Jadi Corong Pro LGBT, Begini Cara Kompas TV Menggiring Opini

Ilustrasi meme kompas TV menggiring opini pro LGBT (yesmuslim.blogspot.com)

Islamedia – Acara dialog dalam Program Khusus yang membahas tentang LGBT di Kompas TV pada Kamis (11/2/2016) lalu menuai kritik dan menjadi sorotan oleh banyak pihak, karena dalam acara itu Kompas TV dianggap melakukan penggiringan opini dengan memihak kelompok LGBT dan pro-(legalisasi) LGBT.

Hal ini menjadi perhatian serius pengamat media, salah satunya seperti diutarakan Yons Ahmad, CEO Kanet Indonesia.

Lewat tulisan, pengamat media ini mengutarakan keprihatinan dan kritikannya terhadap Kompas TV yang dianggap berupaya menggiring opini untuk mendukung kelompok LGBT.

Berikut ini tulisan lengkap Yons Ahmad, yang Islamedia kutip dari kanetindonesia.com, pada Sabtu (13/2/2016).

Penggiringan Opini Kompas TV Pro LGBT

Akhirnya, Kompas TV memberi tempat bagi kelompok pro LGBT bersuara. Mereka mendapatkan panggung pada acara yang di pandu oleh wartawan senior Rosiana Silalahi (11/2/16). Acara didominasi narasumber pro LGBT. Sementara, di pihak kontra LGBT, dipilih anggota DPR yang saya lihat tampak tak menguasai persoalan. Tapi, pada akhirnya juga, semua itu pilihan politik media. Dan Kompas TV, barangkali memang menginginkan sebuah acara yang pro atau memberikan porsi suara lebih bagi yang pro LGBT. Lantas, bagaimana kita memandangnya dalam sudut pandang kajian media? Kita lihat.

Setelah tayangan itu disiarkan dan beberapa penggalan tayangannya dimuncul di situs Youtube, banyak komentar dari netizen. Satu yang menarik, beberapa komentar muncul, menilai Kompas TV memberikan tayangan yang berat sebelah. Dari komentar ini, saya menilai betapapun media berusaha mengemas dan menggiring opini, hal ini tak bisa tiba-tiba, serta merta begitu saja bisa memengaruhi alam pikir publik. Bagi publik yang sadar media dan punya pemahaman bahwa LGBT itu problematis dan tetap perlu dicemaskan, tak serta merta setuju begitu saja tayangan Kompas TV itu. Sebuah tayangan yang jika kita tonton secara utuh jelas menggiring opini bahwa LGBT tak perlu dicemaskan.

Lalu, siapa narasumber yang diundang? Komnas Perempuan, anggota DPR, jurnalis (Gatra dan Rappler), aktivis dan pelaku LGBT. Komnas perempuan, tak perlu kita bahas karena seperti biasanya, kita sudah tahu kecenderungan alam pikirnya, anggota DPR, saya juga kurang tertarik untuk membahasnya karena memang kurang paham persoalan, 1 jurnalis Gatra netral. Nah, saya tertarik 2 narasumber yang pro LGBT, dalam hal ini Febriana, jurnalis Rappler Indonesia dan Hartoyo, pegiat LGBT dan pengelola media online Suara Kita, media yang menyuarakan kaum LGBT.

Jurnalis Rappler (Febriana), setidaknya ada dua hal yang disampaikanya (1) LGBT bukan penyakit tapi variasi alam semesta (2) LGBT bukan fenomena tapi fakta. Saat kedua pernyataan itu dilontarkan, ingatan saya langsung melayang pada diskusi sebelumnya yang digelar di LBH Jakarta bertema “LGBT Mitos dan Fakta” difasilitasi oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk). Apa yang disampaikan Febriana di Kompas persis apa yang disampaikan narasumber dalam acara di LBH itu. Dengan narasumber seorang dokter dan aktivis HAM.

Terkait dengan LGBT bukan penyakit tapi variasi alam semesta, itu disampaikan dr Ryu Hasan. Dalam acara di LBH itu, sang dokter yang juga aktif dijadikan narasumber acara diskusi Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Fredoom Institute, selain bilang kalau LGBT bukan penyakit juga serampangan mengatakan pada awalnya dalam janin semua perempuan, jadi kalau setelah lahir dan besar ada laki-laki yang berperilaku seperti perempuan, pada dasarnya itu kembali ke fitrah. Ya, bagi saya kesimpulan demikian serampangan. Seserampangan sang dokter ini yang pernah terjerat kasus plagiat karena menggunakan karya orang lain dalam presentasinya. Terkait dengan LGBT bukan fenomena tapi fakta, ini juga pernah disampaikan Daniel Awigra (Human Right Working Group) yang hadir sebagai pembicara dalam diskusi di LBH. Rupanya, diskusi tentang LGBT yang digelar Sejuk itu manjur juga merasuki pikiran wartawan.

