Inilah Penjelasan Syar’i tentang Larangan Umat Islam Ikut Merayakan Imlek

Inilah Penjelasan Syari tentang Larangan Umat Islam Ikut Merayakan Imlek

Islamedia – Tahun baru Imlek setiap tahun dirayakan oleh sebagian besar etnis China dan tidak sedikit umat Islam ikut serta merayakanya, bagaimana sebenarnya ajaran Islam melihat fenomena ini, apakah Umat Islam diperbolehkan atau dilarang?

Sebelum membahas lebih jauh tentang Imlek, ada baiknya kita baca dan renungkan kembali Sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi : “Sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan kaum sebelum kalian, sama persis sebagaimana jengkal tangan kanan dengan jengkal tangan kiri, hasta kanan dengan hasta kiri. Sampai andaikan mereka masuk ke liang biawak, kalian akan mengikutinya.” (HR. Bukhari 3456, Muslim 2669 dan yang lainnya).

Hadits tersebut disampaikan dalam konteks agama Yahudi dan Nasrani, namun demikian pesan yang terkandung dari sabda Nabi ini adalah hendaknya Umat Islam untuk tidak ikut-ikutan tradisi atau budaya dari keyakinan agama lain selain Islam.

Ketika membahas tentang Tahun Baru Imlek, pemahaman kita harus menyeluruh tentang sejarah Imlek itu sendiri. Imlek merupakan tradisi dari tradisi Konfucian (Rujiao / Kongjiao), tahun baru Imlek dihitung mulai dari hari kelahiran Nabi Kongzi tahun 551 SM.

Sangat  jelas bahwa dasar utama perayaan Tahun Baru Imlek bukan semata-mata berlatarbelakang keduniaan, seperti hari kemerdekaan, namun merupakan hari perayaan yang dilatarbelakangi ideologi agama Khonghuchu. Sehingga anggapan bahwa imlek tidak ada sangkut pautnya dengan agama tertentu adalah anggapan yang jelas bertentangan dengan realita sejarah.

Dengan demikian, turut memeriahkan hari raya ini, apapun bentuknya, meskipun hanya memerahi depan rumah, berarti kita telah melanggar ancaman yang dinyatakan dalam hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من تشبه بقوم فهو منهم

Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (HR. Abu Daud 4031 – hadis shahih).

Termasuk melanggar larangan yang disebutkan dalam keterangan dari Abdullah bin Amr bin Ash,

من بنى بأرض المشركين وصنع نيروزهم ومهرجاناتهم وتشبه بهم حتى يموت خسر في يوم القيامة

Siapa yang tinggal di negeri kafir, ikut merayakan Nairuz dan Mihrajan (hari raya orang majusi), dan meniru kebiasaan mereka, sampai mati maka dia menjadi orang yang rugi pada hari kiamat.”

Untuk disebut memeriahkan hari raya orang kafir, tidak harus dengan mengikuti ritual mereka. Sebatas turut merasa gembira, senang, dan bahagia dengan kehadiran perayaan orang kafir, sudah bisa dianggap bentuk memeriahkan hari raya mereka. Sekali lagi, meskipun isinya hanya main-main, bergembira-ria, tanpa ada ritual apapun.

Sebagai perbandingan, mari kita simak keterangan Anas bin Malik, ketika Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah,

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang di kota Madinah, penduduk kota tersebut merayakan dua hari raya, Nairuz dan Mihrajan. Menyadari hal ini, beliau bersabda di hadapan penduduk madinah,

قدمت عليكم ولكم يومان تلعبون فيهما إن الله عز و جل أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الفطر ويوم النحر

Saya mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari raya, yang kalian jadikan sebagai waktu untuk bermain. Padahal Allah telah menggantikan dua hari raya terbaik untuk kalian; Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasa’i dan yang lainnya).

Nairuz adalah perayaan tahun baru masyarakat persia, sementara Mihrajan adalah perayaan menyambut musim panen. Perayaan Nairuz dan Mihrajan yang dirayakan penduduk madinah, isinya hanya bermain-main dan makan-makan. Sama sekali tidak ada unsur ritual sebagaimana yang dilakukan orang majusi, sumber asli dua perayaan ini. Meskipun demikian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melarangnya. Padahal mereka sama sekali tidak melakukan ritual apapun pada hari raya itu. Sebagai gantinya, Allah berikan dua hari raya terbaik: Idul Fitri dan Idul Adha.

Untuk itu, turut bergembira dengan perayaan orang kafir, meskipun hanya bermain-main, tanpa mengikuti ritual keagamaannya, hukumnya telarang, karena termasuk turut mensukseskan acara mereka.

dikutip dari penjelasan Ustadz Amm Nur Baits konsultasisyariah.com

Related Posts

Facebook Comments