Intifadhah dan Boikot Dunia Internasional, Efektif Menekan Israel

Kampanye Boikot Produk Israel (palestinecampaign.org)

Islamedia – Intifadhah Al-Quds saat ini memasuki bulan ke-6. Dengan kinerja serangan yang merata di Palestina, sistem keamanan Israel terguncang dan memukul sektor wisata Israel.

Entitas penjajah zionis ini makin kewalahan karena gerakan boikot dunia internasional terhadap mereka juga makin menguat. Tak ayal Israel merasa berada antara dua himpitan antara blokade dunia internasional dan tekanan dalam negeri.

Seperti dilansir Infopalestina, Jum’at (11/3/2016), meningkatnya aksi serangan intifadha mendorong kementerian pariwisata Rusia meminta kepada warganya dan pejabatnya di Israel untuk meningkatkan kesiagaan dan tidak datang ke tempat-tempat keramaian dan mendengarkan intruksi badan keamanan Israel, hal ini diungkapkan situs Israel NRG.

Serangkaian aksi serangan intifadha beberapa bulan terakhir ini mampu mengguncang keamanan Israel di seluruh wilayahnya. Para pelaku serangan mampu melewati perlintasan dan pagar keamanan Israel dan melakukan aksinya. Israel semakin khawatir jika aksi-aksi akan berkembang menjadi aksi terorganisir.

Situs NRG mengisyaratkan, seorang anggota militer Israel dari Texas bernama Taylor Alien Fors terbunuh saat berada di Yafa, wilayah Palestina bagian utara yang dijajah Israel oleh aksi penikaman pada selasa lalu. Pelaku yang berasal dari Qalqilia ini berhasil memasuki wilayah itu walau tidak memiliki izin masuk Israel.

Media Israel menyatakan, korban tewas warga Amerika itu meraih sarjana di akademi militer di West Point dan bekerja di militer AS di bagian pasukan artileri dari 2009-2014 dan ikut perang Irak dan Afganistan.

Sementara itu, dampak boikot dunia internasional terhadap Israel mulai membuahkan hasil dalam mengisolasi negara zionis ini.

Koran Israel Haaretz mengungkap, perusahaan security Inggris G4S akan menutup perwakilannya dan menjual asetnya di Israel karena tekanan dari Gerakan Boikot Internasional atas Israel (Boycott and Sanction) agar menghentikan kerjasama dengan Israel.

Perusahaan ini beroperasi di Israel dengan 8 ribu pegawai dengan omset 100 juta pounsterling atau setara 142 juta dolar AS. Investasi perusahaan ini di luar negeri dalam jangka dekat bisa tembus 250-350 juta pounsterling.

Koran ini menambahkan, perusahaan G4S ini sudah benar-benar menjual aset di Israel karena takut mengalami kerugian jika berlanjut beroperasi di Israel. Sebab, perusahaan ini menuai kritikan keras karena ikut mengamankan perusahaan-perusahaan Israel dan fasilitasnya di Tepi Barat baik dalam perawatan peralatan atau alat pendeteksi dan pemasangan perlintasan militer atau memasang alat pengaman di penjara Israel Over tempat penahanan tawanan Palestina.

Sekjen Partai Prakarsa Nasional Palestina, Dr. Mustafa Barghoti menegaskan, hengkangnya perusahaan G4S Inggris dari Israel merupakan kemenangan baru bagi gerakan boikot dunia internasional terhadap Israel. sekaligus menunjukkan efektifnya gerakan boikot dan akan memukul ekonomi Israel. [islamedia/infopalestina/YL]

Facebook Comments