Istisqa, Saatnya Kita Merendahkan Diri di Hadapan Allah

Islamedia – Ada saat ketika pakaian yang indah sepatutnya tidak kita kenakan dan wewangian kita jauhi. Di saat itu, yang lebih utama adalah mengenakan pakaian sehari-hari yang sederhana dan bahkan cenderung lusuh. Ini bukan karena kita tidak syukur nikmat, bukan pula karena tidak mengagungkan ibadah shalat, tetapi untuk lebih menundukkan hati merendahkan diri sehingga semakin terasa betapa kita menghajatkan pertolongan Allah Ta’ala.

Adakah engkau datang mengiba kepada Allah Ta’ala sedangkan masih bertabur kemegahan dan kebanggaan dengan apa yang ada pada diri kita? Kita ini amat fakir, tak berdaya jika bukan karena izin Allah ‘Azza wa Jalla. Maka di saat kekeringan hampir-hampir membuat kita tak mampu bernafas, anak-anak semakin berat karena panas yang menyengat, dan udara semakin sulit kita hirup, inilah saatnya kita datang dengan wajah merunduk dan mulut mengucap istighfar; memohon ampun kepada Allah Ta’ala.

Di hari itu, sepatutnya kita tidak saling membanggakan diri, tidak pula berpanjang-panjang kalam mengenalkan imam dan khatib dengan penuh kebanggaan untuk menunjukkan kehebatannya karena diundang dari jauh. Ini adalah saat yang seharusnya kita penuhi dengan kesadaran untuk menundukkan hati merendahkan diri di hadapan Allah Yang Maha Mulia. Tak ada yang hebat selain Allah ‘Azza wa Jalla.

Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi menerangkan di dalam Fathul Qarib bahwa saat melakukan shalat istisqa untuk meminta hujan kepada Allah Ta’ala, khatib berjalan bersama masyarakat yang akan bersama-sama menunaikan shalat dalam keadaan tidak memakai wewangian, tidak berhias dan memakai pakaian sehari-hari (ثِيَابِ بِذْلَةِ). Berjalan tenang, merunduk, merendahkan diri, mengingati salahnya diri… Kita tidak pernah tahu do’a siapa yang paling mendatangkan kasih-sayang Allah ‘Azza wa Jalla.

Inilah saat yang sangat khusus. Di hari itu, kita sepatutnya berdo’a dengan menadahkan tangan tinggi-tinggi, lebih tinggi dibandingkan saat biasanya kita berdo’a. Kita angkat tangan kita hingga melebihi kepala kita. Sementara kerasnya hati ini kita lunakkan dengan istighfar. Khatib dan imam ketika itu sepatutnya yang paling banyak gemetar dan ia sedang menghadap Yang Maha Besar. Kita tunduk sembari menelisik diri.

Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يا معشر المهاجرين: خمس إذا ابتليتم بهن وأعوذ بالله أن تدركوهن: لم تظهر الفاحشة في قوم قطُّ حتى يعلنوا بها إلاَّ فشا فيهم الطاعونُ والأوجاعُ التي لم تكن مضت في أسلافهم الذين مَضَوا.ولم ينقصوا المكيال والميزان إلا أُخذوا بالسنين وشدة المؤونة وجَوْر السلطان عليهم. ولم يَمْنعوا زكاة أموالهم إلا مُنعوا القطرَ من السماء، ولولا البهائمُ لم يُمطروا. ولم ينقضوا عهد الله وعهد رسوله إلا سلّط الله عليهم عدوًّا من غيرهم فأخذوا بعض ما في أيديهم. وما لم تحكم أئمتهم بكتاب الله ويتخيروا مما أنزل الله إلا جعل الله بأسهم بينهم

