Kesalahan Pemahaman Nusron Wahid Atas Al-Quran dan Konsepsinya yang Roboh

whatsapp-image-2016-10-25-at-12-11-39-pm

Islamedia Nusron tidak begitu paham dengan Al Qur’an,” ungkap Muhammad Fadhila Azka saat mengomentari pernyataan Nusron Wahid yang ditayangkan di sebuah acara di salah satu televisi swasta beberapa waktu silam. Hal itu ia ungkapkan di hadapan peserta Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Angkatan V di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan, Rabu (12/10).

Perkuliahan yang mengangkat topik “Konsep Wahyu dan Kenabian” ini menjadi lebih hidup dan mengalir dengan hangatnya kasus dugaan penistaan ayat Al-Qur’an Surat Al-Maidah oleh Gubernur DKI, Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. “Jadi enak kalau kuliah, kemarinnya ada kasus yang sesuai topik. Contoh kasus tak usah jauh-jauh,” ujar Azka dengan nada bercanda.

Azka yang merupakan penggiat komunitas #IndonesiaTanpaJIL ini menyampaikan bahwa kesalahan dasar dari pernyataan Nusron Wahid adalah menganggap Al-Qur’an sebagai teks. Karena kesalahan tersebut, konsepsi selanjutnya pun roboh dan tidak sesuai, seperti pernyataan bahwa Qur’an itu multitafsir, harus menggunakan hermeneutika, dan sebagainya.

Karena Al-Qur’an bukan sekedar teks. Al-Qur’an adalah wahyu yang dibacakan dan dihafal diluar kepala. Teks Al-Qur’an dibuat karena adanya kebutuhan untuk memudahkan,” tandas Azka.

Menurut Sarjana Teologi Islam jebolan UIN Jakarta ini, pemahaman yang benar tentang konsep wahyu dalam Islam ini sangat diperlukan. Tujuannya agar orang tidak berbicara sembarangan terkait Al-Qur’an dan menyamakannya dengan teks-teks kitab suci agama lain, apalagi dengan sembarang teks. [muamar/islamedia/abe]