada. Kategorisasi gender adalah feminin dan maskulin, bukan laki-laki dan perempuan. Jadi, “…karena merupakan konstruksi masyarakat, maka peran gender antara laki-laki dan perempuan boleh diputarbalikkan sesuai selera dan keperluan,” ungkapnya. Adanya konsep gender ini memunculkan kelompok sosial yang dikenal dengan sebutan Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender (LGBT).

Konsep gender tidak ada dan tidak dikenal dalam Islam. “Islam hanya membedakan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan, di mana laki-laki itu sifatnya maskulin dan perempuan sifatnya feminin. Antara jenis kelamin dan sifatnya sudah inheren. Ada kasus khusus yang disebut khuntsa, yaitu orang yang dilahirkan berkelamin ganda, namun sesungguhnya hanya satu yang berfungsi dan dia dihukumi sesuai jenis kelaminnya yang berfungsi,“ papar penggagas gerakan #IndonesiaTanpaJIL (ITJ) ini, “.. dan khuntsa ini berbeda dengan waria.”

Islam adalah agama yang sempurna dalam segala konsep, termasuk konsep perbedaan jenis kelamin. Sementara yang terjadi dalam agama Kristen adalah sebaliknya. Mereka masih bergumul dengan pemahaman tentang perempuan, sehingga pada tahun 1595 seorang profesor di Wittenberg University bahkan masih melakukan perdebatan serius untuk membahas apakah perempuan itu manusia atau bukan.

“Abad Kegelapan di Barat justru terjadi pada masa peradaban Kristen, bukan pada peradaban Yunani maupun Romawi. Pada jaman kegelapan ini terjadi penindasan perempuan yang serba brutal dan perempuan merupakan korban terbesar dari Inkuisisi. Sampai abad ke-17 di Eropa, perempuan masih dianggap sebagai jelmaan setan atau alat bagi setan untuk menggoda manusia. Ini sangat dipengaruhi oleh konsep Kristen tentang Eve yang digoda setan sehingga menjerumuskan Adam,” tutur Akmal.

Tidak heran, tambahnya, bahwa sesuai dengan pemahaman mereka tentang perempuan, kata “female” diambil dari bahasa Yunani femina, yang berasal dari kata” fe” (berarti fides, faith, ‘kepercayaan’ atau ‘iman’) dan “minus” (berarti ‘kurang’). Jadi, “femina” artinya ‘seseorang yang imannya kurang’ (one with less faith).

Seperti halnya sekularisme di Barat, feminisme juga terlahir disebabkan oleh 3 faktor yang berkaitan dengan agama Kristen, yaitu problem sejarah Kristen, problem teks Bibel dan problem teologis Kristen. Dalam kasus gerakan feminisme, Barat seolah terjebak ke dalam titik-titik ekstrim. Jika dulu mereka menindas wanita habis-habisan, maka kini mereka memberikan kebebasan tanpa batas kepada wanita.

Lebih lanjut, penulis Islam Liberal 101 ini menjelaskan bahwa feminisme berangkat dari konsep gender yang juga membuka pintu terhadap pengakuan atas hak-hak LGBT. Selain itu, kaum feminis radikal menganggap bahwa lesbianisme adalah pembebasan yang sempurna dari dominasi laki-laki.

Menjelang akhir kuliah, Akmal menegaskan pentingnya umat Islam terus ‘berperang’ melawan tuntutan kesetaraan gender. Salah satu upayanya adalah mempopulerkan istilah normalphobia sebagai pengganti LGBT. Karena pada hakikatnya, “…saat ini sedang terjadi perang nilai. Kita seolah berebut status normal dengan kaum LGBT.”

Sebagai penutup, peneliti di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) ini memberikan kesimpulan tentang feminisme. Pertama, feminisme adalah salah satu elemen pemikiran yang lahir dari konsep gender yang dikonstruksi oleh pemikiran sekuler. Kedua, feminisme menimbulkan berbagai permasalahan sosial. Ketiga, feminisme di tengah-tengah umat Muslim lahir dari pengadopsian nilai-nilai sekuler ke dalam pemikiran Islam.

Arina, salah seorang peserta, menyampaikan pemikirannya tentang nilai kebebasan yang diusung. “Gerakan-gerakan yang memperjuangkan kebebasan wanita dan hak asasi manusia justru malah membodohi dirinya sendiri. Mereka seakan-akan pahlawan namun semu, mendobrak batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah. Karena dalan Islam kebebasan adalah yang sesuai dengan fitrah manusia,” pungkas mahasiswi Teknik Lingkungan ini. [islamedia/mutia/abe]

Related Posts

Facebook Comments