“Wahai sekalian kaum muhajirin, kalian akan diuji dengan lima perkara dan aku memohon perlindungan Allah agar kalian tidak ditimpa hal-hal tersebut. [1] Ketika perbuatan keji merajalela di tengah-tengah kaum hingga mereka berani terang-terangan melakukannya, akan menyebar penyakit menular dan kelaparan yang belum pernah mereka alami sebelumnya. [2] Ketika orang-orang gemar mencurangi timbangan, akan ada tahun-tahun yang menjadi masa sulit bagi kaum muslimin dan penguasa berbuat jahat kepada mereka. [3] Ketika orang-orang enggan membayar zakat, air hujan akan ditahan dari langit. Andaikata bukan karena hewan-hewan ternak, niscaya hujan tidak akan pernah turun. [4] Ketika orang-orang mengingkari janji terhadap Allah dan Rasul-Nya, Allah akan menjadikan musuh dari selain mereka berkuasa atas mereka, kemudian mengambil sebagian apa yang ada di tangan mereka. [5] Ketika para penguasa tidak berhukum dengan Kitab Allah dan mereka memilih selain dari apa yang diturunkan oleh Allah, Allah akan menjadikan kehancuran mereka dari diri mereka sendiri.” (HR. Ibnu Majah).

Adakah ini pada diri kita?

Istisqa. Inilah shalat yang khutbahnya pun dipenuhi do’a-do’a dan permohonan ampun atas khilaf dan salahnya diri. Bukan sibuk menyalahkan. Inilah saatnya kita merendahkan diri.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata:

إن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج متبذلا متواضعا متضرعا حتى أتى المصلى فلم يخطب خطبتكم هذه ، ولكن لم يزل في الدعاء ، والتضرع ، والتكبير ، وصلى ركعتين كما كان يصلي في العيد

“Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam berjalan menuju tempat shalat dengan penuh ketundukan, tawadhu’, dan kerendahan hati hingga tiba di tempat shalat. Lalu beliau berkhutbah tidak sebagaimana biasanya, melainkan beliau tidak henti-hentinya berdo’a, merendah, bertakbir dan melaksanakan shalat dua raka’at sebagaimana beliau melakukan shalat ‘Id.” (HR. Tirmidzi).

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu mengabarkan kepada kita tentang istisqa ini. Perhatikan baik-baik. Beliau berkata:

خَرَجَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مُتَوَاضِعًا، مُتَبَذِّلًا، مُتَخَشِّعًا، مُتَرَسِّلًا، مُتَضَرِّعًا، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ، كَمَا يُصَلِّي فِي اَلْعِيدِ، لَمْ يَخْطُبْ خُطْبَتَكُمْ هَذِهِ –رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَأَبُو عَوَانَةَ، وَابْنُ حِبَّانَ

“Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam keluar dengan rendah diri, berpakaian sederhana, khusyu’, tenang, berdo’a kepada Allah, lalu beliau shalat dua raka’at seperti pada shalat hari raya, beliau tidak berkhutbah seperti pada shalat hari raya, beliau tidak berkhutbah seperti khutbahmu ini.” (HR. Imam Lima dan dinilai shahih oleh Tirmidzi, Abu Awanah, dan Ibnu Hibban).

Saat berangkat melaksanakan istisqa, semua yang memungkinkan berangkat diajak untuk turut serta; anak-anak, lansia, bahkan binatang ternak, termasuk ibu-ibu yang sedang hamil tua. Kita tidak pernah tahu, di saat itu siapa yang lebih tulus do’anya dan lebih mendalam permohonannya kepada Allah Ta’ala.

Wallahu a’lam bish-shawab. Yang jelas, dosa kita semakin bertumpuk. Maka kepada Allah Ta’ala kita memohon ampun. Dan kita berusaha menahan diri agar tidak berbangga-bangga apabila Allah Ta’ala turunkan hujan seketika. Boleh jadi diturunkannya hujan oleh Allah Ta’ala saat itu, bukanlah karena kita yang memimpin do’a dan berkhutbah, melainkan justru karena do’a tulus orang-orang yang tersisih.

Maka sekali lagi, kita memohon ampun kepada Allah Ta’ala:

اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ أَنَّهُ كَانَ غَفَّارًا وَيُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا الآيَةَ

“Aku meminta ampun kepada Allah Yang Maha Agung, tidak ada tuhan selain Ia, Yang Maha Hidup dan Mengatur, dan aku bertaubat pada-Nya.”

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَإِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونٍ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar dapat melakukan perbuatan baik, meninggalkan perbuatan buruk (munkar) dan mencintai kaum fakir miskin. Apabila Engkau hendak menimpakan ujian (fitnah) pada para hambaMu maka cabutlah nyawaku dalam keadaan selamat dari fitnah.” (HR. Tirmidzi).  (islamedia/js)

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
(Pelayan dan guru motivasi di Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu)

Facebook Comments