Berita Relawan ACT Meninggal Terkena BOM di Suriah Ternyata HOAX

Berita Relawan ACT Meninggal Kena BOM di Suriah Ternyata HOAX

Islamedia – Beredar kabar bahwa salah satu relawan Aksi Cepat Yanggap (ACT) meninggal dunia akibat serangan BOM saat membawa dana bantuan ke Suriah. Informasi ini diunggah ke media sosial oleh akun bernama Moh Choiruddin pada hari kamis (12/5/2016).

Netizen tanpa melakukan klarifikasi kepihak yang besangkutan dan secara massif ikut menshare informasi tersebut. Hingga berita ini dimuat jum’at(13/5/2016). lebih dari 2200 netizen telah mensharenya.

hoax
Informasi HOAX

Menyikapi informasi yang beredar bahwa relawanya meninggal dunia, ACT kemudian melakukan klarifikasi dan menegaskan bahwa informasi tersebut tidak lah benar alias HOAX. Foto yang beredar itu diambil saat sejumlah relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama aktivis Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Jakarta Raya turun ke jalan di momen Car Free Day (CFD), Jakarta, ahad (8/5/2016).

Berikut Klarifikasi lengkap ACT yang sudah dimuat di website resminya act.id dan dishare di Fan Page Facebook resmi ACT.

Foto yang Telah Menunjukkan “Jubah Kebesaran” Bangsa Ini…

Sebuah kombinasi jepretan fotografer dan penghayatan seorang pemain teater, memicu simpati yang begitu besar. Foto tersebut memperlihatkan seorang relawan ACT terkapar di atas aspal, dengan tubuh ‘bersimbah darah’. Ekspresi wajah sang relawan pun sempurna, memperlihatkan rasa sakit atau pingsan, atau tewas di tempat. Reaksi publik, sungguh di luar dugaan. Penghuni jagad media sosial menilai foto itu peristiwa nyata. Seorang relawan disangka syahid tertembak!

Foto tersebut satu dari puluhan jepretan fotografer yang tersebar di media daring. Sejatinya foto itu diambil saat sejumlah relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama aktivis Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Jakarta Raya turun ke jalan di momen Car Free Day (CFD), Jakarta, Minggu, ( 8/5). Aksi itu dalam rangka kampanye kepedulian terhadap warga sipil Suriah yang menjadi korban serangan brutal militer rezim Suriah dengan sekutunya Rusia di Kota Aleppo. Ratusan korban sipil, baik orang dewasa maupun anak-anak, tewas dan alami luka-luka berat.

Para relawan melakukan aksi teatrikal outdoor yang cukup sempurna. Aksi teatrikal yang menggambarkan betapa memerah darah di Suriah. Jika ada kekeliruan dalam happening art tersebut, mungkin terkait kostum. Relawan yang berpura-pura jadi korban kekejaman rezim Suriah, memakai rompi ACT. Hingga banyak netizen meminta konfirmasi apakah itu seorang relawan ACT syahid tertembak saat bertugas. Padahal itu hanya penggambaran korban sipil Suriah yang tewas diberondong peluru.

“Kepada netizen atau pun pembaca berita tentang aksi kami di hari Minggu tersebut, kami perlu klarifikasi, bahwa foto-foto itu hanya ingin memberi gambaran bahwa kondisi Suriah, khususnya Kota Aleppo yang porak-poranda saat ini, dengan korban rakyat sipil, sangat memprihatinkan. Bahkan kami meyakini kondisi yang menimpa saudara-saudara kita di sana, lebih menyedihkan ketimbang apa yang coba kami ekspresikan di sini,” ujar Direktur Komunikasi ACT, Iqbal Setyarso, Rabu (11/5).

Foto-foto aksi teatrikal tersebut memang sangat atraktif. Sebuah status relawan yang mengunggah foto-foto tersebut, bahkan menuai hingga 400 sharing dari netizen lainnya.

“Kami menilai fenomena ini adalah sebuah respon kepedulian yang luar biasa dari masyarakat. Dukungan terhadap saudara-saudara kita di Suriah yang menjadi korban kekejaman diktator Bashar Al-Assad, tak bisa dipungkiri di luar dugaan. Masyarakat dengan sukarela men-share informasi ajakan kepedulian kepada sesama sedemikian rupa,” imbuh Iqbal. Siapapun pasti perasaannya tercampur-aduk oleh reaksi masyarakat yang betapa di tengah kesusahan pun, masih punya waktu untuk membantu sesama, dengan cara apapun, minimal dengan doa dan membantu mengkampanyekan kepedulian terhadap sesama manusia. Walaupun masyarakat Indonesia, kata Iqbal, dipisahkan oleh jarak namun hati mereka tetap dekat dengan warga Suriah.

Iqbal menambahkan, kepedulian masyarakat Indonesia terhadap masalah-masalah kemanusiaan dunia harus diakui makin menguat sejak 10 tahun terakhir. ACT sebagai salah satu agen perubahan sosial di negeri ini sangat mensyukuri fenomena ini.

“Ini wajib disyukuri dan terus dipupuk. Bangsa ini harus menunjukkan kebesarannya dengan kepribadiannya yang sejati, yakni bangsa yang penuh kepedulian,” ujar Iqbal lagi. Dengan kepribadian yang sudah pasti positif ini, kita boleh berharap negeri yang juga tak kalah dasyat mengalami problem-problem kemanusiaan ini, seperti korupsi yang membudaya, moralitas remaja yang ambruk, budaya konsumtif yang merusak kedermawanan sosial, kejahatan asusila dengan korban perempuan di bawah umur, dan lain-lain, oleh Allah dijadikan “jembatan” bagi kita mendapat ampunan-Nya dan solusi bagi problem-problem kemanusiaan kita sendiri.

[islamedia/act]

Related Posts

Facebook Comments