Tapi, sebagai jurnalis, Febri juga memosisikan sebagai blogger. Pernah menulis artikel yang mengritik Koran Republika ketika membuat headline “LGBT Ancaman Serius”. Dia melontarkan kritik dengan artikel “Radikalisme dan LGBT, Mana Ancaman yang Lebih Serius”. Artikel inilah yang menarik perhatian Rosiana, pemandu acara di Kompas TV mengundangnya. Padahal LGBT dan radikalisme dua isu yang berbeda. Barangkali memang beginilah persaingan dalam industri media. Anda mengritik habis Republika, kemudian Anda jadi narasumber “istimewa” di Kompas, “rival” bisnis dalam industri media. Ibarat kata tokoh pegiat sosial media Ulin Yusron yang begitu gencar mengritik dan mencaci Prabowo lalu dengan suka cita pemerintahan Jokowi mengundangnya makan di istana.

Sementara, Hartoyo, jelas membela LGBT dalam opininya, tapi yang menarik, dia berdandan pakai kopiah putih dan baju koko yang mengesankan layaknya orang-orang sholeh muslim setiap datang shalat ke masjid. Dia bercerita, dengan mata berkaca-kaca bagaimana perlakuan masyarakat terhadap kaum minirotas LGBT. Membuat orang yang menonton acaranya mungkin iba dan simpatik. Tapi, hasil “investigasi” media Suara Islam, Hartoyo ini juga tokoh yang pernah bersuara kencang, mendemo Front Pembela Islam (FPI), komunitas yang baginya berbeda pandangan untuk dibubarkan. Padahal kita juga tahu FPI ini juga kelompok minoritas di kalangan umat Islam. Jadi retorika pembelaan atas nama minoritas ini total hampa.

Tapi, pada akhirnya dalam industri media, membela LGBT, memberikan ruang kepada pembelanya, barangkali menjadi isu yang “seksi”. Dan Kompas TV, memilih melakukan politik media semacam ini.

Belum lagi terbongkar kabar, seperti diberitakan Detik (12/2/16) bahwa UNDP kucurkan 108 M untuk dukung LGBT di Indonesia dan 3 negara di Asia. Tentu saja kabar ini begitu mengiurkan bagi media, LSM, aktivis HAM, atau tokoh-tokoh pro LGBT untuk mengaksesnya. Yang, tentu dengan syarat pro LGBT dan bersedia mengkampanyekannya.

Itu sebabnya, ketika media mainstream (arus utama) ramai-ramai membela LGBT, sudah tepat juga media-media “alternatif” semisal media-media Islam, terutama media online, untuk tetap terus memberitakan LGBT sebagai problem yang perlu ditolong. Diberikan alternatif jalan keluar dan disembuhkan, agar harmonisasi masyarakat kembali tercipta, bukan justru memberi ruang bagi penyimpangan pemikiran dan laku yang terang benderang.

Sementara, di era kebebasan informasi sekarang ini, memang tak terhindarkan, media memainkan “agenda setting” sendiri-sendiri. Dalam kajian media, seperti dalam buku “Agenda Setting Media Massa” (Apriadi: 2012) dikatakan bahwa harus diakui jika media massa memiliki kekuatan besar memengaruhi opini publik. Agenda setting bergerak dalam tiga hal (1) agenda media melalui penonjolan isu-isu tertentu melalui berita, (2) agenda publik yaitu sikap masyarakat terhadap suatu isu (termasuk narasumber yang dipilih media-pen), (3) agenda kebijakan sebagai respon sikap pemerintah atas berkembangnya suatu isu.

Media pro LGBT melakukan ini. (1) Memberikan suara lebih bagi LGBT, terutama pelaku atau komunitas LGBT, (2) Memberikan porsi lebih, memberikan panggung bagi aktivis pro LGBT, (3) Mendorong pemerintah untuk bersikap terhadap LGBT. Awalnya mungkin didorong untuk melindungi, memberikan kebebasan berpendapat dan memilih jalan hidupnya, seterusnya bisa jadi mendorong pelegalan perkawinan sesama jenis melalui Undang-Undang tertentu dst. Begitu kira-kira arah penggiringan opini dijalankan oleh media.

Yons Achmad
@kanetindonesia

[islamedia/yons/YL]

Facebook Comments