Erdogan, Diantara Beratnya Perjuangan dan Pedihnya Fitnah

Erdogan berdialog dengan rakyatnya (inet)

Islamedia – 29 Oktober lalu, diperingati sebagai hari lahirnya Republik Turki. Tepatnya 29 Oktober 1923, Republik Turki dideklarasikan dengan menenggelamkan Ottoman Empire secara resmi.

Sultan Abdul Hamid dilengserkan. Kemal Attaturk berkuasa setelah melakukan serangkaian “perang” pencitraan, melalui ragam kemenangan militer. Kemenangan yang disambut gempita pendukungnya, yang tiada lain kaum pecundang yang kalah di Balkan, Libia, Perang Dunia I, dan Istambul dianeksasi asing.

Seluruh keluarga Otsmani diusir. Jika melawan, dituduh antipemerintah. Ataturk pun merekayasa pelbagai ledakan di seanter Turki. Tentu kambing hitamnya adalah keluarga Sultan. Prahara berakhir dengan pengusiran seluruh keluarga Sultan, ke tempat antah berantah.

15 tahun Attaturk berkuasa. Wafat tahun 1938. Namun dalam masa 15 tahun itu, ia sukses melakukan revolusi mental di kalangan bangsa Turki yang Islami.

Perubahan yang dilakukannya yaitu :

1. Menghapus syariah kerajaan dan tidak ada lagi jabatan kekhalifahan;
2. Mengganti hukum-hukum Islam dengan hukum-hukum Italia, jerman, dan Swiss;
3. Menutup beberapa Masjid dan Madrasah;
4. Mengganti agama Negara dengan sekularisme;
5. Mengubah azan ke dalam bahasa Turki;
6. Melarang pendidikan agama di sekolah umum;
7. Melarang kerudung bagi kaum wanita dan pendidikan terpisah;
8. Mengganti naskah-naskah bahasa Arab dengan bahasa Roma.

Sekularisme menjadi ideologi Turki, menyingkirkan cahaya Khilafah 600 tahun lamanya. Pasca kematian Ataturk, Perdana Menteri terpilih Adnan Menderes, melakukan serangkaian pemulihan aktivitas keagamaan yang dilarang oleh sang Diktator. Adnanpun akhirnya digulingkan dan digantung militer, 1960.

Tahun 1971, militer melakukan kudeta dan membubarkan Parlemen. Partai Ketertiban Nasional (MNP) yang dipimpin Erbakan dibubarkan. Serangkaian kekacauan politik domestik dan ancaman kudeta kalangan kiri di tubuh militer menjadi justifikasi.

Disusul 1980, militer kembali melakukan kudeta dengan dukungan AS. AS tidak ingin kehilangan sekutu dekatnya, Turki dan kepentingannya di Timur Tengah ditengah ketakutan ancaman Revolusi Iran dan instabilitas domestik. Pemerintahan Sulaymen Demirel dari CHP yang berkoalisi dengan Partai Islamis, Partai Keselamatan Nasional bentukan baru Erbakan kembali dibubarkan. Ribuan orang ditahan dan dieksekusi militer.

Seiring dengan dipulihkannya hak-hak politiknya, Erbakan melalui Refah Partisi (Partai Kesejahteraan) menjadi PM pertama dari kalangan Islamis dengan dukungan Partai Jalan Kebenaran, Tancu Cyller. Militer sekali lagi melakukan kudeta. Afiliasi Erbakan dengan Islam murni menjadi alasan di balik kudeta tersebut. Erbakan dilarang berpolitik disepanjang hidupnya.

Erbakan membuktikan ia adalah arsitek jenial gerakan Islam di Turki. Terbukti, lahirlah sosok Erdogan yang memiliki kemampuan beradaptasi dengan turbulensi politik dan ekstrimitas sekularisme Turki.

Erdogan mengubah langkah pendekatan dari cenderung konfrontatif menjadi kultural yang evolutif. Baginya, kemenangan Islam dan gerakan Islam hanya masalah waktu. Berulang kali kudeta, gerakan Islam justru semakin kokoh dan publik semakin melek.

Pantaskah Erdogan dijuluki agen AS dan antek Barat? Padahal Wikileaks melaporkan, Kedubes AS menjuluki Erdogan sebagai “Rezim Islamis”.

Lantas, wajarkah jika Erdogan disebut koruptor seperti disebar majalah Al-Wa’ie milik HT? Ternyata Wikileaks mengungkapkan. Erdogan memiliki 8 rekening di bank Swiss. Namun isi rekening adalah biaya pendidikan untuk ke-4 anak Erdogan dari teman-teman pengusahanya, atas dasar kesetiakawanan.

Fakta di lapangan, Erdogan telah mengembalikan kejayaan Utsmani dengan mengoptimalkan demokrasi. Tinggal yang tersisa, Erdogan mengembalikan khalifah sebenarnya untuk menyinari dunia.

Pertanyaannya, mengapa hanya Erdogan yang selalu diserang? Kita patut curiga, who is behind? Untuk siapa tuduhan korupsi dan antek AS itu disuguhkan? Kita pun paham bukan.

[Nandang Burhanudin]

Facebook Comments