Kelompok Syi’ah Ini Harus Membayar Mahal Akibat Usahanya Membela Rezim Bashar Assad

Islamedia – Seiring Perang Suriah yang akan memasuki tahun keenamnya, kelompok Syi’ah asal negara Libanon ini, harus membayar mahal karena dukungannya terhadap rezim Bashar Assad yang terus melakukan serangan tak berperikemanusiaan terhadap rakyat Suriah sendiri. Demikian kantor berita Anadolu Agency melaporkan pada Sabtu (26/12) lalu.

Hizbullah muncul pertama pada kurun 1980-an sebagai kelompok milisi Syi’ah setelah Israel menginvasi Libanon selama perang sipil 15 tahun di negeri itu.

Menurut sumber-sumber intelejen Amerika Serikat, Hizbullah dilaporkan menyebar hampir 6.000 orang anggota tempurnya di Suriah.

Sementara itu, Lembaga Pemantau HAM Suriah yang berbasis di Inggris mengungkap fakta, bahwa sejauh ini lebih dari 1.000 orang tentara Hizbullah telah mati terbunuh di Suriah. Tetapi kerahasiaan kelompok Syi’ah Hizbullah yang menutup-nutupi jumlah milisi mereka di Suriah membuat angka itu sukar diverifikasi.

Keterlibatan Hizullah dalam perang Suriah sendiri dapat diringkas sebagai berikut:

2012:
Hizbullah menyangkal laporan media internasional bahwa milisi mereka ikut bertempur di Suriah. Kelompok itu belakangan kemudian bilang bahwa pasukan mereka berada di Suriah untuk melindungi area strategis di mana warga Syi’ah tinggal.

Belakangan pada tahun yang sama, sejumlah tentara Hizbullah terbunuh di Suriah, tetapi kelompok itu masih terus mengklaim bahwa orang-orang mereka berada di Suriah hanya untuk memberikan pelatihan, seraya terus menyangkal bahwa tidak ada anggotanya yang terlibat peperangan di garis depan.

Sekjen Hizbullah mengaku tidak memberi otorisasi atas kehadiran tentara Hizbullah di Suriah. Tetapi ia sendiri mengatakan bahwa “para petempur yang mati itu” telah berperang di Suriah dalam “misi jihad.”

2013
Pada tahun ini, Hasan beralih posisi dari pernyataannya sebelumnya. Ia mengatakan bahwa Hizbullah bertempur untuk memerangi “kelompok-kelompok ekstrimis” di Suriah.

“Kami akan menang. Kami tidak akan pernah membiarkan Suriah jatuh,” kata Hasan.

Pada bulan Mei, kelompok itu mengerahkan pasukan berkekuatan penuh dan mencaplok kota strategis Al-Qusayr dari para pejuang oposisi Suriah di dekat perbatasan dengan Libanon.

Hizbullah kehilangan lebih dari 100 tentaranya dan sekira 300 lainnya mengalami luka-luka dalam pertempuran pencaplokan kota AL-Qusayr itu.

2014

Sementara kekuatan Hizbullah terus bertempur melawan kekuatan pejuang Suriah di lembah Beqaa, Idlib, Latakia, dan Aleppo, kelompok milisi itu terus menderita kehilangan banyak anggotanya.

2015

Hizbullah masih terus melanjutkan perannya sebagai backing penting bagi rezim Suriah, tetapi mereka kehilangan banyak komandan senior selama pertempuran.

(ismed/aacomtr)

Facebook Comments